Euforia Politik Antiklimaks

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang bertema “Tata Nilai, Impian, Cita-Cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara” belum lama ini sangat menarik direnungkan oleh kalangan elite partai politik dan pemerintah.

Dengan jumlah 1.496 responden dari 33 provinsi, pemuda berusia 15-25 tahun yang tertarik menjadi politikus 0%, yang sangat tertarik mengikuti berita-berita politik hanya 5,5%. Meski yang disurvei dibatasi pemuda muslim, bisa jadi data itu menunjukkan kecenderungan pemuda Indonesia pada umumnya.

Dengan mengikuti pemberitaan media massa dari hari ke hari seputar kehidupan politik yang diperankan oleh elite parpol, rasanya valid untuk mengatakan bahwa euforia politik sekarang ini sudah antiklimaks. Hanya dalam satu dekade masyarakat terbuka matanya bahwa daya tahan parpol rapuh dari serangan virus korupsi.

Para kader parpol yang duduk di eksekutif maupun legislatif mudah terjerat korupsi. Sampai-sampai muncul sinisme, kata eksekutif berubah menjadi ekseku-thief, legislatif menjadi legisla-thief. Padahal kebangkitan dan kelahiran parpol yang sekarang malang melintang itu pada awalnya didorong untuk membangun pemerintahan yang bersih dan menyejahterakan rakyat.

Pemberantasan korupsi dan penegakan hukum diteriakkan untuk memikat masa pendukungnya. Lagi-lagi, tak sampai satu dekade euforia itu telah berubah menjadi gumpalan energi keluh kesah, kekecewaan,dan kemarahan. Ini semua mesti dihentikan dengan langkah yang radikal agar pesimisme dan kekecewaan jangan sampai ke titik nadir.

Parpol dan pemerintah mesti melakukan terobosan dan akselerasi penuntasan berbagai kasus korupsi serta menciptakan lapangan kerja agar rakyat kembali percaya pada parpol dan pemerintah. Sungguh bahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara jika demokrasi tidak didukung oleh parpol yang sehat, yang mampu menyalurkan aspirasi dan militansi para anggota dan pendukungnya dalam berpolitik.

Partai yang tidak mampu membangkitkan kegairahan, militansi, dan kebanggaan pendukungnya lama- lama akan pingsan dan kesepian ditinggal lari pendukungnya. Jika parpol oleh masyarakat hanya dipersepsikan sebagai institusi untuk mencari uang dan kedudukan tanpa prestasi nyata untuk menyejahterakan dan memajukan rakyat, parpol akan menjadi sasaran caci maki, dianggap sebagai konspirasi manipulasi rakyat.

Parpol akan diberi label sebagai bunker tempat koruptor bersembunyi mencari perlindungan. Bangsa dan negara-negara yang maju pasca-Perang Dunia adalah mereka yang berhasil menanamkan tradisi kerja keras, disiplin, memajukan lembaga pendidikan dan riset keilmuan mutakhir, sehingga tumbuh rasa bangga dan kesiapan bersaing dalam panggung dunia.

Pendeknya, bangsa yang terjangkiti budaya instan dan toleran pada korupsi jangan harap memperoleh respek dalam pergaulan dunia. Dua penyakit ini, budaya instan dan toleran pada korupsi, mesti dipangkas secara radikal jika Indonesia ingin bangkit. Panggung politik miskin dari sosok politisi sekaligus intelektual yang berintegritas serta inovatif sehingga menjadi inspirasi dan stimulasi bagi anak-anak muda untuk tertarik ke dunia politik.

Langit politik diliputi mendung wacana korupsi sehingga anak-anak muda kehilangan kegairahan bernegara. Alih-alih bersinergi untuk bersama-sama melakukan restorasi kehidupan politik, yang terjadi di antara sesama parpol justru menjaga koalisi untuk mengamankan status quo atau saling mengintip kelemahan lawan sebagai persiapan Pemilu 2014.

Hampir tiap pekan media massa memberitakan korupsi yang terjadi di jajaran kader parpol entah di tingkat wakil rakyat atau kepala daerah, dan tiap pekan pula elite parpol membela diri dan menegasikan semua berita itu sebagai fitnah. Jumlah parpol terasa tidak seimbang dengan jumlah bintang kader pemimpin bangsa yang dirindukan kemunculannya oleh masyarakat.

Bisa saja ini isyarat positif bahwa sekarang telah terjadi pemerataan kualitas berkat pendidikan dan mobilitas politik anak bangsa. Tetapi ada juga anggapan sebaliknya, bahwa yang terjadi adalah krisis calon-calon pemimpin parpol dan bangsa yang benar-benar berkualitas dari segi pengetahuan, keahlian, pengalaman, dan integritas yang mudah ditawarkan pada publik.

Di tengah menurunnya antusiasme pemuda terhadap karier politik,siapa tahu ketika kekecewaan dan pesimisme telah merata akan memunculkan kesadaran dan energi serta gerak pendulum balik yang mendorong kebangkitan secara kolektif.Dari kekecewaan kolektif, semoga akan terjadi kebangkitan kolektif.