BERITA UIN Online – Fenomena di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, akhir-akhir ini cukup menarik. Di berbagai sudut kampus, terlihat beberapa kelompok mahasiswa berkumpul. Mereka terlihat tekun membaca dan tekun mendengarkan paparan dari para tutor. Sekali-kali mereka mencatat. Mereka mengawinkan “active reading” dengan “active listening”.
Arus besar globalisasi menghadirkan banyak akses untuk membaca, terutama melalui jaringan maya, internet. Berbagai akses inilah yang kemudian menggiring mahasiswa punya peluang membaca berbagai ragam informasi. Sejalan dengan berbagai ragam akses inilah, orientasi membaca pun berubah, tak sekadar melacak bacaan-bacaan normatif saja, tetapi bacaan-bacan yang menyuguhkan aneka rupa warna bacaan.
Membaca buku menurut peneliti dari Henry Ford Healt System, C Edward Coffey, membuktikan dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit demensia. Demensia adalah nama penyakit yang merusak otak. Apabila seseorang terserang demensia dapat dipastikan ia akan mengalami kepikunan atau tulalit
Merunut apa yang dipapatkan Hernowo, penulis buku Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, dengan memberi tip membaca yang diilhami gagasan Ron Hubbard, Mortimer J Adler dan Colin Rose, bahwa membaca adalah belajar. Istilah “active reading” juga menggiring pada satu asumsi perlunya “active listening”. Tip-tip itu dapat dipaparkan sebagai berikut:
Bertanyalah pada diri Anda
Bertanyalah kepada diri Anda sendiri saat punya kemauan membaca atau kebetulan sedang memegang sebuah buku untuk dibaca. Apa manfaat membaca (buku ini) bagi saya? Dengan membiasakan bertanya seperti ini, ada kemungkinan Anda kemudian dapat mengawali pembacaan dengan sesuatu yang mem-buat Anda langsung menemukan manfaat luar biasa bagi diri Anda.
Jangan melewatkan bacaan
Ketika mulai membaca, cobalah untuk membiasakan diri tidak melewatkan satu kata pun yang tidak Anda mengerti. Satu-satunya alasan seseorang berhenti membaca, atau menjadi bingung (dan tidak melanjutkan pembacaannya), adalah karena dia telah melewatkan kata yang tidak dia pahami artinya.
Ambilah Jeda
Ambilah jeda. Hindari untuk tidak terus-menerus membaca. Manfaatkan waktu jeda untuk mengistirahatkan, terutama mata dan potensi berpikir Anda. Ge-rakkanlah tubuh anda. Misalnya, berdirilah, lalu julurkan tangan Anda seolah-olah hendak memetik buah jambu yang berada di atas kepala Anda. Kegiatan ini akan memudahkan udara memasuki paru-paru Anda. Atau, minumlah segelas air. Air penting untuk penyegaran tubuh kita. Bukankah sekitar 70% unsur di tubuh kita terdiri atas air?
Ikatlah Makna
Ikatlah makna. Berapa pun halaman yang Anda peroleh, biasakanlah untuk ‘merekam’ maknamakna yang tibatiba menyerbu dan hati kepala Anda. Tuliskanlah lewat bahasa ungkap Anda. Apabila Anda suka, gunakanlah ‘peta pikiran’ (yang mencampur bahasa kata dan bahasa rupa dalam ‘merekam’ s
Usahakan jangan berhenti bertanya saat membaca. Apa ya yang baru saya dapatkan dari halaman ini? Apa sih gagasan inti yang akan disampaikan oleh pengarang di bagian ini? Apakah saya setuju dengan pendapat pengarang di bab ini? Apakah bukti-bukti yang disampaikan pengarang masuk akal? Apa yang ingin saya jelajahi lebih lanjut?
Ulangilah pembacaan Anda secara multi indrawi. Misalnya, bacalah dengan su-ara keras kalimat-kalimat penting, bayangkanlah pemahaman Anda di dalam benak Anda, dan tulislah kembali kata-kata kunci atau pengingat. Seteleh itu, re-nungkahlah apa yang Anda peroleh.
Tentu saja kita tidak lupa dengan terus menerus menganggap buku sebagai teman dan juga kekasih sejati kita dalam hidup. Jika kita menganggap sebagai teman dan kekasih sejati, secara otomatis kita akan merawat dan menyemai bacaan dalam setiap langkah yang kita ayun.
Menurut Ali Syari’ati, pemikir Islam dari Iran, buku adalah seperti makanan, tetapi makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit, dan kelemahan-ke-lemahan perasaan dan pikiran manusia. Jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.(Edy E)
Share This