Gunanjar: Atasi Konflik dengan Pahami Sejarah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Aula Madya, BERITA UIN Online - Saat ini, konflik yang terjadi di Indonesia semakin kompleks, baik konflik internal maupun eksternal. Hal ini disebabkan kurangnya masyarakat memahami sejarah yang diyakini mampu mengatasi berbagai konflik di Indonesia. Sebab, dalam pelajaran sejarah didapati dan diketahui bagaimana sulitnya para pejuang bangsa dan tokoh-tokoh pahlawan berupaya mempersatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebelum kemerdekaan diraih.

Demikian dikatakan anggota Majelis Permusyawatan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) Drs Agun Gunanjar Sudarsa MSi pada acara dialog interaktif bertema “ Sosialisai Putusan MPR RI ” yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dirasat Islamiyah bekerja sama dengan MPR RI di Aula Madya Lantai satu, Selasa ( 8/3).  Turut hadir Wakil Ketua MPR RI Hajrianto Y Thohari MA, dan Pembantu Dekan Bidang Akademik Dr Usman Syihab.

Menurut Gunanjar, bila terjadi masalah atau konflik jangan dilihat sebelah mata, tapi harus dilihat dari berbagai sisi. Sehingga wawasan terbuka akan akar masalah yang terjadi dan dapat menemukan solusinya.

Negara bagaikan bangunan. Bila bangunan tidak kokoh maka akan hancur. Begitu juga dengan Indonesia yang saat ini sering terjadi konflik, baik internal maupun eksternal. Lebih lanjut dikatakan, penyebab konflik bisa saja karena faktor politik, ras, dan sebagainya. Tetapi sesuatu yang mendasar adalah masyarakat kurang memahami pilar yang telah diperjuangkan pahlawan.

“ Nilai atau pilar yang telah diperjuangkan tidak boleh berubah. Kalau berubah maka kita tinggal menunggu kekacauan atau konflik. Karena itu, setiap orang harus menghargai jasa para pahlawan dengan cara mengatasi konflik yang ada, ” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Hajrianto Y Thohari menyatakan, menghargai perjuangan para pahlawan tidak hanya dilafalkan dengan mulut atau lisan tetapi perlu dibuktikan dengan tindakan yang nyata atau konkret.

Dalam sosialisasi tersebut, Hajrianto menambahkan, banyak cara untuk menghargai perjuangan para pahlawan di antaranya menghargai keputusan wakil rakyat yang duduk di parlemen, membuat ketetapan sesuai suara hati rakyat, mendoakan para arwah pejuang, dan memahami perbedaan yang ada.