Depok, BERITA UIN Online— Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta menggelar Simposium Nasional dan Temu Program Studi seluruh FIDIKOM/FDK Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Kegiatan yang digelar di Pusat Pelatihan Pendidikan Kemendiknas, Depok, Jawa Barat, dan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari ke depan sejak dibuka Rabu sore ini (12/9/2018).

Simposium dan temu program studi sendiri dibuka langsung Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA. Selain itu, kegiatan bertema Dakwah dan Tantangan Dunia Baru: Menilik Ulang Media dan Institusi Dakwah ini dihadiri puluhan ketua program studi di lingkungan FIDIKOM/FDK PTKIN.

Dalam laporannya, Dekan FIDIKOM Dr. Arif Subhan MA mengungkapkan kegiatan bertujuan memfasilitasi tukar pengalaman dan gagasan para pengelola prodi sehingga menghasilkan rekomendasi pengembangan akademik yang lebih baik. “Simposium dan temu program studi ini bertujuan melihat kondisi terkini sekaligus mendorong pembaruan orientasi kurikulum sehingga kita bisa mencetak alumni dengan kualitas lebih baik,” katanya.

Dalam pembukaannya, Rektor mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan sekaligus berharap kegiatan mampu mendinamisasi kurikulum keilmuan program studi di lingkungan FIDIKOM/FDK PTKIN. Menurutnya, dinamisasi kurikulum merupakan keharusan dalam mencetak sarjana fakultas dakwah berkualitas.

“Terlebih, mengacu pada pengalaman UIN Jakarta, fakultas dakwah merupakan rising star di lingkungan fakultas agama yang diminati para calon mahasiswa,” jelasnya.

Tingginya peminat, jelasnya, berarti tingginya ekspektasi publik atas kualitas alumni fakultas tersebut. Sejalan dengan itu, Rektor mengingatkan agar para pengelola prodi di lingkungan FIDIKOM/FDK terus melakukan dinamisasi kurikulum dalam menyiapkan alumni siap masuk wilayah profesional.

Berbeda dengan prodi berbasis keilmuan dan profesi spesifik seperti kedokteran, terangnya, keilmuan dan pilihan profesi prodi di lingkungan fakultas dakwah bersifat terbuka. Artinya, pilihan profesi alumni bersifat cair dimana mereka bisa memilih profesi sesuai bidang keilmuan yang didapat atau berdasar bidang yang diminati.

Sebaliknya, sarjana alumni dari program studi dengan basis keilmuan berbeda namun memiliki skil keilmuan dakwah dan komunikasi memiliki peluang untuk berkarya di wilayah profesi ini. Kondisi demikian, sebutnya, memungkinkan terjadinya kompetisi ketat saat masuk ke wilayah profesi tersebut.

“Untuk itu, kita perlu memikirkan bagaimana program studi di lingkungan fakultas ini bisa memberikan celah bagi mereka untuk bisa berkarya di wilayah profesi berbeda,” sambungnya.

Terpisah, para kepala prodi menyambut baik diselenggarakannya kegiatan. Ketua Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) UIN Jakarta Rini Laili Prihatini M.Si berharap kegiatan bisa menjadi media pertukaran gagasan pengelolaan program studi.

“Di lingkungan Prodi BPI, misalnya. Isu yang ingin kami diskusikan adalah bagaimana mendinamisasi kurikulum dalam menghasilkan sarjana penyuluhan sesuai kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Senada dengan Rini, Ketua Program Studi Manajemen Dakwah UIN Sumatera Utara Medan Dr Hasnun Jauhari Ritonga MA menyambut baik penyelenggaraan program. “Melalui simposium ini, kami ingin menggali pengalaman dari rekan-rekan pengelola program studi yang sama,” pungkasnya. (farah nh/yuni nk/zm)

Share This