Gd. Psikologi, Berita UIN Online— Fakultas Psikologi UIN Jakarta menggelar seminar nasional dan peluncuran buku yang berjudul The meaning of Life, karya guru besar Fakultas Psikologi UIN Jakarta Joni P. Soebandono, Kamis (19/04), bertempat di Gedung Teater Prof. Dzakiah Darajat lantai 1.

Seminar dan peluncuran buku yang dimoderatori oleh dosen Fakultas Psikologi Dr Yunita Faela Nisa, menghadirkan Prof Dr Komruddin Hidayat (Guru Besar Psikologi UIN Jakarta), Prof Dr M. Enoch Markum (Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia), dan Dr Joni P Soebandono penulis buku “Pencarian Makna Kehidupan” yang diluncurkan pada kegiatan tersebut sebagai narasumber.

Selain itu, turut hadir pula Dekan Fakultas Psikologi, Prof Dr Abdul Mujib, mantan  Dekan  Fakultas Psikologi Jahja Umar PhD, Mantan Rektor Universitas Padjadjaran Prof Dr Himendra Wargahadibrata Umum, para kolega  International Business Machines Corporation (IBM), sivitas akademika Fakultas Psikologi, serta tamu undangan yang datang dari berbagai tempat.

Dalam sambutannya, Abdul Mujib mengungkapkan kebahagiaanya atas dipercayanya Fakultas psikologi UIN Jakarta sebagai tempat penyelenggara acara tersebut.

“Terimakasih kami ucapkan kepada guru besar tercinta Pak Dr Joni Soebandono yang telah menjadikan fakultas psikologi sebagai home based dan mempercayakan kami sebagai bagian dari penyelenggaraan kegiatan seminar nasional dan peluncuran buku ini. Dan yang lebih membahagiakan lagi hari ini kita akan ditemani para guru besar yang memiliki kepakaran di bidang ini yang akan membagikan ilmu terkait the meaning of life yang memang menjadi topik utama pada kegiatan hari ini,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Komaruddin mengungkapkan bahwa untuk mengerti tentang The Meaning of Life erat kaitannya dengan religiusitas dan spiritual, bahwa hidup ini tidak hanya sekedar pada proses eksistensi nabati dan hewani tetapi juga ada unsur rohani yang ada dalam diri kita dimana itu adalah chip yang dipasangkan oleh Tuhan pada tubuh kita.

“Kebermaknaan dapat di peroleh dari bagaimana kita memaknai kematian sebagai suatu yang membahagiakan layaknya wisuda yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa yang melakukan kegiatan akademik dengan baik, seperti pulang ke rumah yang menjadi suatu yang menyenangkan, jika tidak berati ada sesuatu yang salah dengan pulang kerumah atau wisuda tersebut. Ini adalah analogi bagaimana manusia mendapatkan kebermaknaan untuk sesuatu yang menjadi tujuannya dan terhadap apa-apa saja yang membuat kehidupannya jauh lebih bermakna,” jelas Komarudin.

Selain itu, Enoch dalam penyampaiannya juga menambahkan bahwa kehidupan yang bermakna dapat dimiliki seseorang melalui, pengalaman traumatis, modelling, objektivitas diri, berpikir positif dan bersyukur dan seirama dengan apa yang diungkapkan Komaruddin.

Pada waktu yang sama, Soebandono selaku penulis menjelaskan, bahwa kebutuhan akan kehidupan bermakna dapat dirasakan seseorang seiring dengan tujuan kehidupan yang jelas, kreatifitas, perilaku dan sudut pandang seseorang. (lrf/rdr).