Gus Dur dan Cak Nur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Wafatnya Gus Dur tiba-tiba mengingatkan saya akan sosok Cak Nur. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Cak Nur (Nurcholish Madjid) adalah dua sosok santri par excellent yang sama-sama dari Jombang yang keduanya sangat besar pengaruhnya dalam dunia pemikiran kaum santri di Indonesia. Keduanya adalah pemikir sekaligus aktivis sosial yang sangat berjasa menarik gerbong dunia pesantren yang semula berada di pinggiran lalu masuk ke gelanggang percaturan intelektual dan politik di Indonesia kontemporer bahkan ke level internasional.

Dua sosok pemikir ini mampu mengintegrasikan pemikiran tradisional dan moderen, lokal dan nasional, dalam semangat dan komitmen keindonesiaan sehingga semangat islamisme, modernisme dan nasionalisme tidak relevan lagi diperhadapkan. Khususnya bagi dunia pesantren, Gus Dur dan Cak Nur  telah mendongkrak sikap percaya diri secara kultural dan intelektual sehingga pesantren yang semula dianggap eksotik, kumuh, terbelakang, lalu berubah menjadi pusat kaderisasi intelektual dan pemikir kebangsaan dengan faham keagamaannya yang moderat dan inklusif.

Gus Dur sendiri dengan bercanda sering mengatakan bahwa Jombang telah melahirkan “orang-orang gila” di negeri ini dengan menyebut Cak Nur, Emha Ainun Najib, Wardah Hafidz dan dirinya sendiri. Mereka adalah sosok-sosok pribadi yang berani berbeda dan siap menerima resiko. Oleh karenanya Gus Dur dan Cak Nur akan tercatat dalam sejarah sebagai pejuang demokrasi yang tumbuh dari rahim dunia pesantren.

Cak Nur lahir 17 Maret 1939, meninggal 29 Agustus 2005, sedangkan Gus Dur lahir 4 Agustus 1940, meninggal 30 Desember 2009. Bagi para pejuang demokrasi dan  kemanusiaan  dua sosok intelektual-aktivis ini serasa masih hidup meski keduanya telah lebih dahulu kembali ke kampung ilahi untuk selamanya. Beruntunglah pikiran-pikiran mereka sebagian sudah terabadikan dalam buku sehingga kita lebih leluasa dan obyektif untuk membaca dan menilainya.

Di hari pemakamannya,  seorang teman berkirim sms pada saya: Gus Dur memang luar biasa!!! Amplitudo getarannya baru terasa penuh pada detik-detik ini. Benarlah kata orang bijak, dengan memberi kamu menerima, dengan memaafkan kamu dimaafkan,  dengan mati kamu hidup abadi.

Tentu tak akan habis-habis orang membicarakan Gus Dur, karena pemikiran dan sepak terjangnya yang multidimensi, kontroversial dan di luar dugaan orang. Telah banyak buku terbit yang isinya mengulas pemikirannya. Sebagai orang kampus tentu saya akan mendorong mahasiswa saya, khususnya program pascasarjana, untuk meneliti dan mengkajinya kembali secara ilmiah karena begitu banyak tesis atau pemikiran Gus Dur yang masih dan sangat relevan untuk membangun wacana keislaman dan keindonesiaan hari ini. Selamat jalan Gus, yakin dan berdoa, kehidupan di kampung ilahi pasti jauh lebih indah dan damai.

Gus Dur dan Cak Nur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Wafatnya Gus Dur tiba-tiba mengingatkan saya akan sosok Cak Nur. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Cak Nur (Nurcholish Madjid) adalah dua sosok santri par excellent yang sama-sama dari Jombang yang keduanya sangat besar pengaruhnya dalam dunia pemikiran kaum santri di Indonesia. Keduanya adalah pemikir sekaligus aktivis sosial yang sangat berjasa menarik gerbong dunia pesantren yang semula berada di pinggiran lalu masuk ke gelanggang percaturan intelektual dan politik di Indonesia kontemporer bahkan ke level internasional.

Dua sosok pemikir ini mampu mengintegrasikan pemikiran tradisional dan moderen, lokal dan nasional, dalam semangat dan komitmen keindonesiaan sehingga semangat islamisme, modernisme dan nasionalisme tidak relevan lagi diperhadapkan. Khususnya bagi dunia pesantren, Gus Dur dan Cak Nur  telah mendongkrak sikap percaya diri secara kultural dan intelektual sehingga pesantren yang semula dianggap eksotik, kumuh, terbelakang, lalu berubah menjadi pusat kaderisasi intelektual dan pemikir kebangsaan dengan faham keagamaannya yang moderat dan inklusif.

Gus Dur sendiri dengan bercanda sering mengatakan bahwa Jombang telah melahirkan “orang-orang gila” di negeri ini dengan menyebut Cak Nur, Emha Ainun Najib, Wardah Hafidz dan dirinya sendiri. Mereka adalah sosok-sosok pribadi yang berani berbeda dan siap menerima resiko. Oleh karenanya Gus Dur dan Cak Nur akan tercatat dalam sejarah sebagai pejuang demokrasi yang tumbuh dari rahim dunia pesantren.

Cak Nur lahir 17 Maret 1939, meninggal 29 Agustus 2005, sedangkan Gus Dur lahir 4 Agustus 1940, meninggal 30 Desember 2009. Bagi para pejuang demokrasi dan  kemanusiaan  dua sosok intelektual-aktivis ini serasa masih hidup meski keduanya telah lebih dahulu kembali ke kampung ilahi untuk selamanya. Beruntunglah pikiran-pikiran mereka sebagian sudah terabadikan dalam buku sehingga kita lebih leluasa dan obyektif untuk membaca dan menilainya.

Di hari pemakamannya,  seorang teman berkirim sms pada saya: Gus Dur memang luar biasa!!! Amplitudo getarannya baru terasa penuh pada detik-detik ini. Benarlah kata orang bijak, dengan memberi kamu menerima, dengan memaafkan kamu dimaafkan,  dengan mati kamu hidup abadi.

Tentu tak akan habis-habis orang membicarakan Gus Dur, karena pemikiran dan sepak terjangnya yang multidimensi, kontroversial dan di luar dugaan orang. Telah banyak buku terbit yang isinya mengulas pemikirannya. Sebagai orang kampus tentu saya akan mendorong mahasiswa saya, khususnya program pascasarjana, untuk meneliti dan mengkajinya kembali secara ilmiah karena begitu banyak tesis atau pemikiran Gus Dur yang masih dan sangat relevan untuk membangun wacana keislaman dan keindonesiaan hari ini. Selamat jalan Gus, yakin dan berdoa, kehidupan di kampung ilahi pasti jauh lebih indah dan damai.