Gunakan e-journal, Hindari “ATM BCA”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula PU, BERITA UIN Online–Sumber-sumber digital baik berupa e-journal maupun e-book, saat ini, jumlahnya berlimpah.  Kendati begitu, untuk memanfaatkannya menjadi referensi karya ilmiah seseorang perlu kehati-hatian. Karena itu pula, metode copy paste atau meniru, mencomot, dan menuliskannya kembali wajib dihindari. Sebab, ini termasuk plagiasi.

“Karena begitu banyak sumber digital, mahasiswa atau siapapun harus menghindaripola-pola ATM, yaitu ambil, tiru, dan memodifikasi atau menuangkannya dalam penelitian. Ada pola lain, seperti BCA. Yaitu baca, copy, dan ambil. Ini semua bentuk plagiasi. Jadi pola “ATM BCA” ini tidak boleh dilakukan,”ujar M. Zuhdi, Ph.D, Kepala Pusat Bahasa UIN Jakarta pada workshop bertajuk “Sosialisasi Penggunaan Journal Online” di Aula Perpustakaan Utama (PU), Rabu (28/11/12).

Bagi mahasiswa yang melakukan penelitian dengan metode ATM BCA, dapat dipastikan tidak lulus matakuliahnya. “Pengalaman saya mengajar pada Program Magister Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), ada mahasiswa membuat makalah. Setelah diteleliti ulang ternyata dia mengambil atau mencopy dari tempat lain, maka ia tidak diberikan nilai dan gagal matakuliahnya,” tegasnya.

Dijelaskannya, dampak bagi plagiaris adalah pencopotan gelar akademik. “Di Sekolah Pascasarjana juga pernah terjadi. Seseorang setelah mengikuti ujian pendahuluan disertasi diketahui melakukan plagiasi, maka gelarnya dicopot,” papar mantan Kepala PU itu.

Menurutnya, karya ilmiah yang menggunakan metode ATM BCA secanggih apapun akan teridentifikasi. Mungkin dalam waktu dekat tidak diketahui. Tapi bisa jadi setelah 5 sampai 10  tahun akan dibuka orang.

“Boleh dalam waktu dekat tidak diketahui. Tapi seorang pejabat bisa jatuh karena terindikasi kasus ini. Misalnya ada seseorang menjadi menteri, bupati atau apa. Lalu ada yang membuat laporan atau pengaduan, bahwa dulu skripsi, tesis atau disertasinya berasal dari metode plagiasi. Maka, mau tak mau ia harus mundur dari jabatannya,” imbuhnya.

Zuhdi menambahkan, sebagian informasi yang berada di portal atau website  tidak bisa secara otomatis dijadikan rujukan. Alasannya, informasi-informasi yang terdapat di web atau portal masih dalam bentuk  pengetahuan. “Informasi itu belum menjadi ilmu. Tapi lebih cenderung sebagai informasi sampah saja,” tandasnya. (d antariksa/saifudin)