Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Jakarta menggelar Conference Series dan Loka Karya Nasional. Kegiatan yang mengusung tema Merangkai Indonesia dalam Kebhinekaan tersebut, dilaksanakan  pada, Senin–Selasa (20-21/02), bertempat di Auditorium Harun Nasution.

Hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA, staff ahli sospol Kepala Kepolisian RI Irjen Iza Fadri, Ketua Umum ADSI dan Forum Dekan Syariah/Syariah dan Hukum di PTKIN/S Dr Roibin MHI, ketua IKAHI dan Hakim Agung Dr Suhadi SH, MH, Anggota Komisi III DPR RI H Arsul Sani SH MSi, Ketua Komisi Yudisial Dr Aidul Fitriciada Azhari SH MHum, dan Prof Dr Kamarudin Amin selaku Dirjen Pendis Kemenag RI.

Selain itu, hadir pula Guru Besar FSH UIN Jakarta sekaligus mantan Hakim Agung Prof Dr Abdul Ghani Abdullah SH, serta seluruh sivitas akademika FSH UIN Jakarta dan para tamu undangan.

Dalam 2 hari tersebut, terdapat beberapa rangkaian acara diantaranya, Temu Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN/IAIN/STAIN/STAIS se Indonesia, Temu Ketua Program Studi di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum UIN/IAIN/STAIN/STAIS se Indonesia, Pengukuhan Dewan Pengurus Asosiasi Program Studi Hukum Keluarga Indonesia (APHKI), Pengukuhan Dewan Pengurus Asosiasi Program Studi Perbandingan Madzhab Indonesia (APPMI), dan Pengukuhan Dewan Pengurus Asosiasi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Indonesia (AHES).

Dalam sambutannya, Iza Fadri mengatakan bahwa, Indonesia memiliki beranekaragam suku, ras, adat, budaya, agama, pulau, dan bahasa. Oleh karena itu, kepada para mahasiswa, diharapkan turut berperan aktif mewujudkan kebinekaan di Nusantara. “Saya berharap mahasiswa tidak menjadi pelaku kejahatan narkoba, radikalisme, tawuran, dan lainnya. Serta berperan dalam menjaga dan memelihara kamtibmas, tertib berlalu lintas, dan menjadi contoh tauladan,” katanya.

Masih menurutnya, dari faktor internal, Indonesia didominasi masyarakat kelas bawah serta banyak dipengaruhi isu-isu yang dapat merusak persatuan. Sedangkan dari faktor eksternal, stigma siapa yang kuat menjadi pemenang dalam globalisasi turut menciptakan kerawanan.  “Masyarakat harus waspada dan berhati-hati dalam men-download, men-share berita yang tidak bisa diketahui kebenarannya,” tandasnya.

Ditegaskannya lagi, bahwa kita harus lebih teliti dalam mengekpos berita-berita yang belum diketahui kebenarannya. (lrf/sf)

Share This