Gun Gun: Politik Citra Bukan Segalanya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

Teater FIDKOM, UIN Online - Kekalahan Andi Malarangeng dalam pemilihan ketua umum Partai Demokrat beberapa waktu lalu merupakan salah satu bukti bahwa politik citra bukan segalanya.
Hal itu disampaikan Gun Gun Heryanto MSi, penulis buku Komunikasi Politik di Era Industri Citra, dalam acara peluncuran buku tersebut di Teater Prof Dr H Aqib Suminto Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM), Kamis (10/6).

“Politik citra bukan solusi akhir, kandidat selama ini hanya menciptakan fantasi dan kesadaran palsu pada masyarakat. Namun, sekarang masyarakat kita sudah pintar, tidak lagi percaya seratus persen kepada citra yang ditampilkan kandidat di media,” jelas dosen komunikasi politik di FIDKOM itu.

Dalam buku tersebut, Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran itu, mengkritik politik citra yang selama ini dianggap ampuh memoles citra para politisi. Kritik tersebut antara lain, politik citra menciptakan hiperreality dan mengadakan-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Di samping itu, dalam politik citra masyarakat hanya diberikan fantasi dan solusi imajiner, sehingga yang muncul adalah kesadaran palsu.

“Masyarakat memilih kandidat bukan karena kesadaran kritis, tapi lebih karena tampilan citra politisi yang telah dipoles konsultan politik,” tambah Direktur The Political Literacy Institute itu.

Gun Gun menilai, media yang selama ini sering digunakan politisi sebagai sarana publisitas cenderung mementingkan kebutuhan finansial, ketimbang objektif dalam memberitakan politisi yang menjadi kandidat suatu pemilihan.


Selaras dengan Gun Gun, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Seputar Indonesia, Pung Purwanto, mengatakan, media sebenarnya mengalami keresahan sebab apapun yang dipublikasikan akan berimbas pada citra media sendiri. Apalagi, disadari politik citra merupakan upaya manipulatif yang terorganisir.


“Dalam hal ini media bisa menjadi pelaku dan bisa juga menjadi korban. Beruntung media cetak punya jeda waktu untuk terbit, sehingga bisa memikirkan apa yang akan diterbitkan. Sementara, media elektronik seperti televisi dituntut untuk cepat memberitakan. Seringkali setelah memberitakan media baru mengetahui apa yang diberitakannya merupakan hasil manipulasi,” jelas Pung.


Pung mengakui, industri citra merupakan salah satu instrumen yang bisa menghidupi media massa. Seorang politisi yang menjadi kandidat suatu pemilihan, misalnya, mau membayar mahal media asalkan memberitakan hal-hal positif.


“Pembaca kita  semakin kritis. Kita juga tidak ingin terbawa citra buruk dari suatu kepentingan politik. Kita sadar resiko akan ditinggal pembaca, jika mempublikasi hal yang bohong,” tambahnya.


Di tengah gebyar politik citra, solusi yang ditawarkan dalam buku Gun Gun setidaknya dapat memberi pencerahan. Gun Gun menawarkan perlunya media literasi agar masyarakat lebih cerdas dalam menyikapi terpaan media. Media literasi dapat dilakukan dengan mendefinisikan kebutuhan informasi politik dan menularkannya menjadi kesadaran bersama. []

Gun Gun: Politik Citra Bukan Segalanya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

Teater FIDKOM, UIN Online - Kekalahan Andi Malarangeng dalam pemilihan ketua umum Partai Demokrat beberapa waktu lalu merupakan salah satu bukti bahwa politik citra bukan segalanya.
Hal itu disampaikan Gun Gun Heryanto MSi, penulis buku Komunikasi Politik di Era Industri Citra, dalam acara peluncuran buku tersebut di Teater Prof Dr H Aqib Suminto Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM), Kamis (10/6).

“Politik citra bukan solusi akhir, kandidat selama ini hanya menciptakan fantasi dan kesadaran palsu pada masyarakat. Namun, sekarang masyarakat kita sudah pintar, tidak lagi percaya seratus persen kepada citra yang ditampilkan kandidat di media,” jelas dosen komunikasi politik di FIDKOM itu.

Dalam buku tersebut, Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran itu, mengkritik politik citra yang selama ini dianggap ampuh memoles citra para politisi. Kritik tersebut antara lain, politik citra menciptakan hiperreality dan mengadakan-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Di samping itu, dalam politik citra masyarakat hanya diberikan fantasi dan solusi imajiner, sehingga yang muncul adalah kesadaran palsu.

“Masyarakat memilih kandidat bukan karena kesadaran kritis, tapi lebih karena tampilan citra politisi yang telah dipoles konsultan politik,” tambah Direktur The Political Literacy Institute itu.

Gun Gun menilai, media yang selama ini sering digunakan politisi sebagai sarana publisitas cenderung mementingkan kebutuhan finansial, ketimbang objektif dalam memberitakan politisi yang menjadi kandidat suatu pemilihan.


Selaras dengan Gun Gun, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Seputar Indonesia, Pung Purwanto, mengatakan, media sebenarnya mengalami keresahan sebab apapun yang dipublikasikan akan berimbas pada citra media sendiri. Apalagi, disadari politik citra merupakan upaya manipulatif yang terorganisir.


“Dalam hal ini media bisa menjadi pelaku dan bisa juga menjadi korban. Beruntung media cetak punya jeda waktu untuk terbit, sehingga bisa memikirkan apa yang akan diterbitkan. Sementara, media elektronik seperti televisi dituntut untuk cepat memberitakan. Seringkali setelah memberitakan media baru mengetahui apa yang diberitakannya merupakan hasil manipulasi,” jelas Pung.


Pung mengakui, industri citra merupakan salah satu instrumen yang bisa menghidupi media massa. Seorang politisi yang menjadi kandidat suatu pemilihan, misalnya, mau membayar mahal media asalkan memberitakan hal-hal positif.


“Pembaca kita  semakin kritis. Kita juga tidak ingin terbawa citra buruk dari suatu kepentingan politik. Kita sadar resiko akan ditinggal pembaca, jika mempublikasi hal yang bohong,” tambahnya.


Di tengah gebyar politik citra, solusi yang ditawarkan dalam buku Gun Gun setidaknya dapat memberi pencerahan. Gun Gun menawarkan perlunya media literasi agar masyarakat lebih cerdas dalam menyikapi terpaan media. Media literasi dapat dilakukan dengan mendefinisikan kebutuhan informasi politik dan menularkannya menjadi kesadaran bersama. []