Gemuruh Zikir di Situ Gintung

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Irma Wahyuni

JUMAT (3/4) sore, ratusan umat Islam berseragam putih-putih tampak menyemut di lapangan bola Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Sambil duduk mereka kemudian menggemuruhkan lapadz-lapadz zikir dan doa yang dipimpin Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Di antara mereka juga terdapat Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Pejabat Walikota Tangsel HM Shaleh MT, dan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat.

Zikir dan doa itu digelar guna memperingati sepekan jebolnya tanggul Situ Gintung yang menewaskan 100 orang, 70 orang dinyatakan hilang, dan ratusan luka-luka. Acara zikir dan doa bersama yang digagas Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta itu tak lain ditujukan bagi para korban tersebut

Seorang ibu tak kuasa menahan air mata saat Arifin Ilham mengatakan bahwa tragedi Situ Gintung adalah sebagian kecil dari peringatan Allah untuk bangsa Indonesia.

“Saya ingat almarhum saudara perempuan saya yang telah dipanggil Allah saat bencana Situ Gintung,” ujarnya lirih.

Menurut Arifin, peristiwa Situ Gintung adalah sebuah pelajaran besar yang bertepatan dengan saat-saat pesta demokrasi. “Allah memiliki maksud baik di balik musibah pada momentum pesta demokrasi agar bangsa Indonesia melahirkan seorang pemimpin yang shaleh,” ujarnya.

“Sama halnya dengan musibah yang terjadi di Kota Padang dan tsunami di Aceh, Allah tidak menghancurkan masjid pada saat bencana. Allah bermaksud untuk memperingatkan bangsa dan pemimpin bangsa untuk lebih mengingat Allah dan memakmurkan masjid. Karena masjid merupakan simbol jamaah, dan jamaah merupakan simbol persatuan umat,” imbuhnya.

Sementara itu, tim panitia dari BEM FDK terlihat sibuk mengorganisasikan acara yang sedang berlangsung. “Publikasi acara ini kami laksanakan dengan baik hanya dalam waktu tiga hari hingga ke kawasan Bintaro dan Pondok Indah,” ujar Lini, anggota Divisi Acara.

“Acara ini terjalin atas kerja sama UIN Jakarta dengan Majelis Az-Zikra dan beberapa media masa seperti Republika dan TV One,” Lini menambahkan.

Setelah doa dan zikir bersama selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian dana santunan dari berbagai pihak oleh Dekan FDK. “Dengan acara ini diharapkan dapat meningkatkan solidaritas dan kepekaan sosial masyarakat,” ujar Sunandar, dosen FDK.

Gemuruh Zikir di Situ Gintung

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Irma Wahyuni

JUMAT (3/4) sore, ratusan umat Islam berseragam putih-putih tampak menyemut di lapangan bola Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Sambil duduk mereka kemudian menggemuruhkan lapadz-lapadz zikir dan doa yang dipimpin Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Di antara mereka juga terdapat Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Pejabat Walikota Tangsel HM Shaleh MT, dan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat.

Zikir dan doa itu digelar guna memperingati sepekan jebolnya tanggul Situ Gintung yang menewaskan 100 orang, 70 orang dinyatakan hilang, dan ratusan luka-luka. Acara zikir dan doa bersama yang digagas Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta itu tak lain ditujukan bagi para korban tersebut

Seorang ibu tak kuasa menahan air mata saat Arifin Ilham mengatakan bahwa tragedi Situ Gintung adalah sebagian kecil dari peringatan Allah untuk bangsa Indonesia.

“Saya ingat almarhum saudara perempuan saya yang telah dipanggil Allah saat bencana Situ Gintung,” ujarnya lirih.

Menurut Arifin, peristiwa Situ Gintung adalah sebuah pelajaran besar yang bertepatan dengan saat-saat pesta demokrasi. “Allah memiliki maksud baik di balik musibah pada momentum pesta demokrasi agar bangsa Indonesia melahirkan seorang pemimpin yang shaleh,” ujarnya.

“Sama halnya dengan musibah yang terjadi di Kota Padang dan tsunami di Aceh, Allah tidak menghancurkan masjid pada saat bencana. Allah bermaksud untuk memperingatkan bangsa dan pemimpin bangsa untuk lebih mengingat Allah dan memakmurkan masjid. Karena masjid merupakan simbol jamaah, dan jamaah merupakan simbol persatuan umat,” imbuhnya.

Sementara itu, tim panitia dari BEM FDK terlihat sibuk mengorganisasikan acara yang sedang berlangsung. “Publikasi acara ini kami laksanakan dengan baik hanya dalam waktu tiga hari hingga ke kawasan Bintaro dan Pondok Indah,” ujar Lini, anggota Divisi Acara.

“Acara ini terjalin atas kerja sama UIN Jakarta dengan Majelis Az-Zikra dan beberapa media masa seperti Republika dan TV One,” Lini menambahkan.

Setelah doa dan zikir bersama selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian dana santunan dari berbagai pihak oleh Dekan FDK. “Dengan acara ini diharapkan dapat meningkatkan solidaritas dan kepekaan sosial masyarakat,” ujar Sunandar, dosen FDK.