Film Khuda Kay Liye, Realitas Ketegangan Islam Radikal dan Moderat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

 

Gedung FUF, UINJKT Online – Islam dipandang dalam dua perspektif yang berbeda, moderat dan radikal. Perbedaan pandangan diantara pemeluknya dapat menyebabkan kedua kubu tersebut bertikai. Realitas itu terlihat dalam film berjudul ”Khuda Kay Liye: In the Name of God” yang diputar di Teater FUF, Jumat (12/9).

 

Film yang disutradarai Shoaib Mansoor menceritakan pertentangan antara penganut Islam Moderat dan Liberal yang terangkai dalam tiga kisah yang berbeda. Yakni seorang penyanyi pop yang berada di bawah pengaruh ekstremis Islam, seorang penduduk Inggris keturunan Pakistan yang dipaksa menikah dengan sepupunya dan seorang pria yang ditahan secara ilegal di AS pasca-serangan 11 September.

 

Pemutaran film dan diskusi “Khuda Kay Liye : In the Name of God” merupakan acara BEM Jurusan Perbandingan Agama bekerjasama dengan Islamic Movement for Non-Violence (IMN). Acara ini dibuka oleh duta besar Pakistan untuk Indonesia Major General (Retd) Ali Baz.

 

Dalam sambutannya Baz mengatakan, meskipun film ini mendapat penghargaan dan pujian di luar negeri, tapi di negerinya sendiri, Pakistan, film ini menuai kritik dan dilarang tayang.

”Film ini juga menggambarkan kekerasan dan ketidakadilan yang dialami muslim di Amerika dan Eropa pasca-11 September. Ini bagus untuk ditonton,” ujar Baz. [Nif/Ed]

Film Khuda Kay Liye, Realitas Ketegangan Islam Radikal dan Moderat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

 

Gedung FUF, UINJKT Online – Islam dipandang dalam dua perspektif yang berbeda, moderat dan radikal. Perbedaan pandangan diantara pemeluknya dapat menyebabkan kedua kubu tersebut bertikai. Realitas itu terlihat dalam film berjudul ”Khuda Kay Liye: In the Name of God” yang diputar di Teater FUF, Jumat (12/9).

 

Film yang disutradarai Shoaib Mansoor menceritakan pertentangan antara penganut Islam Moderat dan Liberal yang terangkai dalam tiga kisah yang berbeda. Yakni seorang penyanyi pop yang berada di bawah pengaruh ekstremis Islam, seorang penduduk Inggris keturunan Pakistan yang dipaksa menikah dengan sepupunya dan seorang pria yang ditahan secara ilegal di AS pasca-serangan 11 September.

 

Pemutaran film dan diskusi “Khuda Kay Liye : In the Name of God” merupakan acara BEM Jurusan Perbandingan Agama bekerjasama dengan Islamic Movement for Non-Violence (IMN). Acara ini dibuka oleh duta besar Pakistan untuk Indonesia Major General (Retd) Ali Baz.

 

Dalam sambutannya Baz mengatakan, meskipun film ini mendapat penghargaan dan pujian di luar negeri, tapi di negerinya sendiri, Pakistan, film ini menuai kritik dan dilarang tayang.

”Film ini juga menggambarkan kekerasan dan ketidakadilan yang dialami muslim di Amerika dan Eropa pasca-11 September. Ini bagus untuk ditonton,” ujar Baz. [Nif/Ed]