FITK Siap Lahirkan Tenaga Guru Andal dan Profesional

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SEBAGAI lembaga pendidikan dan tenaga keguruan atau LPTK, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) hingga kini terus berbenah diri, baik akademik maupun non-akademik.  Hal itu dilakukan agar FITK memiliki keunggulan sebagai pencetak guru andal dan professional. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan FITK kini, berikut wawancara Humaidi AS dari UINJKT Online dengan Dekan FITK Prof Dr Dede Rosyada MA yang berlangsung di ruang kerjanya, Selasa (26/5).

Apa yang membedakan antara FITK UIN Jakarta dengan fakultas kependidikan lain?

Perguruan tinggi itu ada dua macam, pertama, perguruan tinggi umum seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan semacamnya. Kedua, fakultas tarbiyah atau fakultas agama, baik negeri maupun swasta. Pada sasarnya, perbedaan antara FITK dengan, misalnya, UNJ dan semacamnya sangatlah tipis. Kenapa? Karena, dari sebelas prodi yang ada di tarbiyah, yang betul-betul ownership-nya Departemen Agama hanya tiga prodi, yaitu Pendidkan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Sedangkan yang lain seperti Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Bioligi, Fisika, Kimia, IPS, dan Manajemen Pendidikan standarisasi dan induknya ke Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Dalam penyelenggaraannya pun, prodi umum di bawah Depag harus mendapat rekomendasi dari Depdiknas. Namun, ketika standarisasinya adalah Depdiknas maka keberadaan FITK sama dengan universitas umum atau LPTK lainnya.

Kendati demikian, ada perbedaan antara prodi-prodi umum yang ada di tarbiyah dengan prodi-prodi yang ada di universitas umum, yaitu kita masih memiliki slot, celah untuk memberikan pemahaman atau ilmu-ilmu keagamaan dibandingkan dengan UNJ. Kalau UNJ atau kita sebut LPTK umum, hanya memberikan dua sistem kredit semester atau SKS untuk selamanya, selama mahasiswa belajar di prodi tersebut. Sementara di tarbiyah UIN Jakarta, mahasiswa mendapatkan pemahaman keagamaan atau ilmu-ilmu agama sebanyak minimal delapan SKS bahkan lebih. Tetapi, bergainingnya berada pada maksimum SKS yang diraih oleh mahasiswa. Sehingga target minimum SKS untuk keahlian dapat terpenuhi. Jadi, rata-rata di prodi umum untuk core keahliannya bisa mencapai antara 56 hingga 60 persen dari kurikulum, rata-rata antara 102 hingga 120 sks. Misalnya matematika 102 SKS, biologi 110 SKS ditambah pendidikan 36 SKS, dan pendidikan agama 8. Dengan demikian, mahasiswa mendapatkan 160 SKS. Jadi rata-rata, mahasiswa mengambil 154-156 SKS. Kenapa sampai 150 ke atas, karena pendidikan agama mereka mendapatkan 8 SKS. Oleh karena, pendidikan agama di fakultas tarbiyah lebih holistik. Kedua, kelebihan fakultas tarbiyah adalah masalah culture. Culture di sini lebih monolitik atau homogen, keragaman agama agak relatif homogen. Artinya, semua mahasiswa yang mendaftar di tarbiyah basic keagamaannya adalah sama, yaitu Islam. Walaupun mereka mengambil prodi umum tapi basis keluarganya minimal memiliki intensitas lebih tinggi untuk pengetahuan agama. Oleh karena itu, basic culture yang ada di sini menjadi distingsif dengan kampus-kampus lain.

Inikah nilai positifnya?

Ya, betul. Itulah kelebihan yang kedua. Sedangkan kelebihan yang pertama tadi adalah agamanya lebih kuat. Sedangkan distingsi yang ketiga adalah school culture-nya, lingkungan kampus atau religiusnya jauh lebih bisa dimenej oleh fakultas. Keempat, ekspresi-ekspresi dari kegiatan-kegiatan juga memiliki apresiasi kepada religiusitas yang kuat. Walaupun fakultas memberikan kebebasan untuk melakukan ekspresi, tapi values yang mereka bawa adalah religious values.

Adakah kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki oleh FITK, soal proses belajar belajar misalnya?

Tentu ada. Selain keunggulan-keunggulan yang telah dicapai oleh tarbiyah selama ini, yang bisa dinikmati oleh mahasiswa, tarbiyah juga menerapkan basis pembelajaran yang berbasis pada ICT. Kenapa saya katakan ICT? Karena semua dosen kami berikan blog untuk bahan ajar. Blog tersebut berada di website LPTK, www.lptk-uinjkt.ic.id. Dengan blog tersebut diwajibkan bagi semua untuk memasukkan bahan ajar satu minggu sebelum perkuliahan dimulai. Jadi, bahan ajar satu semester sudah masuk di blog tersebut. Dengan demikian, semua mahasiswa dapat mengakses, mem-browsing, dan men-downloud semua bahan ajar mata kuliahnya sebelum perkuliahaan dimulai. Kemudian, mahasiswa dapat menexplorenya ditambah dengan informasi-informasi lain dari sumbei-sumber yang kaya melalui internetdan yang lainnya. Untuk mendukung hal tersebut, di lingkungan tarbiyah dari lantai satu sampai lantai tujuh ada hotspot gratis selama 24 jam bagi mahasiswa. Jadi, fasilitas untuk mahasiswa sangat luar biasa dalam mendukung mereka untuk menjadi mahasiswa yang kompetitif. Dan ini sesuai dengan motto tarbiyah, unggul, kompetitif, dan professional. Mahasiswa tarbiyah harus menjadi sarjana yang unggul, yang profesional, dan mempunyai daya saing yang kuat saat mereka sudah masuk pasar. Selain itu, di seluruh kelas, kita lengkapi dengan fasilitas multimedia, termasuk juga laboratorium-laboratorium.

Bagaimana dengan metode pengajaran?

Sekarang kami sedang mengembangkan sebuah metode pembelajaran konstruktivisime. Teori konstruktivisme ini adalah sebuah teori pembelajaran yang berbasis pada aktivitas mahasiswa. Menurut metode ini, mahasiswa-lah yang lebih aktif dalam mengembangkan proses pembelajaran. Mahasiswa melakukan eksplorasi, mahasiswa mengelaborasi, baru terakhir dosen melakukan konfirmasi. Dikonfirmasikan antara kesimpulan mahasiswa dan kesimpulan dosen. Di senilah, mereka ada kontrol agar mereka tidak keluar dari yang diinginkan. Karena dalam teori konstruktivisme terdapat konstruktivism yang moderat. Artinya, ketika mereka mengambil kesimpulan, maka tidak semua kesimpulan yang didapat harus selalu diakomodasi. Karena kalau kesimpulannya salah, maka kesimpulan tersebut harus diperbaiki. Di sinilah fungsi konfirmasi tersebut. Inilah yang dilakukan di fakultas tarbiyah. Diharapkan dengan metode ini bisa menjadi joyfull bagi mahasiswa, joyfull bagi para dosen, dan juga bisa melahirkan mahasiwa yang lebih memiliki keunggulan, memiliki daya saing, dan menjadi seoran yang professional.

Anda menyebutkan bahwa mahasiswa tarbiyah dicetak untuk menjadi professional. Strategi apa yang dilakukan tarbiyah untuk mencapai profesionalitas tersebut?

Untuk mendukung professionalitas mereka, kami menerapkan praktikum long term, long term praktikum di lapangan. Jadi, mereka diharuskan berada di sekolah, minimal, empat bulan, full satu semester. Dan dalam satu semester itu, empat hari mereka harus di sekolah dan di kampus hanya satu hari. Di sekolah tidak hanya mengajar, tapi juga mengenal sekolah lebih dalam, di samping juga mengerjakan tugas-tugas kampus yang lain. Dengan mengajar, mereka mengaplikasikan dan mengimplimentasikan metode yang mereka plajari dan menerapkan metode yang mereka miliki.

Bagaimana dengan mutu dosen? Apakah semua dosen di sini sudah S-2, atau semuanya sudah S-3?

Kalau menyangkut dosen, hampir semua dosen di sini sudah S-2. Dosen yang S-1 hanya tiga orang dan mereka karena tidak bisa di S-2 kan, tinggal menunggu pensiun. Sedangkan yang sudah S-3, doktor, sebanyak 22 orang, 16 di antara adalah professor.

Upaya apa untuk meningkatkan mutu dosen tesebut?

Upaya yang kami lakukan, pertama-tama adalah memotivasi, mendorong, dan bahkan kami mengharuskan mereka yang S-2 untuk kuliah S-3, baik di dalam maupun di luar negeri.

Apakah Tarbiyah mengadakan kerjasama dengan univasitas-universitas lain?

Untuk lima tahun pertama ini kami belum melakukan kerjasama. Tentunya, kami ingin melakukan kerjasama dengan universitas lain, tapi kerjasama yang setara dan ini yang sulit. Kenapa? Karena orang belum begitu mengenal profile kita dan kita sedang usahakan untuk memperkenalka profil-profil kita. Peroblem yang lain adalah terdapat beberapa prodi yang belum memiliki doktor dan profesor. Oleh karena itu, ketika mereka ingin melakukan kerjasama, mereka masih berfikir ulang. Padahal kita menginginkan kerjasama yang equal, dan inilah yang menjadi problem. Walaupun standar minimum sudah terpenuhi, karena para dosen kita sudah S-2.

Dari prodi yang ada, apakah semuanya sudah terakreditasi?

Semuanya sudah terakreditasi, kecuali yang baru seperti prodi manajemen pendidikan (MP) yang mendapatkan izin baru tahun lalu, prodi bahasa Indonesia baru dibuka dua tahun lalu termasuk juga PGMI. Selain dari ketiga prodi tersebut semuanya sudah terakreditasi.

Ada rencana untuk membuka prodi baru?

Ya. Ada dua prodi baru yang sedang kita siapkan; pertama adalah bimbingan konseling, kedua adalah pendidikan anak usia dini (PAUD). Bimbingan konseling sedang kita godok, sedangkan PAUD sudah kita usulkan.

Untuk kedua prodi tersebut, apakah sudah bisa menerima mahasiswa untuk tahun ajaran 2009-20010?

Tidak, karena kita belum ada izin dari Dirjen. Kita bisa membuka atau menerima pendaftaran mahasiswa baru jika sudah mendapatkan izin.

Anda menulis buku dengan judul, Pendidikan Demokratis, apa maksudnya?

Undang-undang dasar 2003, pasal 4 mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia harus demokratis. Berdasarkan undang-undang tersebut saya kemudian menerjemahkan apa yang dimaksud pendidikan demokratis. Pendidikan demokratis, pada intinya, adalah pendidikan yang melakukan pelibatan semua unsur yang terkait dengan pendidikan. Contohnya adalah dalam penyusunan kurikulum sekolah. Penyusunan kurikulum tersebut tidak hanya disusun oleh guru dan kepala sekolah, tapi juga melibatkan orang tua dari peserta didik. Karena orang tua juga punya keinginan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Selain itu, menurut konsep pendidikan demokratis, pelibatan juga terdiri dari para pemakai sekolah atau para pemakai lulusan. Pemakai lulusan juga penting karena peserta didik yang lulus akan bekerja, dan di sinilah peran penting dari para pemakai lulusan tersebut sehingga ada relevansi antara pasar kerja dan lulusan sekolah. Inilah ide yang saya kembangkan dengan menyebut democratic education. Democratic education ini tidak terbatas pada kurikulum, tapi juga pembelajaran. Dalam pembelajaran yang dilibatkan adalah siswa, jadi pembelajaran itu adalah siswa. Kalau seorang guru mengajar di SMP dengan rentang waktu 80 menit, bagi seorang guru maksimalnya hanya 20 menit. Di awal 10 menit, di akhir 10 menit, atau di awal 5 menit dan di akhir 15 menit. 5 menit di awal untuk membuka, lalu menset ruang kelas untuk siswa belajar, nanti setelah mereka melakukan eksplorasi, elaborasi, dan konklusi, di akhir baru melakukan konfirmasi dengan guru selama 15 menit. Itulah yang dimaksud dengan democratic learning, pembelajaran demokratis. Dan pembelajaran demokratis ini adalah basis metode konstruktivisme yang telah saya sebutkan tadi.

Jadi, di tarbiyah metode ini sudah teraktualisasikan?

Kalau di tarbiyah sudah teraktualisasikan. Di Madrasah Pembangunan juga demikian. Lalu, selain dalam proses pembelajaran, tapi juga dalam manajemen. Manajemen demokratis adalah pelibatan seluruh stakeholder di tarbiyah misalnya, ada dekan, pudek, kajur, TU dan aparatnya. Ketika kita akan membuat program satu tahun ke depan, mereka diajak bicara bersama, membuat kesepakatan dan juga keputusan bersama. Dengan pelibatan tersebut maka dihasilkan sebuah keputusan bersama dan mengambil porsinya masing-masing. Inilah yang dimaksud dengan democratic managemen. Jadi, dalam democratic management tidak ada instruksi karena semuanya sudah di share, share out of outhority dan share of responsibility. Terdapat share tanggungjawab dan share kewenangan, semuanya sudah diatur menurut sistem. Dan manajemen demokratis berbasis pada sistem tidak pada otoritas, seperti di fakultas tarbiyah ini.

Terakhir, apa yang dimaksud dengan unggul, professional, dan kompetitif yang menjadi motto tarbiyah?

Unggul artinya sarjana yang akan kita cetak adalah sarjana yang unggul. Unggul dalam bidangnya masing-masing. Kalau dia jurusan matematik, maka dia unggul dalam penguasaan matematika dan juga unggul dalam mengajarkan teknik-teknik mengajarkan  atematika kepada para siswanya. Untuk menjadi mahasiswa yang unggul maka juga prosesnya juga harus unggul. Dan tidak mungkin, proses yang minimal akan menghasilkan lulusan yang unggul. Untuk mendapatkan hasil yang unggul maka prosesnya juga harus unggul dan harus maksimal. Bagaimana memaksimalkan proses tersebut? Seperti yang telah saya katakan, bahwa seminggu sebelum proses belajar belajar dimulai, bahan ajar sudah masuk di blog. Dengan demikian mahasiswa sudah bisa browsing, bisa download dan mahasiswa sudah tahu apa yang akan dipelajari. Sehingga mahasiswa masuk kelas tidak blankmind, tapi sudah siap dengan segala sasuatunya. Sedangkan dosesnnya harus masuk minimal 12 kali pertemuan selama satu semester. Jika ada dosen tidak mencapai batas minimal, maka untuk semester depan dia tidak akan diberi tugas, agar supaya konsisten. Karena kualitas akan ditentukan oleh frekwensi kehadiran seorang dosen bukan dengan kebesaran nama dosen. Jadi, ada dua faktor yang harus dipenuhi oleh seorang dosen, yaitu capabilitas dan loyalitas. Dengan capabilitas, dia harus menjadi longlife leaness, belajar sepanjang hayat, dan loyal, artinya seorang dosen harus loyal masuk kelas. Kalau dia tidak masuk kelas, maka mahasiswanya tidak akan terpintarkan. Sedangkan konpetitif adalah jika dia keluar, dia harus berkompetisi dengan alumni-alumni yang lain. Ketika dia menjadi kompetitor dia harus menjadi the winner. Dia harus siap mental untuk menjadi the winner tersebut, dan di sinilah mereka sudah dipersiapkan. Adapun yang ketiga, dia harus bekerja secara professional, inilah arti dari professional. Mengapa harus professional, karena alumni kita adalah agensi kita. Pencitraan fakultas berada pada alumninya. Oleh karena itu mereka harus bekerja dengan professional, artinya mereka harus bekerja dengan ilmu dan karakter keilmuannya. Selain itu, dia harus punya komitmen dengan pekerjaannya tersebut. Inilah yang dimaksud dengan professional. []  

 

    

FITK Siap Lahirkan Tenaga Guru Andal dan Profesional

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SEBAGAI lembaga pendidikan dan tenaga keguruan atau LPTK, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) hingga kini terus berbenah diri, baik akademik maupun non-akademik.  Hal itu dilakukan agar FITK memiliki keunggulan sebagai pencetak guru andal dan professional. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan FITK kini, berikut wawancara Humaidi AS dari UINJKT Online dengan Dekan FITK Prof Dr Dede Rosyada MA yang berlangsung di ruang kerjanya, Selasa (26/5).

Apa yang membedakan antara FITK UIN Jakarta dengan fakultas kependidikan lain?

Perguruan tinggi itu ada dua macam, pertama, perguruan tinggi umum seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan semacamnya. Kedua, fakultas tarbiyah atau fakultas agama, baik negeri maupun swasta. Pada sasarnya, perbedaan antara FITK dengan, misalnya, UNJ dan semacamnya sangatlah tipis. Kenapa? Karena, dari sebelas prodi yang ada di tarbiyah, yang betul-betul ownership-nya Departemen Agama hanya tiga prodi, yaitu Pendidkan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Sedangkan yang lain seperti Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Bioligi, Fisika, Kimia, IPS, dan Manajemen Pendidikan standarisasi dan induknya ke Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Dalam penyelenggaraannya pun, prodi umum di bawah Depag harus mendapat rekomendasi dari Depdiknas. Namun, ketika standarisasinya adalah Depdiknas maka keberadaan FITK sama dengan universitas umum atau LPTK lainnya.

Kendati demikian, ada perbedaan antara prodi-prodi umum yang ada di tarbiyah dengan prodi-prodi yang ada di universitas umum, yaitu kita masih memiliki slot, celah untuk memberikan pemahaman atau ilmu-ilmu keagamaan dibandingkan dengan UNJ. Kalau UNJ atau kita sebut LPTK umum, hanya memberikan dua sistem kredit semester atau SKS untuk selamanya, selama mahasiswa belajar di prodi tersebut. Sementara di tarbiyah UIN Jakarta, mahasiswa mendapatkan pemahaman keagamaan atau ilmu-ilmu agama sebanyak minimal delapan SKS bahkan lebih. Tetapi, bergainingnya berada pada maksimum SKS yang diraih oleh mahasiswa. Sehingga target minimum SKS untuk keahlian dapat terpenuhi. Jadi, rata-rata di prodi umum untuk core keahliannya bisa mencapai antara 56 hingga 60 persen dari kurikulum, rata-rata antara 102 hingga 120 sks. Misalnya matematika 102 SKS, biologi 110 SKS ditambah pendidikan 36 SKS, dan pendidikan agama 8. Dengan demikian, mahasiswa mendapatkan 160 SKS. Jadi rata-rata, mahasiswa mengambil 154-156 SKS. Kenapa sampai 150 ke atas, karena pendidikan agama mereka mendapatkan 8 SKS. Oleh karena, pendidikan agama di fakultas tarbiyah lebih holistik. Kedua, kelebihan fakultas tarbiyah adalah masalah culture. Culture di sini lebih monolitik atau homogen, keragaman agama agak relatif homogen. Artinya, semua mahasiswa yang mendaftar di tarbiyah basic keagamaannya adalah sama, yaitu Islam. Walaupun mereka mengambil prodi umum tapi basis keluarganya minimal memiliki intensitas lebih tinggi untuk pengetahuan agama. Oleh karena itu, basic culture yang ada di sini menjadi distingsif dengan kampus-kampus lain.

Inikah nilai positifnya?

Ya, betul. Itulah kelebihan yang kedua. Sedangkan kelebihan yang pertama tadi adalah agamanya lebih kuat. Sedangkan distingsi yang ketiga adalah school culture-nya, lingkungan kampus atau religiusnya jauh lebih bisa dimenej oleh fakultas. Keempat, ekspresi-ekspresi dari kegiatan-kegiatan juga memiliki apresiasi kepada religiusitas yang kuat. Walaupun fakultas memberikan kebebasan untuk melakukan ekspresi, tapi values yang mereka bawa adalah religious values.

Adakah kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki oleh FITK, soal proses belajar belajar misalnya?

Tentu ada. Selain keunggulan-keunggulan yang telah dicapai oleh tarbiyah selama ini, yang bisa dinikmati oleh mahasiswa, tarbiyah juga menerapkan basis pembelajaran yang berbasis pada ICT. Kenapa saya katakan ICT? Karena semua dosen kami berikan blog untuk bahan ajar. Blog tersebut berada di website LPTK, www.lptk-uinjkt.ic.id. Dengan blog tersebut diwajibkan bagi semua untuk memasukkan bahan ajar satu minggu sebelum perkuliahan dimulai. Jadi, bahan ajar satu semester sudah masuk di blog tersebut. Dengan demikian, semua mahasiswa dapat mengakses, mem-browsing, dan men-downloud semua bahan ajar mata kuliahnya sebelum perkuliahaan dimulai. Kemudian, mahasiswa dapat menexplorenya ditambah dengan informasi-informasi lain dari sumbei-sumber yang kaya melalui internetdan yang lainnya. Untuk mendukung hal tersebut, di lingkungan tarbiyah dari lantai satu sampai lantai tujuh ada hotspot gratis selama 24 jam bagi mahasiswa. Jadi, fasilitas untuk mahasiswa sangat luar biasa dalam mendukung mereka untuk menjadi mahasiswa yang kompetitif. Dan ini sesuai dengan motto tarbiyah, unggul, kompetitif, dan professional. Mahasiswa tarbiyah harus menjadi sarjana yang unggul, yang profesional, dan mempunyai daya saing yang kuat saat mereka sudah masuk pasar. Selain itu, di seluruh kelas, kita lengkapi dengan fasilitas multimedia, termasuk juga laboratorium-laboratorium.

Bagaimana dengan metode pengajaran?

Sekarang kami sedang mengembangkan sebuah metode pembelajaran konstruktivisime. Teori konstruktivisme ini adalah sebuah teori pembelajaran yang berbasis pada aktivitas mahasiswa. Menurut metode ini, mahasiswa-lah yang lebih aktif dalam mengembangkan proses pembelajaran. Mahasiswa melakukan eksplorasi, mahasiswa mengelaborasi, baru terakhir dosen melakukan konfirmasi. Dikonfirmasikan antara kesimpulan mahasiswa dan kesimpulan dosen. Di senilah, mereka ada kontrol agar mereka tidak keluar dari yang diinginkan. Karena dalam teori konstruktivisme terdapat konstruktivism yang moderat. Artinya, ketika mereka mengambil kesimpulan, maka tidak semua kesimpulan yang didapat harus selalu diakomodasi. Karena kalau kesimpulannya salah, maka kesimpulan tersebut harus diperbaiki. Di sinilah fungsi konfirmasi tersebut. Inilah yang dilakukan di fakultas tarbiyah. Diharapkan dengan metode ini bisa menjadi joyfull bagi mahasiswa, joyfull bagi para dosen, dan juga bisa melahirkan mahasiwa yang lebih memiliki keunggulan, memiliki daya saing, dan menjadi seoran yang professional.

Anda menyebutkan bahwa mahasiswa tarbiyah dicetak untuk menjadi professional. Strategi apa yang dilakukan tarbiyah untuk mencapai profesionalitas tersebut?

Untuk mendukung professionalitas mereka, kami menerapkan praktikum long term, long term praktikum di lapangan. Jadi, mereka diharuskan berada di sekolah, minimal, empat bulan, full satu semester. Dan dalam satu semester itu, empat hari mereka harus di sekolah dan di kampus hanya satu hari. Di sekolah tidak hanya mengajar, tapi juga mengenal sekolah lebih dalam, di samping juga mengerjakan tugas-tugas kampus yang lain. Dengan mengajar, mereka mengaplikasikan dan mengimplimentasikan metode yang mereka plajari dan menerapkan metode yang mereka miliki.

Bagaimana dengan mutu dosen? Apakah semua dosen di sini sudah S-2, atau semuanya sudah S-3?

Kalau menyangkut dosen, hampir semua dosen di sini sudah S-2. Dosen yang S-1 hanya tiga orang dan mereka karena tidak bisa di S-2 kan, tinggal menunggu pensiun. Sedangkan yang sudah S-3, doktor, sebanyak 22 orang, 16 di antara adalah professor.

Upaya apa untuk meningkatkan mutu dosen tesebut?

Upaya yang kami lakukan, pertama-tama adalah memotivasi, mendorong, dan bahkan kami mengharuskan mereka yang S-2 untuk kuliah S-3, baik di dalam maupun di luar negeri.

Apakah Tarbiyah mengadakan kerjasama dengan univasitas-universitas lain?

Untuk lima tahun pertama ini kami belum melakukan kerjasama. Tentunya, kami ingin melakukan kerjasama dengan universitas lain, tapi kerjasama yang setara dan ini yang sulit. Kenapa? Karena orang belum begitu mengenal profile kita dan kita sedang usahakan untuk memperkenalka profil-profil kita. Peroblem yang lain adalah terdapat beberapa prodi yang belum memiliki doktor dan profesor. Oleh karena itu, ketika mereka ingin melakukan kerjasama, mereka masih berfikir ulang. Padahal kita menginginkan kerjasama yang equal, dan inilah yang menjadi problem. Walaupun standar minimum sudah terpenuhi, karena para dosen kita sudah S-2.

Dari prodi yang ada, apakah semuanya sudah terakreditasi?

Semuanya sudah terakreditasi, kecuali yang baru seperti prodi manajemen pendidikan (MP) yang mendapatkan izin baru tahun lalu, prodi bahasa Indonesia baru dibuka dua tahun lalu termasuk juga PGMI. Selain dari ketiga prodi tersebut semuanya sudah terakreditasi.

Ada rencana untuk membuka prodi baru?

Ya. Ada dua prodi baru yang sedang kita siapkan; pertama adalah bimbingan konseling, kedua adalah pendidikan anak usia dini (PAUD). Bimbingan konseling sedang kita godok, sedangkan PAUD sudah kita usulkan.

Untuk kedua prodi tersebut, apakah sudah bisa menerima mahasiswa untuk tahun ajaran 2009-20010?

Tidak, karena kita belum ada izin dari Dirjen. Kita bisa membuka atau menerima pendaftaran mahasiswa baru jika sudah mendapatkan izin.

Anda menulis buku dengan judul, Pendidikan Demokratis, apa maksudnya?

Undang-undang dasar 2003, pasal 4 mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia harus demokratis. Berdasarkan undang-undang tersebut saya kemudian menerjemahkan apa yang dimaksud pendidikan demokratis. Pendidikan demokratis, pada intinya, adalah pendidikan yang melakukan pelibatan semua unsur yang terkait dengan pendidikan. Contohnya adalah dalam penyusunan kurikulum sekolah. Penyusunan kurikulum tersebut tidak hanya disusun oleh guru dan kepala sekolah, tapi juga melibatkan orang tua dari peserta didik. Karena orang tua juga punya keinginan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Selain itu, menurut konsep pendidikan demokratis, pelibatan juga terdiri dari para pemakai sekolah atau para pemakai lulusan. Pemakai lulusan juga penting karena peserta didik yang lulus akan bekerja, dan di sinilah peran penting dari para pemakai lulusan tersebut sehingga ada relevansi antara pasar kerja dan lulusan sekolah. Inilah ide yang saya kembangkan dengan menyebut democratic education. Democratic education ini tidak terbatas pada kurikulum, tapi juga pembelajaran. Dalam pembelajaran yang dilibatkan adalah siswa, jadi pembelajaran itu adalah siswa. Kalau seorang guru mengajar di SMP dengan rentang waktu 80 menit, bagi seorang guru maksimalnya hanya 20 menit. Di awal 10 menit, di akhir 10 menit, atau di awal 5 menit dan di akhir 15 menit. 5 menit di awal untuk membuka, lalu menset ruang kelas untuk siswa belajar, nanti setelah mereka melakukan eksplorasi, elaborasi, dan konklusi, di akhir baru melakukan konfirmasi dengan guru selama 15 menit. Itulah yang dimaksud dengan democratic learning, pembelajaran demokratis. Dan pembelajaran demokratis ini adalah basis metode konstruktivisme yang telah saya sebutkan tadi.

Jadi, di tarbiyah metode ini sudah teraktualisasikan?

Kalau di tarbiyah sudah teraktualisasikan. Di Madrasah Pembangunan juga demikian. Lalu, selain dalam proses pembelajaran, tapi juga dalam manajemen. Manajemen demokratis adalah pelibatan seluruh stakeholder di tarbiyah misalnya, ada dekan, pudek, kajur, TU dan aparatnya. Ketika kita akan membuat program satu tahun ke depan, mereka diajak bicara bersama, membuat kesepakatan dan juga keputusan bersama. Dengan pelibatan tersebut maka dihasilkan sebuah keputusan bersama dan mengambil porsinya masing-masing. Inilah yang dimaksud dengan democratic managemen. Jadi, dalam democratic management tidak ada instruksi karena semuanya sudah di share, share out of outhority dan share of responsibility. Terdapat share tanggungjawab dan share kewenangan, semuanya sudah diatur menurut sistem. Dan manajemen demokratis berbasis pada sistem tidak pada otoritas, seperti di fakultas tarbiyah ini.

Terakhir, apa yang dimaksud dengan unggul, professional, dan kompetitif yang menjadi motto tarbiyah?

Unggul artinya sarjana yang akan kita cetak adalah sarjana yang unggul. Unggul dalam bidangnya masing-masing. Kalau dia jurusan matematik, maka dia unggul dalam penguasaan matematika dan juga unggul dalam mengajarkan teknik-teknik mengajarkan  atematika kepada para siswanya. Untuk menjadi mahasiswa yang unggul maka juga prosesnya juga harus unggul. Dan tidak mungkin, proses yang minimal akan menghasilkan lulusan yang unggul. Untuk mendapatkan hasil yang unggul maka prosesnya juga harus unggul dan harus maksimal. Bagaimana memaksimalkan proses tersebut? Seperti yang telah saya katakan, bahwa seminggu sebelum proses belajar belajar dimulai, bahan ajar sudah masuk di blog. Dengan demikian mahasiswa sudah bisa browsing, bisa download dan mahasiswa sudah tahu apa yang akan dipelajari. Sehingga mahasiswa masuk kelas tidak blankmind, tapi sudah siap dengan segala sasuatunya. Sedangkan dosesnnya harus masuk minimal 12 kali pertemuan selama satu semester. Jika ada dosen tidak mencapai batas minimal, maka untuk semester depan dia tidak akan diberi tugas, agar supaya konsisten. Karena kualitas akan ditentukan oleh frekwensi kehadiran seorang dosen bukan dengan kebesaran nama dosen. Jadi, ada dua faktor yang harus dipenuhi oleh seorang dosen, yaitu capabilitas dan loyalitas. Dengan capabilitas, dia harus menjadi longlife leaness, belajar sepanjang hayat, dan loyal, artinya seorang dosen harus loyal masuk kelas. Kalau dia tidak masuk kelas, maka mahasiswanya tidak akan terpintarkan. Sedangkan konpetitif adalah jika dia keluar, dia harus berkompetisi dengan alumni-alumni yang lain. Ketika dia menjadi kompetitor dia harus menjadi the winner. Dia harus siap mental untuk menjadi the winner tersebut, dan di sinilah mereka sudah dipersiapkan. Adapun yang ketiga, dia harus bekerja secara professional, inilah arti dari professional. Mengapa harus professional, karena alumni kita adalah agensi kita. Pencitraan fakultas berada pada alumninya. Oleh karena itu mereka harus bekerja dengan professional, artinya mereka harus bekerja dengan ilmu dan karakter keilmuannya. Selain itu, dia harus punya komitmen dengan pekerjaannya tersebut. Inilah yang dimaksud dengan professional. []