Gejolak Pasca-Qadafi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pasca-Qadafi; banyak pelajaran yang bisa diambil khususnya bagi kaum Muslimin. Pertama-tama, cara tewasnya penguasa Libya selama lebih 40 tahun ini sangat mengenaskan dan tidak kurang ironisnya adalah ketika jenazahnya diletakkan begitu saja di kamar pembeku daging, menjadi tontonan warganya. Banyak orang tidak suka dengan kekejaman Qadafi. Tetapi, menyaksikan video sejak ia digiring massa yang tidak terkendali yang kemudian menembak kepalanya tetap membuat miris dan prihatin.

Peristiwa sekitar tewasnya Qadafi pada 20 Oktober 2011 lalu dan perlakuan yang tidak pantas terhadap jenazahnya mencerminkan betapa ‘budaya pembalasan’ (culture of vengeance) begitu kuat. Budaya semacam ini seolah telah melekat (embedded) dalam lingkungan masyarakatnya. Prinsip lama yang telah ada sejak masa Biblikal, one tooth for one tooth, one eye for one eye-satu gigi untuk satu gigi, satu mata untuk satu mata-di dalam masyarakat Timur Tengah, kini terlihat begitu telanjang dalam peristiwa Qadafi.

Padahal, Islam mengajarkan agar siapa pun tidak memperlakukan musuhnya secara sewenang-wenang. Islam juga mengajarkan agar mereka yang bersalah diadili dengan seadil-adilnya; dan bahkan ketika yang bersangkutan terbukti bersalah melakukan kejahatan pembunuhan, Islam mengajarkan agar pihak-pihak yang terlibat kekerasan dapat memberikan pemaafan. Prinsip dan ajaran yang sangat mulia karena dengan cara begitu mata rantai kekerasan, keaniayaan, dan kezaliman dapat lebih mungkin diakhiri.

Tewasnya Qadafi jelas belum mengakhiri cerita pergantian dan konsolidasi kekuasaan di Libya sendiri. Bahkan, tewasnya Qadafi merupakan awal dari transisi kekuasaan yang sangat boleh jadi berlangsung dengan penuh pergumulan dan kesulitan. Sebaliknya, pihak asing, khususnya NATO, mulai mengklaim imbalan penguasaan minyak dan gas Libya sebagai imbalan atas bantuan mereka dalam penumbangan rezim Qadafi.

Tewasnya Qadafi juga tidak menghentikan kekerasan di Dunia Arab atau Timur Tengah secara keseluruhan. Tampaknya, rezim-rezim yang sekarang tengah menghadapi tantangan rakyatnya-yakni Presiden Bashar Assad di Suriah dan Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman-belum terbuka hatinya masing-masing untuk mengakhiri kekerasan yang masih terus mereka lakukan kepada rakyatnya. Sebaliknya, jumlah korban yang tewas terus bertambah dari hari ke hari, pekan ke pekan, belum terlihat bahwa rezim-rezim ini mengusahakan cara damai untuk menghentikan gejolak perlawanan rakyatnya masing-masing.

Padahal, pengalaman Qadafi sejak awal sampai ia tewas memberikan pelajaran, kekerasan yang menewaskan banyak rakyat selalu menjadi alasan bagi pihak asing, seperti NATO dan juga Amerika Serikat, untuk campur tangan. Tanpa bantuan militer, persenjataan, intelijen, dan logistik NATO sulit dibayangkan pasukan perlawanan sipil Libya di bawah Dewan Transisi Nasional dapat mengalahkan pasukan Qadafi-termasuk ‘tentara sewaan’ yang dia datangkan dari berbagai negara.

Karena itu, sangat penting bagi para penguasa di mana pun untuk membenahi rumah tangganya. Selain menjalankan pemerintahan sesuai dengan konvensi internasional dan prinsip HAM, para penguasa sepatutnya menyelesaikan pertikaian dengan warganya masing-masing secara damai. Penggunaan kekerasan-apalagi dalam skala besar-merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengundang berbagai pihak internasional untuk menggunakan berbagai cara untuk menumbangkan rezim-rezim semacam itu.

Tidak ragu lagi, dorongan untuk campur tangan pihak asing itu kian bertambah jika negara bersangkutan kaya dengan sumber alam, khususnya minyak bumi dan gas, seperti yang dimiliki Libya. Atau, jika negara tersebut memiliki posisi geo-strategis, yang secara politik sangat penting untuk penguasaan dan pengendalian kawasan semacam Timur Tengah. Suriah dan Yaman termasuk negara-negara yang memiliki posisi geo-strategis dalam konteks kepentingan AS dan negara-negara Barat lain, khususnya dalam kaitan dengan konflik dan kekerasan yang masih berlanjut pula di antara Palestina dan Israel. Karena itu, bukan tidak mungkin negara-negara Barat melakukan berbagai cara pula untuk menumbangkan pemimpin masing-masing negara ini.

Inilah pelajaran penting bagi kita di Indonesia. Di tengah masih berlanjutnya ketidakpuasan terhadap Pemerintahan Presiden SBY, semestinya ketidakpuasan itu tetap dilakukan secara damai-jauh dari kekerasan dan anarki. Kekerasan dapat berujung pada lingkaran kekerasan yang sulit diakhiri. Pada saat yang sama Pemerintah dapat lebih arif dan berupaya sungguh-sungguh memperbaiki keadaan. Hanya dengan cara itu Indonesia dapat terpelihara dari campur tangan asing-yang niscaya berujung pada tragedi yang pahit.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan dimuat pada Harian Republika, Kamis (3/11)