Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar kegiatan bedah buku yang berjudul Dari Tahapan Tradisi ke Transformasi Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora”. Acara yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, Rabu (13/09) tersebut, diikuti oleh sedikitnya 400 mahasiswa FAH dan dosen serta tamu undangan.

Auditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online—Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) menggelar kegiatan bedah buku yang berjudul Dari Tahapan Tradisi ke Transformasi Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora”. Acara yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, Rabu (13/09) tersebut, diikuti oleh sedikitnya 400 mahasiswa FAH dan dosen serta tamu undangan.

Hadir pula dalam acara yang mengusung tema Menjadi Fakultas Terkemuka Dalam Bidang Ilmu Humaniora Melalui Integrasi dan Kontekstualisme Ilmu tersebut, Dekan FAH yang juga penulis buku tersebut, Prof Dr Sukron Kamil dan Prof Fachry Ali sebagai pembahas buku setebal 266 halaman itu, serta beberapa eks Dekan FAH.

Tidak hanya narasumber,  turut hadir beberapa alumni yang pada kesempatan tersebut memberikan testimony sekaligus motivasi kepada para mahasiswa FAH. Mereka antara lain, Mauludin Anwar (Head of News Production Liputan 6 SCTV), dan Tb H Ace Hasan Syadzily (Anggota DPR RI Dapil Banten I).

Dalam kesempatan tersebut, penulis mengatakan bahwa buku tersebut disusun akibat keprihatinan tidak adanya buku sejarah FAH yang utuh. Menurutnya, hal ini adalah ironi dimana, FAH memiliki prodi SPI (Sejarah Peradaban Islam), BSA (Bahasa dan Sastra Arab), Tarjamah dan SI (Sastra Inggris).

“Fokus buku ini yaitu kontinuitas dan perubahan selama 60 tahun usianya dengan membaginya pada tahapan tradisi (penciptaan ulama intelektual (1957-1998) dan tahapan transformasi (penciptaan intelektual ulama atau IAIN with wider mandate 1998-sekarang),” jelas Sukron.

Masih menurut Sukron, bahwa yang dimaksud dengan tradisi adalah kecenderungan umum (besaran) dan juga pengertian formal. Sedangkan tahapan transformasi adalah dimana FAH telah menambah prodi, yaitu Tarjamah, Ilmu Perpustakaan, dan Sastra Inggris.

“Oleh karena itu, pada tahapan transformasi, FAH lebih mengkaji dan mengajarkan ilmu terapan,” tandas Sukron.

Di tempat yang sama, Fachry Ali menanggapi sekaligus memberikan penilaian terhadap buku tersebut. Fachry mengatakan, bahwa dengan adanya buku tersebut, secara tidak langsung mempertahankan dan merawat alur sejarah FAH yang mana merupakan fakultas tertua nomor dua setelah FITK.

“Secara umum, saya mengapresiasi buku tersebut, yang menurut saya buku tersebut sangat refresentatif bagi pembaca untuk mengetahui sejarah FAH dari masa ke masa,” pukas Fachry.

Sebagai informasi, dari pantauan Tim BERITA UIN Online di lokasi terlihat, peserta yang terdiri dari para pimpinan fakultas, para dosen, mahasiswa dan tamu udangan sangat antusias mengikuti jalannya acara. Hal ini terlihat, dari jumlah peserta yang terus bertambah dan acara berlangsung tertib. (lrf)

 

Share This