Kegiatan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji TNI AL, Senin (17/04), bertempat di Auditorium Yos Sudarso Denma Mabes AL, Jakarta.

Jakarta, BERITA UIN Online— Pembimbing ibadah haji mempunyai fungsi, peran, dan tugas yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dibidang penyelenggaraan ibadah haji, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga professional yang bermanfaat. Upaya untuk melakukan peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji merupakan tuntutan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Perawatan Personel TNI Angkatan Laut laksamana pertama TNI Ir. Ade Sumadi MAP, saat membuka kegiatan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji TNI AL, Senin (17/04), bertempat di Auditorium Yos Sudarso Denma Mabes AL, Jakarta.

Ditambahkannya, sertifikasi pembimbing manasik haji TNI AL, ini merupakan kerjasama Subdisbintal Dinas Perawatan Personel Angkatan Laut dengan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, dan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.

“Kerjasama ini telah berjalan sejak tahun 2014, semoga terus memberikan sumbangsih positif bagi semuanya,”ujar Ade.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan ini, Direktur Pembinaan Haji Kementerian Agama RI Dr Muhajirin Yanis, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dr Arief Subhan MA, Sespusbintal Mabes TNI Kolonel Sus Dr H Kemal Syah, Kadisbintal TNI Angkatan Darat, Kadiswatpersau yang diwakili oleh Kolonel Sus Drs H Zaitul Mukhlis, dan Kepala Biro Watpers SSDM Mabes POLRI AKBP Maskat.

Rektor UIN Jakarta, dalam sambutan pada acara yang diikuti 45 orang peserta yang terdiri dari  Perwira Rohani/Rohaniawan TNI AL, TNI AD, TNI AU, Pusbintal TNI, dan Kepolisian RI tersebut mengatakan, bahwa dirinya mengapresiasi atas kerjasama yang dipercayakan kepada UIN Jakarta.

Dede juga berharap, agar kerjasama ini dapat terus berlangsung untuk meningkatkan sinergi antara UIN Jakarta dengan aparat TNI, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya pembimbing manasik haji yang profesional.

Di tempat sama, Dekan FIDK Dr Arief Subhan MA dalam sambutannya mengatakan, bahwa Haji merupakan ibadah yang kompleks. Pasalnya, karena ibadah haji menuntut sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.

“Persyaratan itu meliputi persyaratan yang bersifat syar’iyah dan non-syar’iyah. Persyaratan syar’iyah terutama berkaitan dengan individu muslim itu sendiri, seperti kemampuan materi, fisik, dan lain-lain. Sedangkan persyaratan yang bersifat non-syar’iyah  berkaitan dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan haji oleh pemerintah, termasuk di dalamnya menyediakan pembimbing dan petugas haji yang berkualitas,” jelas Arief.

Masih menurut Subhan, dalam konteks Indonesia, persyaratan yang bersifat non-syar’iyah tersebut memiliki posisi yang tidak kalah penting dibandingkan dengan yang pertama. Hal ini karena jama’ah haji Indonesia merupakan kelompok sosial Muslim yang heterogen, baik dari segi sosial-ekonomi, pendidikan, maupun asal wilayah. Heterogenitas yang demikian besar itu jelas membutuhkan manajeman haji—termasuk di dalamnya pembimbing haji—yang berkualitas sehingga masalah-masalah sosial dan agama dalam pelaksanaan ibadah haji dapat diminimalisir. (lrf/mnh)

 

Share This