Film Shock Wave, Pertaruhan Hidup Jurnalis Kongo

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





Reporter: Irma Wahyuni

 

PU, UINJKT Online – Menjadi seorang jurnalis perlu komitmen, kerja keras, dan keberanian untuk mengungkapkan fakta yang terjadi di masyarakat. Setidaknya itulah yang tergambar dari film dokumenter berjudul Shock Wave, salah satu film yang diputar dalam rangkaian acara Canadian Week, di Perpustakaan Utama, Senin (1/12) lalu.

 

Film garapan sutradara Pierre Mignault dan Helene Magny ini berkisah tentang perjuangan jurnalis Radio Okapi untuk mengekspos penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan militer yang terjadi di Republik Demokratik Kongo. Demi menyuarakan kebenaran dan membela rakyat, mereka rela mempertaruhkan hidupnya.

 

Menurut Dosen Komunikasi Massa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto MSi, film ini merupakan film dokumenter berjenis feature dengan pendekatan human interest. Shock Wave mencoba menyajikan fenomena jurnalisme di suatu wilayah di pedalaman Kongo.  Development Journalism juga ditampilkan dalam film ini sebagai salah satu problem solving bagi kekerasan yang terjadi di sana. Penonton dapat menyaksikan betapa rumitnya praktik jurnalisme di negara yang dilanda konflik seperti Kongo.

 

“Ada unsur human interest yang kuat yang ditunjukkan oleh para jurnalis dalam film tersebut. Mereka menjalankan profesinya tidak semata-mata untuk memberitakan, tetapi juga mampu membangun kesadaran masyarakat. Dan itulah jiwa yang hendaknya dimiliki oleh setiap wartawan,”  kata Gun Gun yang kini tengah menyelesaikan Program Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran.

 

Film berdurasi 52 menit ini mendapat sambutan positif dari sekitar 100-an mahasiswa yang menonton. Mereka tampak serius mengikuti film ini hingga akhir acara. Selama pemutaran, mahasiswa diminta mengisi kuisioner yang berisi kesan mereka terhadap film tersebut.

 

Pemutaran film dipilih sebagai salah satu agenda dalam Canadian Week yang digelar sejak 1 hingga 5 Desember 2008 karena film merupakan media hiburan yang banyak diminati masyarakat. Film juga merefleksikan fenomena yang terjadi di masyarakat. Bagi para penonton yang cerdas, film bahkan tak hanya sebuah media hiburan, tetapi juga merupakan media yang menstimulasi mereka untuk berfikir, sehingga memberikan wawasan baru. Selain pemutaran film, Canadian Week juga diramaikan dengan seminar dan konferensi seputar Kanada. [Nif/Ed]





Film Shock Wave, Pertaruhan Hidup Jurnalis Kongo

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





Reporter: Irma Wahyuni

 

PU, UINJKT Online – Menjadi seorang jurnalis perlu komitmen, kerja keras, dan keberanian untuk mengungkapkan fakta yang terjadi di masyarakat. Setidaknya itulah yang tergambar dari film dokumenter berjudul Shock Wave, salah satu film yang diputar dalam rangkaian acara Canadian Week, di Perpustakaan Utama, Senin (1/12) lalu.

 

Film garapan sutradara Pierre Mignault dan Helene Magny ini berkisah tentang perjuangan jurnalis Radio Okapi untuk mengekspos penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan militer yang terjadi di Republik Demokratik Kongo. Demi menyuarakan kebenaran dan membela rakyat, mereka rela mempertaruhkan hidupnya.

 

Menurut Dosen Komunikasi Massa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto MSi, film ini merupakan film dokumenter berjenis feature dengan pendekatan human interest. Shock Wave mencoba menyajikan fenomena jurnalisme di suatu wilayah di pedalaman Kongo.  Development Journalism juga ditampilkan dalam film ini sebagai salah satu problem solving bagi kekerasan yang terjadi di sana. Penonton dapat menyaksikan betapa rumitnya praktik jurnalisme di negara yang dilanda konflik seperti Kongo.

 

“Ada unsur human interest yang kuat yang ditunjukkan oleh para jurnalis dalam film tersebut. Mereka menjalankan profesinya tidak semata-mata untuk memberitakan, tetapi juga mampu membangun kesadaran masyarakat. Dan itulah jiwa yang hendaknya dimiliki oleh setiap wartawan,”  kata Gun Gun yang kini tengah menyelesaikan Program Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran.

 

Film berdurasi 52 menit ini mendapat sambutan positif dari sekitar 100-an mahasiswa yang menonton. Mereka tampak serius mengikuti film ini hingga akhir acara. Selama pemutaran, mahasiswa diminta mengisi kuisioner yang berisi kesan mereka terhadap film tersebut.

 

Pemutaran film dipilih sebagai salah satu agenda dalam Canadian Week yang digelar sejak 1 hingga 5 Desember 2008 karena film merupakan media hiburan yang banyak diminati masyarakat. Film juga merefleksikan fenomena yang terjadi di masyarakat. Bagi para penonton yang cerdas, film bahkan tak hanya sebuah media hiburan, tetapi juga merupakan media yang menstimulasi mereka untuk berfikir, sehingga memberikan wawasan baru. Selain pemutaran film, Canadian Week juga diramaikan dengan seminar dan konferensi seputar Kanada. [Nif/Ed]