FU Selenggarakan Pelatihan Hermeneutika dan Dekonstruksi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Ekawati

FU, UIN Online – Sedikitnya 35 dosen dari berbagai fakultas mengikuti Pelatihan Metode Hermeneutika dan Dekonstruksi yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin (FU) di Meeting Room FU, Sabtu (12/12).

“Pelatihan ini diselenggarakan agar para dosen memiliki bekal lebih mengenai bahasan hermeneutika, karena hermeneutika merupakan salah satu matakuliah yang diberikan setiap jurusan yang berada di Fakultas Ushuluddin,” kata Pembantu Dekan Bidang Akademik FU Dr Hamid Nasuhi MA saat memberikan sambutan.

Menurut Hamid, hermeneutika mulai diperkenalkan di UIN sejak akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Hermeneutika diajarkan di UIN sebagai salah satu metode untuk memahami teks, seperti kitab suci.

Pelatihan yang berlangsung selama sehari ini menghadirkan Dosen Universitas Indonesia Dr Haryatmoko sebagai pembicara. Menurutnya, terdapat tiga jenis hermeneutika yaitu hermeneutika sebagai metode atau seni (hermeneutika romantis), hermeneutika fenomenologis – eksistensial, dan hermeneutika kritis.

Dalam hermeneutika romantis, lanjut Haryatmoko, peneliti merekonstruksi dan menafsirkan apa yang dimaksud pengarangnya. Peneliti mampu memproduksi, mengetahui konteks, dan psikologi pengarangnya. Namun, di samping kelebihannya, hermeneutika jenis ini juga memiliki kekurangan, di antaranya makna teks menjadi stagnan, karena peneliti tidak mungkin masuk ke dalam psikologi pengarang secara keseluruhan. Karena itu, suatu karya bisa menjadi lebih kaya (baik) atau lebih miskin dari maksud pengarangnya, karena adanya otomisasi teks dan pikiran.

Haryatmoko menambahkan, hermeneutika memiliki tugas memediasi melalui tanda dan simbol yang diperluas serta dimodifikasi oleh media teks. []

FU Selenggarakan Pelatihan Hermeneutika dan Dekonstruksi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Ekawati

FU, UIN Online – Sedikitnya 35 dosen dari berbagai fakultas mengikuti Pelatihan Metode Hermeneutika dan Dekonstruksi yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin (FU) di Meeting Room FU, Sabtu (12/12).

“Pelatihan ini diselenggarakan agar para dosen memiliki bekal lebih mengenai bahasan hermeneutika, karena hermeneutika merupakan salah satu matakuliah yang diberikan setiap jurusan yang berada di Fakultas Ushuluddin,” kata Pembantu Dekan Bidang Akademik FU Dr Hamid Nasuhi MA saat memberikan sambutan.

Menurut Hamid, hermeneutika mulai diperkenalkan di UIN sejak akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Hermeneutika diajarkan di UIN sebagai salah satu metode untuk memahami teks, seperti kitab suci.

Pelatihan yang berlangsung selama sehari ini menghadirkan Dosen Universitas Indonesia Dr Haryatmoko sebagai pembicara. Menurutnya, terdapat tiga jenis hermeneutika yaitu hermeneutika sebagai metode atau seni (hermeneutika romantis), hermeneutika fenomenologis – eksistensial, dan hermeneutika kritis.

Dalam hermeneutika romantis, lanjut Haryatmoko, peneliti merekonstruksi dan menafsirkan apa yang dimaksud pengarangnya. Peneliti mampu memproduksi, mengetahui konteks, dan psikologi pengarangnya. Namun, di samping kelebihannya, hermeneutika jenis ini juga memiliki kekurangan, di antaranya makna teks menjadi stagnan, karena peneliti tidak mungkin masuk ke dalam psikologi pengarang secara keseluruhan. Karena itu, suatu karya bisa menjadi lebih kaya (baik) atau lebih miskin dari maksud pengarangnya, karena adanya otomisasi teks dan pikiran.

Haryatmoko menambahkan, hermeneutika memiliki tugas memediasi melalui tanda dan simbol yang diperluas serta dimodifikasi oleh media teks. []