Gunakan Etika untuk Capai Keberhasilan Bisnis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Hilda Savitri

Gedung FEB, BERITA UIN Online – Bisnis bukan semata-mata persoalan bagaimana cara untuk memaksimalkan keuntungan bagi pemilik perusahaan, melainkan juga harus memerhatikan etika dalam mengambil langkah-langkah yang harmonis dengan seluruh partisipan dan lingkungan tempat berusahaan tersebut berada.

Demikian yang dapat ditangkap dari seminar “Law of Economics and Islamic Bisnis Ethics: Can They Fit Each Others? Yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bekerja sama dengan Yayasan Dharma Shanti di Ruang Teater lantai dua Gedung FEB, Selasa (11/10). Hadir sebagai narasumber Presiden Direktur Mizan Dr Haidar Bagir, Dekan FEB Prof Dr Abdul Hamid, dosen FEB Prof Dr Mulyadhi Kartanegara, dan Prof Margareth Greffer.

Belakangan ini banyak ahli bisnis yang merasa telah menemukan cukup kasus yang mengungkapkan bukti-bukti bahwa bisnis yang tidak etis, pada jangka panjang akan menimbulkan faktor-faktor yang dapat menghancurkan bisnis itu sendiri.

“Perhatian perusahaan-perusahaan terhadap aspek etis ini telah berkembang lebih jauh ke semacam spiritualisali manajemen. Hal ini terjadi karena adanya kaitan yang  amat erat antara spiritualitas dengan keberhasilan bisnis,” kata Haidar Bagir.

Lebih lanjut Haidar mengatakan konsep spiritualisali manajemen dapat dilakukan salah satunya dengan cara menghargai karyawan hingga mereka merasa berbahagia. Karyawan hanya akan dapat memberikan kinerja terbaiknya jika mendapatkan perasaan bahagia dari lingkungan pekerjaannya. Sehingga akan tercapai tujuan puncak dari bisnis, yaitu memaksimalkan keuntungan.

“Yang menentukan keberhasilan bisnis adalah kreativitas. Dan kreativitas akan muncul dari orang-orang yang berbahagia,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof Dr Mulyadhi Kartanegara menambahkan, spiritualisasi manajemen tidak hanya dapat dilakukan pada perusahaa-perusahaan berskala besar, melainkan juga dalam rumah tangga.

“Manajemen yang tetap memperhatikan etika juga sangat dibutuhkan dalam membangun rumah tangga, mulai dari bagaimana cara mengatur mencari nafkah bagi keluarga, cara memanajemen anak, bahkan sampai pada cara memanajemen pembantu rumah tangga,” ujarnya.