Gun Gun Heryanto: Jurnalistik Harus Menjadi Kontrol Sosial

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





Reporter: Irma Wahyuni

 

Perpustakaan Utama, UINJKT Online – Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Gun Gun Heryanto MSi, memaparkan, jurnalistik harus menjadi alat kontrol sosial dan pengendali masyarakat. Kerja jurnalistik bukan semata-mata melakukan reportase fakta, tetapi ada ada suatu tugas besar di dalamnya, yaitu menjadi kontrol sosial.

 

 “Jurnalistik tidak hanya menarik dari sudut skill, tetapi untuk kontrol sosial. Jurnalistik tidak semata-mata ilmu pengetahuan, tetapi mendorong orang untuk berlogika sistemik dan kritis,” ujar Gun Gun usai diskusi dan bedah film Shock Wave kepada UINJKT Online di Perpustakaan Utama, Senin (1/12).

 

Menurut dosen yang juga aktif menulis kolom di sejumlah media nasional ini, fenomena jurnalistik di Indonesia saat ini tengah mengalami proses metamorfosis dari Otoritarian Media hingga ke Liberal Media. Media memang bebas memberitakan apapun, namun tetap harus memperhatikan kode etik jurnalisme. Namun yang memprihatinkan, kebebasan itu justru dimanfaatkan sebagian media untuk memberitakan propaganda kekerasan, fitnah, gosip, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak akan terjadi jika mereka punya sense of journalism.

 

Lebih lanjut Gun Gun mejelaskan, tujuh dosa besar yang tidak boleh dilakukan media, yaitu abuse of power, eksploitasi kekerasan, eksploitasi anak di bawah umur, menghembus-hembuskan SARA, dramatisasi fakta palsu, kebohongan publik, dan alat untuk pembunuhan karakter.

 

“Para journalist perlu mengetahui bahwa Jurnalisme bukan semata-mata profesi yang dimiliki oleh Industri, Jurnalisme tidak semata-mata mencari informasi, tapi ada suatu kerja besar di balik profesi itu, yakni membangun kesadaran masyarakat agar berjalan sesuai dengan hukum”, tegasnya. [Nif/Ed]

Gun Gun Heryanto: Jurnalistik Harus Menjadi Kontrol Sosial

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





Reporter: Irma Wahyuni

 

Perpustakaan Utama, UINJKT Online – Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Gun Gun Heryanto MSi, memaparkan, jurnalistik harus menjadi alat kontrol sosial dan pengendali masyarakat. Kerja jurnalistik bukan semata-mata melakukan reportase fakta, tetapi ada ada suatu tugas besar di dalamnya, yaitu menjadi kontrol sosial.

 

 “Jurnalistik tidak hanya menarik dari sudut skill, tetapi untuk kontrol sosial. Jurnalistik tidak semata-mata ilmu pengetahuan, tetapi mendorong orang untuk berlogika sistemik dan kritis,” ujar Gun Gun usai diskusi dan bedah film Shock Wave kepada UINJKT Online di Perpustakaan Utama, Senin (1/12).

 

Menurut dosen yang juga aktif menulis kolom di sejumlah media nasional ini, fenomena jurnalistik di Indonesia saat ini tengah mengalami proses metamorfosis dari Otoritarian Media hingga ke Liberal Media. Media memang bebas memberitakan apapun, namun tetap harus memperhatikan kode etik jurnalisme. Namun yang memprihatinkan, kebebasan itu justru dimanfaatkan sebagian media untuk memberitakan propaganda kekerasan, fitnah, gosip, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak akan terjadi jika mereka punya sense of journalism.

 

Lebih lanjut Gun Gun mejelaskan, tujuh dosa besar yang tidak boleh dilakukan media, yaitu abuse of power, eksploitasi kekerasan, eksploitasi anak di bawah umur, menghembus-hembuskan SARA, dramatisasi fakta palsu, kebohongan publik, dan alat untuk pembunuhan karakter.

 

“Para journalist perlu mengetahui bahwa Jurnalisme bukan semata-mata profesi yang dimiliki oleh Industri, Jurnalisme tidak semata-mata mencari informasi, tapi ada suatu kerja besar di balik profesi itu, yakni membangun kesadaran masyarakat agar berjalan sesuai dengan hukum”, tegasnya. [Nif/Ed]