Gedung Student Center, Wahana Pengembangan Minat dan Bakat Mahasiswa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Bagi mahasiswa, Gedung Student Center (SC) atau Pusat Kegiatan Mahasiswa tak hanya berfungsi sebagai tempat “nongkrong”. Mereka juga dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti diskusi ilmiah, olahraga, seni budaya, atau dakwah. Selain itu, mereka juga dapat mengembangan minat dan bakat di sejumlah unit kegiatan mahasiswa atau UKM yang berkantor di gedung ini.

 

Gedung yang di bangun di atas lahan seluas sekitar 6.000 meter persegi tersebut bukan semata-mata sebagai tempat berkumpulnya ruang sekretariat berbagai lembaga kemahasiswaan tingkatan universitas saja misalnya UKM, melainkan pula sebagai tempat untuk menampung segala aktifitas mahasiswa kampus ini, apa pun jenisnya. Selain sekretariat UKM, di gedung ini terkumpul pula sekretariat organisasi kemahasiswaan lainnya, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU), dan Kongres Mahasiswa Universitas (KMU). Gedung SC dibangun pada tahun 2002 atas bantuan dana Islamic Development Bank (IDB).

Konsep arsitektur pembangunan gedung tersebut layaknya konsep pembangunan gedung-gedung fakultas yang ada di universitas ini. Perpaduan tiga unsur yaitu keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan merupakan konsep pembangunan gedung tersebut. Menurut mantan Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof. Dr. Abuddin Nata, konsep tersebut sesuai dengan visi UIN Jakarta yang berkeinginan menjadi universitas terkemuka yang memadukan keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. “Kita ingin visi UIN Jakarta tercermin dalam bentuk bangunan/gedung yang ada di kampus ini termasuk SC,” katanya.

Abuddin menjelaskan, bentuk kubah di atas atap gedung ini sebagai simbol yang mencerminkan unsur keislaman. Sedangkan jendela yang berbentuk piramida sebagai cerminan unsur keindonesiaan. Adapun penggunaan bahan bangunan yang digunakan untuk membangun gedung ini merupakan cerminan kemodernan. Bentuk gedung SC kampus ini terbilang unik, yaitu antara tempat aktifitas mahasiswa dengan masjid kampus menyatu dalam satu bangunan.

Abuddin mengatakan, pengintegrasian pusat tempat aktifitas mahasiswa dengan masjid merupakan langkah efisiensi, mengingat lahan yang tersedia di kampus I terlalu sempit. “Selain itu, penyatuan masjid dalam satu gedung pusat aktifitas mahasiswa bertujuan agar supaya mahasiswa tidak lupa melaksanakan salat ketika ia beraktifitas,” katanya. Sebab terkadang mahasiswa ketika beraktifitas di kampus, ia lupa menunaikan salat. Menyatunya masjid dengan tempat aktifitas mahasiswa, kata Abuddin, tidak akan menggaggu keduanya asalkan ada pengaturan atau penjadwalan yang baik. Hanya sekarang pengaturannya kurang maksimal, sehingga terkadang terjadi benturan.

”Konsep integrasi yang dilakukan universtas ini seharusnya bisa dikembangkan di kampus-kampus lain karena mampu mengintegrasikan spiritualitas dan keterampilan mahasiswa dalam satu wadah,” ketus Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Pengelolaan gedung SC awalnya berada di bawah kendali Kepala Bagian Umum universitas, lalu berpindah ke Bagian Kemahasiswaan dan sekarang kendalai gedung tersebut berada pada Drs. Syamsul Arifin, M.Pd yang tunjuk rektor sebagai Kepala Pengelola SC. Sejak bertugas pada Juli 2007 lalu hingga sekarang, Syamsul, demikian ia disapa, mengatakan dirinya baru memfokuskan kinerjanya terhadap dua hal, yaitu menciptakan ketertiban dan keamanan di sekitar gedung SC. Sebab, kata dia, ada dosen dan pimpinan yang menginginkan agar SC lebih teratur dan tidak menjadi tempat biang masalah mahasiswa “Untuk tugas pengelolaan dan pembinaan sendiri sampai saat ini belum maksimal, tapi kita sedang rencanakan,” katanya.

Upaya yang dilakukan Syamsul untuk menciptakan ketertiban dan keamanan di SC adalah dengan cara berjaga pada malam hari, menyuruh mahasiswa yang aktif di gedung ini untuk memfungsikan sekretariat sebagaimana mestinya, dan menyediakan petugas keamanan. “Di bidang keamanan dan ketertiban sekarang kita sudah menyediakan petugas keamanan (satpam), tapi jumlahnya masih terbatas, sehingga terkadang tindak kejahatan seperti pencurian masih terjadi,” ucapnya.

Ada tiga bidang yang menjadi prioritas kerja pengelola SC, yaitu keamanan dan kebersihan, pengelolaan masjid, dan pengelolaan dan pembinaan organisasi kemahasiswaan. Namun, menurut Syamsul, yang sudah berjalan hanya bidang keamanan dan kebersihan. Pengelolaan masjid SC akan dilakukan dengan mengadakan pengajian kitab kuning, halaqoh keislaman, dan pengembangan kemampuan bahasa Arab mahasiswa. Pengelola SC berkeinginan menciptakan suasana kampus yang kondusif dan islami

Sedangkan dalam pengelolaan dan pembinaan organisasi kemahasiswaan akan dilakukan melalui barang-barang milik pribadi dikeluarkan dari sekretariat dan pengoptimalan ruangan agar bisa dipakai seluruh mahasiswa, bukan hanya mahasiswa yang aktif di lembaga kemahasiswaan tingkat universitas saja. ”Kami akan mengelola ruangan sekretariat organisasi kemahasiswaan yang berlebihan untuk bisa dipergunakan kegiatan lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk bidang pengelolaan pihaknya sudah pernah memberikan edaran berupa maklumat kepada para pengurus lembaga kemahasiswaan. Isinya antara lain sekretariat dibuka pada pukul 07.00 dan ditutup pukul 16.00. Namun, edaran tersebut sempat diprotes mereka karena dianggap terlalu mengekang. [Akhwani Subkhi]

 

Gedung Student Center, Wahana Pengembangan Minat dan Bakat Mahasiswa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Bagi mahasiswa, Gedung Student Center (SC) atau Pusat Kegiatan Mahasiswa tak hanya berfungsi sebagai tempat “nongkrong”. Mereka juga dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti diskusi ilmiah, olahraga, seni budaya, atau dakwah. Selain itu, mereka juga dapat mengembangan minat dan bakat di sejumlah unit kegiatan mahasiswa atau UKM yang berkantor di gedung ini.

 

Gedung yang di bangun di atas lahan seluas sekitar 6.000 meter persegi tersebut bukan semata-mata sebagai tempat berkumpulnya ruang sekretariat berbagai lembaga kemahasiswaan tingkatan universitas saja misalnya UKM, melainkan pula sebagai tempat untuk menampung segala aktifitas mahasiswa kampus ini, apa pun jenisnya. Selain sekretariat UKM, di gedung ini terkumpul pula sekretariat organisasi kemahasiswaan lainnya, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU), dan Kongres Mahasiswa Universitas (KMU). Gedung SC dibangun pada tahun 2002 atas bantuan dana Islamic Development Bank (IDB).

Konsep arsitektur pembangunan gedung tersebut layaknya konsep pembangunan gedung-gedung fakultas yang ada di universitas ini. Perpaduan tiga unsur yaitu keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan merupakan konsep pembangunan gedung tersebut. Menurut mantan Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof. Dr. Abuddin Nata, konsep tersebut sesuai dengan visi UIN Jakarta yang berkeinginan menjadi universitas terkemuka yang memadukan keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. “Kita ingin visi UIN Jakarta tercermin dalam bentuk bangunan/gedung yang ada di kampus ini termasuk SC,” katanya.

Abuddin menjelaskan, bentuk kubah di atas atap gedung ini sebagai simbol yang mencerminkan unsur keislaman. Sedangkan jendela yang berbentuk piramida sebagai cerminan unsur keindonesiaan. Adapun penggunaan bahan bangunan yang digunakan untuk membangun gedung ini merupakan cerminan kemodernan. Bentuk gedung SC kampus ini terbilang unik, yaitu antara tempat aktifitas mahasiswa dengan masjid kampus menyatu dalam satu bangunan.

Abuddin mengatakan, pengintegrasian pusat tempat aktifitas mahasiswa dengan masjid merupakan langkah efisiensi, mengingat lahan yang tersedia di kampus I terlalu sempit. “Selain itu, penyatuan masjid dalam satu gedung pusat aktifitas mahasiswa bertujuan agar supaya mahasiswa tidak lupa melaksanakan salat ketika ia beraktifitas,” katanya. Sebab terkadang mahasiswa ketika beraktifitas di kampus, ia lupa menunaikan salat. Menyatunya masjid dengan tempat aktifitas mahasiswa, kata Abuddin, tidak akan menggaggu keduanya asalkan ada pengaturan atau penjadwalan yang baik. Hanya sekarang pengaturannya kurang maksimal, sehingga terkadang terjadi benturan.

”Konsep integrasi yang dilakukan universtas ini seharusnya bisa dikembangkan di kampus-kampus lain karena mampu mengintegrasikan spiritualitas dan keterampilan mahasiswa dalam satu wadah,” ketus Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Pengelolaan gedung SC awalnya berada di bawah kendali Kepala Bagian Umum universitas, lalu berpindah ke Bagian Kemahasiswaan dan sekarang kendalai gedung tersebut berada pada Drs. Syamsul Arifin, M.Pd yang tunjuk rektor sebagai Kepala Pengelola SC. Sejak bertugas pada Juli 2007 lalu hingga sekarang, Syamsul, demikian ia disapa, mengatakan dirinya baru memfokuskan kinerjanya terhadap dua hal, yaitu menciptakan ketertiban dan keamanan di sekitar gedung SC. Sebab, kata dia, ada dosen dan pimpinan yang menginginkan agar SC lebih teratur dan tidak menjadi tempat biang masalah mahasiswa “Untuk tugas pengelolaan dan pembinaan sendiri sampai saat ini belum maksimal, tapi kita sedang rencanakan,” katanya.

Upaya yang dilakukan Syamsul untuk menciptakan ketertiban dan keamanan di SC adalah dengan cara berjaga pada malam hari, menyuruh mahasiswa yang aktif di gedung ini untuk memfungsikan sekretariat sebagaimana mestinya, dan menyediakan petugas keamanan. “Di bidang keamanan dan ketertiban sekarang kita sudah menyediakan petugas keamanan (satpam), tapi jumlahnya masih terbatas, sehingga terkadang tindak kejahatan seperti pencurian masih terjadi,” ucapnya.

Ada tiga bidang yang menjadi prioritas kerja pengelola SC, yaitu keamanan dan kebersihan, pengelolaan masjid, dan pengelolaan dan pembinaan organisasi kemahasiswaan. Namun, menurut Syamsul, yang sudah berjalan hanya bidang keamanan dan kebersihan. Pengelolaan masjid SC akan dilakukan dengan mengadakan pengajian kitab kuning, halaqoh keislaman, dan pengembangan kemampuan bahasa Arab mahasiswa. Pengelola SC berkeinginan menciptakan suasana kampus yang kondusif dan islami

Sedangkan dalam pengelolaan dan pembinaan organisasi kemahasiswaan akan dilakukan melalui barang-barang milik pribadi dikeluarkan dari sekretariat dan pengoptimalan ruangan agar bisa dipakai seluruh mahasiswa, bukan hanya mahasiswa yang aktif di lembaga kemahasiswaan tingkat universitas saja. ”Kami akan mengelola ruangan sekretariat organisasi kemahasiswaan yang berlebihan untuk bisa dipergunakan kegiatan lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk bidang pengelolaan pihaknya sudah pernah memberikan edaran berupa maklumat kepada para pengurus lembaga kemahasiswaan. Isinya antara lain sekretariat dibuka pada pukul 07.00 dan ditutup pukul 16.00. Namun, edaran tersebut sempat diprotes mereka karena dianggap terlalu mengekang. [Akhwani Subkhi]