Film Sang Kyai Laik Ditonton

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, BERITA UIN Online–Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Moh. Matsna HS, MA, mengapresiasi peluncuran film Sang Kyai sebagai tayangan yang laik ditonton masyarakat Indonesia.

“Mewakili pimpinan UIN Jakarta, kami menyambut baik kehadiran film Hadratusyaikh Sang Kyai ini,” ujar Matsna dalam sambutannya pada acara diskusi “Behind the Scene Hadratusyaikh Sang Kyai” di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, Kamis (16/5/2013).

Menurutnya, film yang  mengisahkan pribadi dan ketokohan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi massa (ormas) Nahdlatul Ulama (NU), itu mengandung nilai-nilai kehidupan dan perjuangan yang laik diteledani bagi masyarakat Indonesia. “Mestinya film-film seperti ini diperbanyak,” sarannya.

Dijelaskannya, film-film seperti itu seharus diperbanyak, sehingga masyarakat Indonesia mengenal tokoh-tokoh dan ulama Islam yang selama ini berjuang untuk bangsa. “Jangan film-film cinta cengeng yang diperbanyak, karena ini merusak karakter generasi muda,” imbuh Guru Besar Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

Karena itu pula, ia mendorong kemunculan film-film serupa dari sivitas akademik UIN Jakarta maupun insan perfilman.

Sementara Ketua Dewan Koordinator Nasional Garda Bangsa, M. Hanif Dzakiri, menjelaskan, film ini akan diputar di 21 kota se-Indonesia dan sejumlah perguruan tinggi. “Kalau diijinkan oleh pengelola Bioskop 21, kita akan putar di seluruh kota dan kampus,” katanya.

Menurut rencana, film yang disponsori Garda Bangsa ini, akan tayang perdana pada Senin, (20/5/2013) di seluruh jaringan Bioskop 21. “Kita akan putar secara serentak pada tanggal 20 Mei di 21 kota,” terang politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ditegaskannya, Garda Bangsa menghelat film tersebut sebagai upaya untuk meluruskan sejarah bangsa Indonesia. “Selama ini di buku-buku sejarah sangat sedikit kita temukan peranan dan kontribusi para ulama, termasuk KH. Hasyim Asy’ari. Padahal peristiwa 10 November, itu tidak bisa lepas dari peran dan fatwa beliu,” tandasnya.

Acara yang digelar sejak pukul 13.25 WIB ini dihadiri hampir seribuan pengunjung. Sebanyak 800-an kursi yang tersedia tak mampu memenuhi animo pengunjung. Bahkan, puluhan peserta lainnya terpaksa berdiri dan duduk lesehan.(D Antariksa/Saifudin)