FAH UIN Jakarta Sambut Maba Dengan Kuliah Umum

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online—Dalam rangka menyambut mahasiswa baru, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar Kuliah Umum perdana dengan tema “Ilmu Budaya dan Strategi Pembelajarannya”, acara ini bertempat di Auditorium Utama Harun Nasution pada, Senin (31/08/ 15).

Acara ini dihadiri Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Prof Dr Sukron Kamil MAg, dalam pemaparan awal, Dekan menjelaskan mengenai arti dari “Adab” secara etimologi maupun terminologi.

“Arti kata ‘Adab’ dalam hal ini bukan mengacu pada sopan santun dan tata krama, akan tetapi lebih luas lagi yaitu konsentrasi mengenai isu-isu budaya” papar Sukron.

Pada kesempatan yang sama Sukron melanjutkan, di dalam Islam banyak ilmu budaya, seperti Ilmu Keislaman (Ilmu tauhid, ilmu fiqih, akhlak tasawuf, Al Quran dan hadist), sejarah, filsafat, bahasa dan sastra, dan seni. Sebagai muslim yang baik tentunya kita harus memahami keilmuan tersebut.

“Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang tidak hanya menguasai ilmu yang dipelajari. Melainkan mampu melahirkan ilmu pengetahuan baru, yang didalamnya ada signifikansi baik berupa orisinalitas dan kreativitas.” Ujar Dekan FAH ini.

Selain itu strategi pembelajaran yang baik itu tidak berbasis hafalan, meskipun dalam beberapa hal dibutuhkan kompetensi hafalan. Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisir, yang berbicara prinsip-prinsip realitas.

“Ilmu tidak identik dengan data, data adalah alat untuk menjelasakannya. karena harus diingat, sains adalah pengetahuan sistematis mengenai sifat dasar yang berasal dari observasi dan eksperiment, yang karena itu bersifat empiris, logis, dan mudah untuk diukur”, tandas Guru Besar FAH ini.

Di akhir pemaparannya, ia berpesanagar mahasiswa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dan bukan hanya memenuhi kewajiban SKS semata, namun harus dilakukan dengan penuh kesungguhan, keikhlasan dan rasa cinta.

“Sebagi seorang penuntut ilmu harus memiliki kecerdasan emosi, minimal khusnudzon saat menemukan kegagalan, tekun, sabar, fokus, tidak cepat puas apalagi sombong, dan yang paling penting mempunyai kehangatan personal, seperti cinta damai dan pemaaf” pesan Dekan dalam akhir sambutannya. (LRF/TAM)