Fakultas Psikologi Bidani Kelahiran API

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof Dr Harun Nasution, BERITA UIN Online–Kelahiran Asosiasi Psikologi Islami (API) tidak bisa dilepaskan dari Fakultas Psikologi (FPsi) UIN Jakarta. Meskipun fakultas ini berumur 10 tahun dan API juga berumur 10 tahun, tetapi keberadaan dan kelahiran API itu  dimulai dari UIN Jakarta. Kelahiran API melalui proses yang cukup panjang.

“API dilahirkan dari ibu kandung FPSi UIN Jakarta,” ujar Ketua API Subandi PhD dalam sambutannya pada Seminar dan Temu Ilmiah bertajuk “Peran Psikologi Islami dan Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter Bangsa” di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Selasa (17/7).

Dengan penyelenggaraan kegiatan ilmiah ini, aku dosen Fakultas Psikologi UGM itu, artinya API kembali ke rumahnya sendiri. “Di beberapa kampus kita gelar seminar, diskusi, dan temu ilmiah. Dan baru pada 2003 API dideklarasikan,”katanya.

Dijelaskannya, API lahir berkat sejumlah pemikiran dari pakar psikiologi dan pemikiran Islam. Semula kedua disiplin ilmu ini dianggap tidak mempunyai korelasi. ” Semula keduanya seolah terpisah. Tetapi setelah ada pertemuan di antara pemikir Psikologi dan pemikiran Islam ternyata keduanya saling melengkapi,”imbuhnya.

Dari pertemuan dua disiplin ilmu itu, maka lahirlah Psikologi Islami sebagai disilpin ilmu tersendiri. Psikologi Islami tentunya berbeda dengan Psikologi Barat, dimana metodologinya lebih mengedepankan aspek data empiris.

“Tapi Psikologi Islami juga bukan ayatisasi atas ayat Alqur’an maupun hadis. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari sains yang berbasis pada data empiris dan panduan wahyu,”tandas Subandi.

Ditempat yang sama Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat menyatakan, FPsi UIN Jakarta dan API kedepamn harus mampu mengembangkan disiplin Psikologi Islami. Hal ini penting untuk menjawab tantangan zaman.

“Pengembangan Psikologi Islami untuk menjawab permasalahan bangsa yang terus bertambah. Misalnya, kenapa masih banyak pejabat yang korup? Padahal mereka adalah orang-orang beragama. Ini masalah yang harus dijawab,”katanya.

Ditambahkannya, FPSi dan  API punya peranan untuk membentuk karakter bangsa. Untuk itu diperlukan kajian yang mendalam bagaimana Psikologi Islami itu bisa menjadi pendorong terbentuknya karakter bangsa yang bermartabat. “Disinilah pentingnya mengembangkan jiwa insani yang dimiliki manusia,”imbuhnya. (D Antariksa/Sdn)