Haidar Bagir: Bagi Ibnu Arabi, Neraka adalah Karunia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Haidar Bagir dalam diskusi buku “Semesta Cinta; Pengantar kepada Pemikiran Ibnu Arabi” di Malang, 24/2.

Haidar Bagir dalam diskusi buku “Semesta Cinta; Pengantar kepada Pemikiran Ibnu Arabi” di Malang, 24/2.

BERITA UIN, Online — Konsepsi ‘neraka’ dalam kajian tasawuf Ibnu Arabi, menurut Dr. Haidar Bagir, tidak seperti apa yang digambarkan kebanyakan orang. Neraka yang juga ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih, kata Haidar, lebih sering digambarkan seperti di mimbar-mimbar Jumat sebagai tempat yang di dalamnya Tuhan seolah “menikmati” kesempatan membalas (dendam) kepada makhluk yang tak mau taat kepada-Nya.

“Dalam Alquran, api bukan sesuatu yang buruk tapi sebagai pemberi penerangan. Neraka itu sebetulnya adalah surga, yang terasa menyengsarakan karena dipersepsi oleh orang yang jiwanya sakit,” katanya dalam diskusi buku “Semesta Cinta; Pengantar kepada Pemikiran Ibnu Arabi” di Malang, 24/2 seperti ditulis islamindonesia.id

Jika diibaratkan hawa panas, kata Haidar, air dingin terasa enak bagi orang yang kondisi tubuhnya sehat. Tapi kalau minum air dingin dalam keadaan flu, lanjut Haidar, tenggorokan semakin bengkak.

“Neraka sebetulnya seperti air dingin yang menyegarkan. Apabila air dingin diminum oleh orang yang sedang flu, maka penyakitnya akan semakin parah,” kata dosen filsafat Islam dan tasawuf ini.

Dengan demikian, menurut pria 59 tahun ini, orang yang kembali kepada Allah dengan ruhani sehat, akan merasakan kesejukan, begitu pula sebaliknya. ‘Siksa’ dalam bahasa Arab memiliki banyak pilihan kata, tapi mengapa yang dipilih ‘azaab’.

“Allah memilih ‘azaab’ karena huruf ain, dzal dan ba bisa dibentuk kata ‘aziib’ yang artinya ‘rasa manis dan menyegarkan’. Termasuk neraka adalah manifestasi kasih sayang Allah,” katanya

Menurut cendekiawan Muslim asal Solo ini, diri manusia sendiri yang membuat ‘azaab’ tidak menjadi ‘aziib’. Karena ruhani kotor, surga yang diberikan Allah ketika dibangkitkan kelak akan terasa menyiksa (neraka).

“Semua manusia, kata Ibnu Arabi, akan merasakan nikmatnya surga. Tentunya setelah menjalani neraka.”

Dalam pemikiran Ibnu Arabi, kata Haidar, neraka adalah manifestasi kasih sayang Allah. Pandangan ini bisa mengacu pada ayat Alquran surat Al-Rahman ayat 43 – 45:

“Inilah jahannam yang kepada kalian dijanjikan. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya” kemudian dilanjutkan pada ayat berikutnya, “maka karunia mana lagi yang akan kamu dustakan”.

“Bahkan neraka adalah karunia,” kata Haidar sambari menjelaskan hanya satu ayat Alquran yang membahas Allah sebagai Pembalas dan seratus ayat membahas Dia sebagai Pemaaf.

Bagi Haidar, ‘akhlak Allah’ tercermin dari nama-nama (asma) Allah yang indah. Dari seluruh asma Allah yang paling dominan adalah ‘Arrahman’ (pengasih) dan ‘Arrahim’ (penyayang). Oleh sebab itu, ajaran tasawuf dalam Islam, kata Haidar, adalah menanamkan cinta kasih pada diri orang.

“Penuhi hati kita dengan cinta,” kata Haidar di depan para peserta diskusi buku yang merupakan rangkaian Festival Islam Cinta 2016 di UIN Malang.

Ibnu Arabi, Sosok Kontroversial

Seperti diketahui, memang tidak setiap ulama yang setuju dengan pandangan Ibnu Arabi. Bahkan di antara mereka ada juga yang menganggap sufi besar ini kafir. “Setelah diteliti lebih lanjut, hanya sedikit ulama yang mengkafirkan Ibnu Arabi. Sebagian besar ulama mendukung Ibnu Arabi dan menyebutnya sebagai Syekh Akbar,” kata Haidar.

Ibnu Arabi, di mata Haidar, adalah seorang filsuf yang dalam hidupnya banyak berbicara soal tasawuf. “Saya tertarik dengan Ibnu Arabi karena seliberal apapun ia, tidak pernah bergeser dari pemahaman Alquran dan Hadis.”

Penulis kitab ‘Futuhat Al Makkiyah’ ini, menurut Haidar, telah menegaskan bahwa satu-satunya jalan menuju Allah adalah dengan syariat. Ibnu Arabi, kata Haidar, bahkan mendefiniskan tasawuf secara sederhana, yaitu berakhlak dengan akhlaknya Allah.

Pada tahap inilah, lanjut Haidar, prinsip cinta Ibnu Arabi yang begitu dominan bisa ditemui. “Pemikirannya Ibnu Arabi adalah samudra dan dalam buku ini saya cuman meletakkan ujung jari saya yang merupakan tetesan dari pemikirannya,”

Dalam lintas sejarah, nama Ibnu ‘Arabi adalah sosok sufi yang banyak mendapatkan kritikan dan tuduhan tajam. Dan sebagian ulama ada yang mengatakan, “Ma Ikhtalafal ulama’u fi ahadin ka ikhtilafihim fi Muhyidin Ibnu ‘Arabi”, tak ada satupun seseorang yang lebih kontrovesional di kalangan para ulama yang melebihi Ibnu Arabi.

Atas sikap kontroversial tersebut, banyak ulama yang berusaha menjelaskan laku lampah kehidupan Ibnu Arabi, dan yang paling lengkap adalah sosok ulama Taqiyudin Al-Faasi dalam kitab ‘Al-‘Aqduts Tsamin fi Tarikh Al-buldan Al-Amin’. Ia mengatakan “Saya telah menulis biografi paling lengkap tentang Ibnu Arabi yang belum ada di kitab manapun, dan sebagiannya saya rujuk dari orang yang hidup semasa dengannya’.

Salah satu pendapat Ibn Arabi yang menuai kontroversi adalah bahwa Iblis adalah makhluk Allah swt yang paling bertauhid, karena ia tidak mau sujud kepada Nabi Adam as. Ia juga berpendapat bahwa semua agama adalah sama, berhala-berhala yang disembah oleh kaum musyrkin adalah perwujudan bahkan hakikat Allah swt, ia juga berpendapat bahwa neraka bersifat fana sehingga para penghuni neraka seluruhnya akan masuk surga, dan seterusnya yang bisa anda temukan dalam karya-karya Ibnu Arabi seperti “Fushulul Hikam” dan “Futuhat Al-Makkiyyah”.

Ibnu Arabi mengatakan bahwa semua agama itu satu dan benar, seperti yang tertulis dalam buku Fushulul Hikam juz I hal.113. Dan orang yang beriman kepada thaghut menurut Ibnu Arabi tidaklah kafir, tapi menjadi paling utamanya orang yang beragama tauhid. Ia berkata, “Berhati-hatilah kalian dari aqidah yang benar dan dari mengkafirkan orang lain karena itu akan menyebabkan hilangnya banyak kebaikan bahkan bisa menghilangkan ilmu terhadap hakikat Tuhan. Oleh sebab itu, kalian haruslah lapang dada menerima semua bentuk keyakinan terhadap Tuhan. Sesungguhnya Allah itu lebih besar, lebih Agung dan lebih Luas daripada hanya dibatasi oleh satu bentuk aqidah dan menyalahkan aqidah yang lain.” Tuhan berfirman, “Kemana saja kau arahkan wajahmu maka kamu akan menemukan Allah disitu.”