Fakultas Psikologi Bantu Korban Situ Gintung

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung Psikologi, UINJKT Online - Sejumlah relawan dari Fakultas Psikologi (FPsi) bekerjasama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMSI) yang tergabung dalam Jaring Kawan (JK) membuka Posko Pemulihan Terpadu (PPT) guna memulihkan kondisi psikologis para korban pascajebolnya tanggul Situ Gintung.

Menurut Ikhwan Lutfhi, salah satu tim relawan, pemulihan terpadu para korban lebih terfokus ke masalah pemberdayaan korban yang mengalami shock. ”Pemulihan ini lebih bersifat konseling dan pemberdayaan. Sifatnya pun suka rela,” katanya kepada UINJKT Online di Gedung FPsi, Senin (6/4).

Lutfhi menyebutkan, tim relawan terdiri atas 30 orang. Dengan rincian 15 orang dari unsur dosen dan 15 mahasiswa. ”Namun tidak menutup kemungkinan untuk relawan lain, juga dapat bergabung. Asal memiliki pendidikan psikologi dan konsen,” katanya.

Dalam penanganan korban ini, tim JK terjun ke lapangan untuk mengidentifikasi kondisi korban. Setelah tim menyusun langkah-langkah yang cocok, memberi pendidikan psikologis, dan membantu relawan. Korban kini sebagian ditempatkan di Wisma Kertamukti atau bersebelahan dengan gedung FPsi.

 

Mengenai masa pemulihan korban, Lutfhi mengatakan sampai korban benar-benar pulih. ”Artinya tidak ada batas waktu dalam pemulihan ini. Pokoknya, ya sampai korban benar-benar pulih,” ungkap Lutfhi.

 

 

 

 

Fakultas Psikologi Bantu Korban Situ Gintung

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung Psikologi, UINJKT Online - Sejumlah relawan dari Fakultas Psikologi (FPsi) bekerjasama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMSI) yang tergabung dalam Jaring Kawan (JK) membuka Posko Pemulihan Terpadu (PPT) guna memulihkan kondisi psikologis para korban pascajebolnya tanggul Situ Gintung.

Menurut Ikhwan Lutfhi, salah satu tim relawan, pemulihan terpadu para korban lebih terfokus ke masalah pemberdayaan korban yang mengalami shock. ”Pemulihan ini lebih bersifat konseling dan pemberdayaan. Sifatnya pun suka rela,” katanya kepada UINJKT Online di Gedung FPsi, Senin (6/4).

Lutfhi menyebutkan, tim relawan terdiri atas 30 orang. Dengan rincian 15 orang dari unsur dosen dan 15 mahasiswa. ”Namun tidak menutup kemungkinan untuk relawan lain, juga dapat bergabung. Asal memiliki pendidikan psikologi dan konsen,” katanya.

Dalam penanganan korban ini, tim JK terjun ke lapangan untuk mengidentifikasi kondisi korban. Setelah tim menyusun langkah-langkah yang cocok, memberi pendidikan psikologis, dan membantu relawan. Korban kini sebagian ditempatkan di Wisma Kertamukti atau bersebelahan dengan gedung FPsi.

 

Mengenai masa pemulihan korban, Lutfhi mengatakan sampai korban benar-benar pulih. ”Artinya tidak ada batas waktu dalam pemulihan ini. Pokoknya, ya sampai korban benar-benar pulih,” ungkap Lutfhi.