Gedung FK, BERITA UIN Online – Fakultas Kedokteran (FK) UIN Jakarta tahun akademik 2018/2019 ini memberikan matrikulasi kepada sedikitnya 10 mahasiswa penerima beasiswa yang belajar di Program Studi Pendidikan Dokter. Matrikulasi diberikan agar para mahasiswa yang berasal dari berbagai pondok pesantren itu dapat mengenali lingkungan fakultas sekaligus untuk menguatkan sains dasar.

Acara pembukaan matrikusi dilakukan di Aula Gedung FK, Kamis (9/8/2018). Turut hadir Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fika Ekayanti, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama Flory Ratna Sari, Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah Kementerian Agama Ahmad Zayadi, dan Wali Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, M Riban Satia.

Kesepuluh mahasiswa yang dimatrikulasi merupakan hasil seleksi kerja sama program beasiswa santri berprestasi (PBSB). Sebanyak delapan mahasiswa dijaring melalui kerja sama antara UIN Jakarta dan Kementerian Agama serta dua mahasiswa hasil kerja sama antara UIN Jakarta dan Pemerintah Kota Palangkaraya.

Fika Ekayanti dalam sambutannya mengatakan, mahasiswa baru harus lebih dulu belajar mengenal lingkungan fakultas. Setelah itu menjadi agen perubahan dan pelopor bagi mahasiswa lain sebagai dokter muslim yang baik.

Ia juga menandaskan, mahasiswa FK harus memiliki komitmen untuk belajar, karena modal pemberian beasiswa ada pada diri para penerima beasiswa. Oleh karena itu, katanya, belajar di FK jangan dijadikan sebagai beban, tapi sebagai pemicu agar mahasiswa lebih serius lagi menempuh pendidikan.

“Matrikulasi ini setidaknya menjadi berkah bagi para santri yang lulus lewat program beasiswa,” katanya.

Secara terpisah, Ahmad Jayadi mengatakan, program beasiswa santri sangat strategis. Hal itu  merupakan salah satu upaya untuk mengakselerasi mobilitas sosial vertikal para santri. Artinya, santri tak hanya berada di pinggiran tapi harus bergerak ke atas secara vertikal.

Program beasiswa santri Kementerian Agama, menurut Jayadi, sudah berlangsung sejak tahun 2005. Hingga kini ada lebih dari 3.000 santri yang sudah difasilitasi pendidikannya melalui program tersebut.

“Alumninya kini sudah banyak dan berdiaspora ke berbagai belahan dunia, seperti di Korea, Amerika, dan Australia. Tentu kita berharap mereka sudah mengenal dunia kedokteran di berbagai negara,” katanya. (ns)

Share This