Haji dari Zaman ke Zaman

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SEBAGAI bagian dari rukun Islam,pelaksanaan ibadah haji sudah berlangsung 14 abad yang lalu.

Umat Islam yang sudah berhaji pun tak terhitung lagi jumlahnya, dimulai sejak jauh sebelum kemerdekaan. Oleh karena itu, umat Islam memiliki cerita dan ingatan kolektif suka-duka pergi haji yang disampaikan secara turun-temurun. Hanya saja, untuk anak-anak kota yang sudah terbiasa bepergian ke luar negeri, mungkin mereka tidak melihat langsung bagaimana masyarakat di desa mempersiapkan diri ketika hendak pergi haji. Juga betapa meriahnya ketika acara penyambutan kembali ke kampung halaman. Bepergian haji dengan naik kapal laut dan pesawat terbang masing-masing memiliki cerita suka duka tersendiri.

Konon dengan kapal laut itu sedikitnya memakan waktu tiga bulan. Oleh karenanya ikatan persahabatan antarsesama mereka menjadi sangat akrab. Sampai-sampai perjalanan haji menjadi ajang untuk menjodohkan keluarga mereka. Membayangkan betapa berat dan bahayanya menyeberangi lautan ketika melepas rombongan haji, sanak keluarganya secara mental sudah siap andaikan pelepasan itu merupakan perjumpaan terakhir. Mereka sudah rida kalau keluarganya meninggal di Arab Saudi atau dalam perjalanan. Semuanya ikhlas, meninggal dalam perjalanan haji diyakini sebagai mati syahid, langsung masuk surga. Bagi orang tua yang pergi haji, ada yang sebelumnya sudah membereskan semua urusan harta warisnya dengan harapan kalau mati tidak meninggalkan fitnah.

Kalaupun dengan selamat kembali ke rumahnya, dia tidak mau lagi disibukkan oleh urusan dunia. Yang diperbanyak hanyalah ibadah. Sekarang dengan pesawat terbang lain lagi ceritanya. Tidak semua orang yang pergi haji adalah orang kaya. yang menabung belasan tahun. Bahkan pergi lintas pulau saja belum pernah. Bayangkan, bagaimana perasaan mereka ketika pergi jauh dengan menggunakan pesawat terbang. Di samping niat ibadah, perasaan rekreasi juga muncul. Pergi jauh naik pesawat, bersama teman-teman lama dan kenalan baru, semuanya sudah ada yang mengurus dan membimbing. Sungguh suatu peristiwa hidup yang sangat mengesankan.

Dalam usianya yang ke-88 tahun, ayah saya kalau diajak cerita pengalaman haji seketika berseri-seri. Saya yakin banyak orang tua lain yang akan merasakan hal serupa setiap diingatkan pengalaman ibadah hajinya. Serasa mimpi yang sangat indah dan ingin selalu diulang-ulang kalau saja memungkinkan. Banyak calon jamaah haji sebelum naik tangga pesawat menatap seluruh badan pesawat lama-lama, mungkin saja kagum dan tak percaya bahwa burung besi sebesar itu bisa terbang mengangkut dirinya dan kawan-kawan,  mengingatkan mereka tentang cerita mikraj Rasulullah naik burung buraq. Dan ketika sudah mendarat di Jeddah, lagi-lagi mereka hampir-hampir tidak percaya sudah menginjakkan kaki di tanah Arab.

Memasuki Kota Mekkah atau Madinah untuk yang pertama umumnya sangat tergetar hatinya. Tidak mampu menahan air mata, rasa syukur, kagum, tidak percaya, bahwa akhirnya akan tercapai juga untuk memenuhi rukun Islam kelima yang puluhan tahun didambakan. Begitu masuk Masjidilharam melihat Kakbah, subhanallah … lidah sulit untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran kecuali memuji Allah dengan disertai linangan air mata. Muncul perasaan, Masjidilharam adalah batas akhir dunia, tapi juga belum masuk alam akhirat. Perasaan berada di wilayah perbatasan antara dunia dan akhirat.

Dengan pakaian ihram, tak ubahnya kain kafan, seakan kita sudah jadi mayit memasuki orbit akhirat, tapi juga sadar bahwa kita masih di dunia. Seseorang tidak membawa apa-apa, kecuali kain kafan dan rekaman amal perbuatannya selama hidup. Makanya berbahagialah mereka yang sepulang haji melakukan transformasi diri, sebuah pertobatan untuk menemukan kembali kefitriannya. Di antaranya dengan melunasi semua utang-utangnya, utang pada negara, masyarakat,  keluarga, dan Tuhan. Haji bukanlah sarana untuk pemutihan dosa-dosa sosial. Berhaji tidak bisa menghapus perkara perdata dan pidana. Tapi momentum penyadaran diri untuk melakukan perubahan dan perbaikan diri.

Sekian banyak pesan moral haji realisasinya bukan di Mekkah-Madinah, melainkan dalam panggung kehidupan sehari-hari setiba di Tanah Air. Pesan dan nilai-nilai haji itu abadi, perenial, sejak Nabi Ibrahim sampai sekarang, sebagaimana juga tema-tema pokok pergulatan hidup dari zaman ke zaman juga tidak berubah. Hanya kemasan dan sarananya yang mengalami perubahan. Peristiwa kelahiran dan kematian tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Pencarian makna hidup selalu melekat pada diri manusia. Haji adalah satu metode yang Tuhan ajarkan kepada Ibrahim untuk menyadarkan bahwa manusia adalah makhluk peziarah, makhluk yang selalu mencari makna hidup.

Makhluk yang senantiasa merindukan kampung Ilahi tempat kita semua berasal. Rohani kita senantiasa bertanya, ibarat seruling bambu Rumi yang menangis merindukan kapan berkumpul kembali ke rumpun asalnya bersama yang lain. Kalau saja panggung dunia ini merupakan awal dan akhir kehidupan, betapa absurdnya drama hidup anak manusia. Sungguh kasihan mereka yang tidak berdosa mesti menanggung derita, baik akibat bencana sosial maupun bencana alam. Dan betapa memuakkan mereka yang hidup senang-senang dengan merampas hak-hak orang lain.

Beruntunglah mereka yang beriman dan beramal saleh. Haji mengingatkan dan menyadarkan kita semua, terminal terakhir hidup ini bukannya rumah yang kita tempati setiap hari, bukan pula saat berhasil mendekati Kakbah di Mekkah, tetapi bagi kita semua peziarah adalah merindukan bertemu dengan Allah dan mengharap rida- Nya.(*)