Grand Mufti Suriah: Radikalisme dan Terorisme Bukan Jihad

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

RSU, UIN Online – Radikalisme dan terorisme yang belakangan merebak kembali di tanah air tidak bisa disamakan dengan jihad dalam Islam. Sebab, jihad dalam Islam tidak harus dilakukan melalui perang dan kekerasan. Kini jihad mestinya dilakukan dengan jalan membangun kehidupan yang lebih baik dan bermaslahat di tengah umat manusia.

Hal itu ditegaskan Grand Mufti Suriah Syaikh Dr Ahmad Badrouddin Hassoun, dalam kuliah umum bertema ”Islam Rahmatan Lil’alamin” di depan sivitas akademika UIN, di Ruang Sidang Utama (RSU), Selasa (13/10). Turut hadir dalam acara tersebut Duta Besar Indonesia untuk Suriah Muhamad Mujamil Basyumi.

Hassoun juga menyarankan agar para pengajar di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) tidak sekadar menjalankan profesinya, lebih dari itu mereka juga bertindak sebagai da’i yang harus mencurahkan segala ilmu pengetahuannya dengan tulus dan ikhlas. Sehingga, mahasisiwa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mampu menanamkan nilai pendidikan moral dan akhlak untuk menciptakan keharmonisan dan kesejahteraan sosial.

Departemen Agama (Depag) sengaja mengundang Hassoun ke Indonesia untuk memberikan ceramah di lingkungan PTAI terkait meningkatnya gejala radikalisme dan terorisme dari sebagian kelompok Muslim di Indonesia. Selain itu, kedatangan Hassoun juga untuk menawarkan kesempatan belajar bagi dosen PTAI di sejumlah uiniversitas internasional Suriah. [Abdullah Suntani]

Grand Mufti Suriah: Radikalisme dan Terorisme Bukan Jihad

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

RSU, UIN Online – Radikalisme dan terorisme yang belakangan merebak kembali di tanah air tidak bisa disamakan dengan jihad dalam Islam. Sebab, jihad dalam Islam tidak harus dilakukan melalui perang dan kekerasan. Kini jihad mestinya dilakukan dengan jalan membangun kehidupan yang lebih baik dan bermaslahat di tengah umat manusia.

Hal itu ditegaskan Grand Mufti Suriah Syaikh Dr Ahmad Badrouddin Hassoun, dalam kuliah umum bertema ”Islam Rahmatan Lil’alamin” di depan sivitas akademika UIN, di Ruang Sidang Utama (RSU), Selasa (13/10). Turut hadir dalam acara tersebut Duta Besar Indonesia untuk Suriah Muhamad Mujamil Basyumi.

Hassoun juga menyarankan agar para pengajar di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) tidak sekadar menjalankan profesinya, lebih dari itu mereka juga bertindak sebagai da’i yang harus mencurahkan segala ilmu pengetahuannya dengan tulus dan ikhlas. Sehingga, mahasisiwa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mampu menanamkan nilai pendidikan moral dan akhlak untuk menciptakan keharmonisan dan kesejahteraan sosial.

Departemen Agama (Depag) sengaja mengundang Hassoun ke Indonesia untuk memberikan ceramah di lingkungan PTAI terkait meningkatnya gejala radikalisme dan terorisme dari sebagian kelompok Muslim di Indonesia. Selain itu, kedatangan Hassoun juga untuk menawarkan kesempatan belajar bagi dosen PTAI di sejumlah uiniversitas internasional Suriah. [Abdullah Suntani]