FKIK Susun Kurikulum Pendidikan Dokter Berbasis Pedesaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Syahida Inn, UINJKT Online – Keberpihakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta terhadap masyarakat dan pesantren di daerah pedesaan (rural area) terus ditingkatkan. Selain memberikan kuota 40 persen untuk lulusan pesantren dan madrasah aliyah untuk berkuliah di fakultas ini, kini, FKIK juga sedang merumuskan program agar lulusannya dapat bekerja di kawasan pedesaan. Di antara mereka yang diharapkan mengabdi pada masyarakat pedesaan adalah lulusan Program Studi Pendidikan Dokter.

Melalui kerja sama dengan Japan Bank for International Coorperation (JBIC), selama dua hari, Jumat-Sabtu (13-14/02) lalu, FKIK menggelar workshop Penyusunan Kurikulum Kekhususan Pendidikan Dokter Berbasis Pedesaan, di Syahida Inn. Workshop ini penting, sebab kebutuhan terhadap dokter di daerah pedesaan cukup besar. Sementara di sisi lain, tidak mudah untuk menghasilkan dokter yang siap dan termotivasi bekerja di daerah pedesaan.

Dekan FKIK Prof Dr MK Tajudin mengatakan kurikulum yang akan dibahas dalam workshop tersebut memuat kompetensi kekhususan mahasiswa Prodi Pendidikan Dokter yaitu sesuai kaidah Islam dan mampu bekerja di pedesaan. ”Jangan disalahpahami bahwa kurikulum ini untuk mendidik dokter ndeso, tapi mendidik dokter untuk siap praktik di pedesaan,” katanya. Kurikulum ini paling cepat bisa diterapkan dua tahun mendatang, imbuhnya.

Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari Makruf menegaskan rancangan program ini sebagai pembentukan ciri khas dokter FKIK UIN Jakarta dengan dokter dari Fakultas Kedokteran kampus lain. ”Tapi, yang terpenting adalah, ini untuk menciptakan keunggulan FKIK,” tegas Jamhari. Respon beberapa daerah terhadap FKIK, kata dia, sangat besar, misalnya dalam waktu dekat Pemerintah Daerah Jambi dan salah satu madrasah di Riau meminta agar diadakan nota kesepahaman pengiriman lulusan untuk studi di FKIK.

Staf Bidang Kemasyarakatan dan Kemitraan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Didi Rosidi SKM  mengatakan program tersebut merupakan langkah bagus karena sebagai bentuk perhatian khusus kepada masyarakat desa. Kadarusman, Wakil Direktur Bidang Pendidikan Pondok Modern Islam As-Salaam Sukoharjo, Surakarta, sependapat dengan Didi. ”Ini sebagai terobosan yang sangat baik karena berpihak pada kalangan grass root. Dalam jangka panjang program tersebut bisa sebagai proses islamisasi ilmu bidang kedokteran,” ucapnya.

Sedangkan Ahmad Sastra, Sekretaris Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor, menuturkan apa yang direncanakan FKIK ini merupakan niat yang sangat mulia karena belum dikerjakan sebelumnya oleh kampus lain.

Berbeda dengan nara sumber di atas, mantan Kaprodi Pendidikan Dokter Dr dr Sardjana SpOG-K SH tidak sependapat dengan terminologi kurikulum berbasis pedesaan. Ia menilai, civil effect-nya akan menimbulkan dikotomi antara dokter ndeso dan dokter kota. Terminologi berbasis pedesaan juga dinilai tidak marketable. ”Seharusnya kurikulum berbasis kompetensi, tapi kompetensi tentang pedesaan. Termoniloginya lebih baik kurikulum berbasis kompetensi rural atau remote area, jangan berbasis pedesaan,” usulnya.

Sardjana menjelaskan jika menggunakan terminologi kurikulum berbasis kompetensi pedesaan, maka FKIK akan menjadi Fakultas Kedokteran nomor dua di dunia yang mengimplementasikan kurikulum rural/remote area setelah salah satu Fakultas Kedokteran di negara bagian Arizona, Amerika Serikat. Menurut dia, bagi marketer nama itu penting, sebab kita akan jualan produk ke masyarakat. ”Untuk apa kita capek-capek nyusun/bangun Fakultas Kdokteran bila nggak laku di pasaran/masyarakat,” tegasnya.

Workshop tersebut membahas empat materi, yaitu rancangan kurikulum kedokteran berbasis pedesaan, research and teaching clinic (RTCU), model seleksi mahasiswa, dan pengembangan kemitraan (networking). Sedangkan pembicara workshop ini adalah para konsultan technical assistance JBIC, yaitu dr M Djauhari Wijaya Kusuma PFK, dr Dhanasari V Trisna CMFM, dr Zarni Amri MPH, dan dr Dwi Tyastuti MPH.

Djauhari menuturkan kurikulum berbasis pedesaaan dirancang dalam modul-modul yang terintegrasi berdasarkan kelompok kegiatan pelayanan dengan mengintegrasikan enam pokok bahasan. Adalah kesehatan reproduksi, tumbuh kembang anak sehat, kesehatan individu, keluarga dan lingkungan, peningkatan kesehatan lansia dan penyakit menahun, peningkatan kesehatan petani dan lingkungan pedesaan, dan program penjaminan mutu pelayanan dan pendidikan.

”Tugas dokter di rural area memang sangat berat apalagi di daerah terpencil, tapi ia harus bisa mengatasi kesehatan masyarakat di sana,” tutur Djauhari. Karena itu, lanjutnya, sebelum praktik di pedesaan, mahasiswa seyogiyanya memiliki sepuluh kompetensi dokter pelayanan primer di wilayah pedesaan, di antaranya kompetensi klinik dan kedokteran komunitas di pedesaan, mengerti kondisi tempat kerja dan praktik dokter di desa, manajemen praktik klinik di desa, dan manajemen sistem kesehatan di pedesaan.

Dhanasari mengatakan RCTU merupakan pusat pelayanan kesehatan tingkat primer yang telah melaksanakan pelayanan kepada masyarakat yang kemudian ditingkatkan bukan hanya menjadi pusat pelayanan, tapi juga pusat penelitian dan pendidikan serta pelatihan dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Pendirian RCTU ini, kata dia, memiliki beberapa tujuan salah satunya terwujudnya pusat pelayanan kedokteran primer yang dapat memenuhi keinginan masyarakat dengan menerapkan pelayanan kedokteran keluarga di daerah pedesaaan. “RCTU bisa dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas, membangun gedung sendiri atau mengikuti program Puskesmas,” katanya.

Sedangkan Zarni mengungkapkan seleksi mahasiswa FKIK harus diperketat supaya dapat menghasilkan dokter yang bisa bekerja di pedesaan dan sesuai dengan standar pendidikan profesi dokter dan standar kompetensi dokter Indonesia. [Nif/Ed]

FKIK Susun Kurikulum Pendidikan Dokter Berbasis Pedesaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Syahida Inn, UINJKT Online – Keberpihakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta terhadap masyarakat dan pesantren di daerah pedesaan (rural area) terus ditingkatkan. Selain memberikan kuota 40 persen untuk lulusan pesantren dan madrasah aliyah untuk berkuliah di fakultas ini, kini, FKIK juga sedang merumuskan program agar lulusannya dapat bekerja di kawasan pedesaan. Di antara mereka yang diharapkan mengabdi pada masyarakat pedesaan adalah lulusan Program Studi Pendidikan Dokter.

Melalui kerja sama dengan Japan Bank for International Coorperation (JBIC), selama dua hari, Jumat-Sabtu (13-14/02) lalu, FKIK menggelar workshop Penyusunan Kurikulum Kekhususan Pendidikan Dokter Berbasis Pedesaan, di Syahida Inn. Workshop ini penting, sebab kebutuhan terhadap dokter di daerah pedesaan cukup besar. Sementara di sisi lain, tidak mudah untuk menghasilkan dokter yang siap dan termotivasi bekerja di daerah pedesaan.

Dekan FKIK Prof Dr MK Tajudin mengatakan kurikulum yang akan dibahas dalam workshop tersebut memuat kompetensi kekhususan mahasiswa Prodi Pendidikan Dokter yaitu sesuai kaidah Islam dan mampu bekerja di pedesaan. ”Jangan disalahpahami bahwa kurikulum ini untuk mendidik dokter ndeso, tapi mendidik dokter untuk siap praktik di pedesaan,” katanya. Kurikulum ini paling cepat bisa diterapkan dua tahun mendatang, imbuhnya.

Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari Makruf menegaskan rancangan program ini sebagai pembentukan ciri khas dokter FKIK UIN Jakarta dengan dokter dari Fakultas Kedokteran kampus lain. ”Tapi, yang terpenting adalah, ini untuk menciptakan keunggulan FKIK,” tegas Jamhari. Respon beberapa daerah terhadap FKIK, kata dia, sangat besar, misalnya dalam waktu dekat Pemerintah Daerah Jambi dan salah satu madrasah di Riau meminta agar diadakan nota kesepahaman pengiriman lulusan untuk studi di FKIK.

Staf Bidang Kemasyarakatan dan Kemitraan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Didi Rosidi SKM  mengatakan program tersebut merupakan langkah bagus karena sebagai bentuk perhatian khusus kepada masyarakat desa. Kadarusman, Wakil Direktur Bidang Pendidikan Pondok Modern Islam As-Salaam Sukoharjo, Surakarta, sependapat dengan Didi. ”Ini sebagai terobosan yang sangat baik karena berpihak pada kalangan grass root. Dalam jangka panjang program tersebut bisa sebagai proses islamisasi ilmu bidang kedokteran,” ucapnya.

Sedangkan Ahmad Sastra, Sekretaris Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung, Bogor, menuturkan apa yang direncanakan FKIK ini merupakan niat yang sangat mulia karena belum dikerjakan sebelumnya oleh kampus lain.

Berbeda dengan nara sumber di atas, mantan Kaprodi Pendidikan Dokter Dr dr Sardjana SpOG-K SH tidak sependapat dengan terminologi kurikulum berbasis pedesaan. Ia menilai, civil effect-nya akan menimbulkan dikotomi antara dokter ndeso dan dokter kota. Terminologi berbasis pedesaan juga dinilai tidak marketable. ”Seharusnya kurikulum berbasis kompetensi, tapi kompetensi tentang pedesaan. Termoniloginya lebih baik kurikulum berbasis kompetensi rural atau remote area, jangan berbasis pedesaan,” usulnya.

Sardjana menjelaskan jika menggunakan terminologi kurikulum berbasis kompetensi pedesaan, maka FKIK akan menjadi Fakultas Kedokteran nomor dua di dunia yang mengimplementasikan kurikulum rural/remote area setelah salah satu Fakultas Kedokteran di negara bagian Arizona, Amerika Serikat. Menurut dia, bagi marketer nama itu penting, sebab kita akan jualan produk ke masyarakat. ”Untuk apa kita capek-capek nyusun/bangun Fakultas Kdokteran bila nggak laku di pasaran/masyarakat,” tegasnya.

Workshop tersebut membahas empat materi, yaitu rancangan kurikulum kedokteran berbasis pedesaan, research and teaching clinic (RTCU), model seleksi mahasiswa, dan pengembangan kemitraan (networking). Sedangkan pembicara workshop ini adalah para konsultan technical assistance JBIC, yaitu dr M Djauhari Wijaya Kusuma PFK, dr Dhanasari V Trisna CMFM, dr Zarni Amri MPH, dan dr Dwi Tyastuti MPH.

Djauhari menuturkan kurikulum berbasis pedesaaan dirancang dalam modul-modul yang terintegrasi berdasarkan kelompok kegiatan pelayanan dengan mengintegrasikan enam pokok bahasan. Adalah kesehatan reproduksi, tumbuh kembang anak sehat, kesehatan individu, keluarga dan lingkungan, peningkatan kesehatan lansia dan penyakit menahun, peningkatan kesehatan petani dan lingkungan pedesaan, dan program penjaminan mutu pelayanan dan pendidikan.

”Tugas dokter di rural area memang sangat berat apalagi di daerah terpencil, tapi ia harus bisa mengatasi kesehatan masyarakat di sana,” tutur Djauhari. Karena itu, lanjutnya, sebelum praktik di pedesaan, mahasiswa seyogiyanya memiliki sepuluh kompetensi dokter pelayanan primer di wilayah pedesaan, di antaranya kompetensi klinik dan kedokteran komunitas di pedesaan, mengerti kondisi tempat kerja dan praktik dokter di desa, manajemen praktik klinik di desa, dan manajemen sistem kesehatan di pedesaan.

Dhanasari mengatakan RCTU merupakan pusat pelayanan kesehatan tingkat primer yang telah melaksanakan pelayanan kepada masyarakat yang kemudian ditingkatkan bukan hanya menjadi pusat pelayanan, tapi juga pusat penelitian dan pendidikan serta pelatihan dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Pendirian RCTU ini, kata dia, memiliki beberapa tujuan salah satunya terwujudnya pusat pelayanan kedokteran primer yang dapat memenuhi keinginan masyarakat dengan menerapkan pelayanan kedokteran keluarga di daerah pedesaaan. “RCTU bisa dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas, membangun gedung sendiri atau mengikuti program Puskesmas,” katanya.

Sedangkan Zarni mengungkapkan seleksi mahasiswa FKIK harus diperketat supaya dapat menghasilkan dokter yang bisa bekerja di pedesaan dan sesuai dengan standar pendidikan profesi dokter dan standar kompetensi dokter Indonesia. [Nif/Ed]