Gedung FISIP, BERITA UIN Online— Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bersama partisipan The 2nd Studia Islamika International Conference 2017 dari berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi menginisiasi terbentuknya forum akademisi peneliti Islam kawasan Asia Tenggara (Southeast Asia Association for Islam Studies/SEAFIS). Forum diharapkan mewadahi pertukaran pemikiran dan pengalaman peneliti masyarakat dan Islam Asia Tenggara dari berbagai kawasan ini.

Inisiasi forum sendiri dibacakan langsung Sekretaris Dewan Penasihat PPIM UIN Jakarta, Prof. Dr. Jamhari Makruf, di Gedung FISIP, Kamis (10/8/2017). Pembacaan disampaikan langsung di hadapan para partisipan yang menjadi pembicara dan penanggap pada konferensi tersebut. “Forum akan menjadi wadah pertukaran pemikiran maupun pengalaman para akademisi-peneliti Islam dan Masyakarat di Asia Tenggara,” ujarnya.

Sebagai bagian dari entitas akademik global, jelas Guru Besar Antropologi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta ini, para peneliti Islam dan Masyarakat Islam kawasan Asia Tenggara perlu berbicara lebih banyak dalam forum-forum akademik dunia. Selain itu, forum juga diharap mampu memfasilitasi tampilnya para peneliti asal Asia Tenggara sendiri dalam menjelaskan dinamika sosial, politik, dan kultural masyarakat kawasannya ke publik lebih luas.

“Selama ini, kajian Islam dan masyarakat Muslim lebih banyak di kawasan Timur Tengah dan luar Asia Tenggara. Jika pun ada kajian Asia Tenggara, jumlahnya masih belum terlalu signifikan,” tandasnya lagi.

Terpisah, Jajang Jahroni Ph.D yang menjadi Ketua Pelaksana Konferensi menambahkan, inisiatif pembentukan forum peneliti Islam kawasan Asia Tenggara menjadi penting bagi masa depan riset di kawasan ini. Selain itu, pembentukannya juga diharap memutus sikap sebelah mata publik global penelitian Islam dan masyarakat dalam berbagai pendekatan.

“Forum ini diharap memperkuat jejaring sesama peneliti Islam dan masyarakat kawasan Asia Tenggara dengan Islam sebagai core riset dalam konteks lebih luas misal perjumpaannya dengan Buddhism dan keagamaan lokal lainnya,” paparnya.

Nantinya, sambung jebolan doktor antropologi Boston University ini, forum akan dibentuk dengan struktur dan kepengurusan dari akademisi yang selama ini menaruh perhatian besar terhadap riset Islam dan masyarakat kawasan Asia Tenggara seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra MA CBE. Diketahui, Azra menulis riset doktoral yang cukup berpengaruh bagi perhatian atas kajian Islam di kawasan ini, yakni The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘Ulama’ in the 17th and 18th Centuries (ASAA-Allen & Unwin dan University of Hawai’i Press, 2004).

“Nantinya, keanggotaan lembaga ini akan terbuka bagi siapa pun sarjana yang memiliki concern tentang Islam dan Masyarakat Asia Tenggara” pungkasnya lagi.

Sementara itu, The 2nd Studia Islamika International Conference 2017 resmi ditutup setelah mewadahi presentasi 83 paper para periset dari berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi berbagai negara. Konferensi bertema Southeast Asian Islam: Religious Radicalism, Democracy, and Global Trends sendiri menghadirkan tiga pembicara utama, yakni direktur pada Center for Buddhist-Muslim Understanding pada College of Religious Studies, Mahidol University, Thailand Prof. Dr. Imtiyaz Yusuf, Director of Institute for Policy Analysis of Conflict Dr Sidney Jones, dan Komisioner pada OIC Independent Permanent Human Rights Commission’s Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)

 

Share This