Sekda Kepri TS Arif Fadillah meninjau ujian seleksi penerima beasiswa FKK UIN di SMA 1 Tanjungpinang, Sabtu (17/6). (Foto Humas Pemprov Kepri)

Sekda Kepri TS Arif Fadillah meninjau ujian seleksi penerima beasiswa FKK UIN di SMA 1 Tanjungpinang, Sabtu (17/6). (Foto Humas Pemprov Kepri).

Tanjungpinang, Berita UIN Online— 14 penghafal al-Qur’an se-Provinsi Kepulauan Riau lulusan SLTA sederajat mengikuti seleksi masuk kuliah ke Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) UIN Jakarta dengan beasiswa provinsi. Ujian yang dilaksanakan di SMUN 1 Tanjungpinang, Sabtu (17/7/2017), dibuka Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Tengku Arif Fadillah.

Dalam sambutannya Arif mengatakan, seleksi program beasiswa kuliah di FKIK ini terlaksana setelah Pemerintah Provinsi Kepri menandatangani kerjasama dengan Jakarta beberapa bulan lalu. Tujuannya adalah mencetak para dokter yang hafidz di Kepulauan Riau.

Dari ke-14 penghafal yang menjadi peserta seleksi, rata-rata memiliki hafalan al-Quran antara 10 juz, 20 juz dan 30 juz. “Ini merupakan kegiatan yang hasilnya tidak serta-merta saat ini, tapi lihat di empat hingga lima tahun ke depan. Betapa bangganya kita nanti, memiliki puluhan dokter yang hafiz di Kepri,” ungkapnya.

Arif menambahkan, penghafal yang lolol seleksi nantinya bisa kuliah dengan basiswa hingga selesai pada empat jurusan diminati, yaitu Prodi Pendidikan Dokter, Prodi Kesehatan Masyarakat, Prodi Farmasi, dan Prodi Ilmu Keperawatan. Program beasiswa ini sendiri merupakan tindak lanjut Pemprov Kepri setelah sebelumnya mewisuda 1.020 hafiz dan hafizah se-Kepri pada ajang STQ Kepri di Batam, beberapa waktu lalu.

Menanggapi itu, Dekan FKIK UIN Jakarta Prof. Dr. Arif Sumantri mengatakan, apa yang dilakukan oleh Pemprov Kepri ini sangat luar biasa untuk menghormati dan menghargai para hafiz. “Ini adalah awal bagi perubahan masa depan Provinsi Kepri,” tandasnya.

Sebagai apresiasi terhadap penghafal al-Qur’an, sambung Arif, FKIK UIN Jakarta sendiri menerapkan sistem tes khusus bagi mereka. Salah satunya, standar penilaiannya tidak sama dengan yang jalur reguler. “Oleh sebab itu, kami berharap adik-adik memanfaatkan kesempatan khusus ini dengan baik,” kata Arif.

Ditambahkan Arif, para mahasiswa berlatarbelakang penghafal al-Quran biasanya memiliki lima keunggulan yang tak dimiliki mahasiswa lainnya. Kelimanya yaitu kesederhanan, kejujuran, keikhlasan, kemandirian dan keimanan. “Lima ‘K’ ini adalah nilai lebih yang dimiliki para santri dibanding jalur umum,” jelasnya. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm/tribunnews)

Share This