Etika Produksi akan Tingkatkan Kesejahtaraan Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Lindah

Gedung Pascasarjana, UIN Online – Sektor produksi merupakan sarana efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. Selain itu juga dapat meningkatkan hasil secara berkala serta dapat mengembangkan bisnis yang menguntungkan bagi produsen yang mampu mengimplementasikan etika produksi.

“Oleh karena itu, prinsip-prinsip etika produksi yang implementatif yang terkandung dalam prinsip tauhid, keadilan, kebajikan, kemanusiaan, serta kebebasan dan tanggung jawab perlu dirumuskan,” ujar Fahrudin Sukarno dalam sidang promosi doktor dengan judul disertasi Etika Produksi dalam Perspektif Ekonomi Islam di Sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (12/7).

“Implementasi prinsip etika produksi ini akan memengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan keadilan distributif, kelestarian lingkungan hidup, serta tanggung jawab sosial produsen,” lanjutnya.

Untuk mengupayakan prinsip etika yang implementatif, kata Fahruddin, diperlukan pengujian epistemologi dari aksioma (dalil) moral dalam al-Qur’an, seperti dalil Yusuf Qardhawi dalam Daurul Qiyam wa al-Akhlaq fi al-Iqtishad al-Islami. Karena itu pemikir Islam perlu memiliki landasan moral dalam kegiatan produksi. Hal ini dikarenakan kegiatan produksi tidak hanya bergerak pada ranah ekomoni saja tapi juga pada ranah sosial.

“Selain itu, kegiatan produksi juga merupakan tanggung jawab sosial untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta manifestasi keterhubungan manusia dengan Tuhan,” ujar dia.

Fahruddin menegaskan, agar suatu produksi memiliki etika perlu adanya paradigma etika Islam tentang produksi yang berawal dari konsep ibadah kepada Allah SWT dan menjadi kewajiban kolektif manusia (fardh al-kifayah). Selanjutnya mampu memahami perumusan aksioma etika produksi secara epistemologis, yaitu pertama, memetakan (mapping) nilai-nilai etika dalam al-Qur’an untuk mengidentifikasi sejauh mana kitab tersebut memberikan pedoman etis bagi manusia dalam kegiatan produksi. Kedua, menginjeksi (inserting) nilai-nilai Islam pada standar etika produksi melalui upaya kombinasi rasionalitas produksi dengan religiusitas pandangan al-Qur’an. Dan yang ketiga, membentuk (creating) aksioma etika produksi sebagai standar umum perilaku manusia dalam kegiatan produksi.

“Segera setelah itu lakukan implementasi guna menjalankan mekanisme produksi secara positif; menghindari diri dari gharar, maisir, dan ribawi serta memproduksi barang-jasa yang sesuai dengan kebutuhan seraya menyeimbangkan profit-benefit,” kata dosen Universitas Ibnu Khaldun (UIK) Bogor ini.

 

Etika Produksi akan Tingkatkan Kesejahtaraan Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Lindah

Gedung Pascasarjana, UIN Online – Sektor produksi merupakan sarana efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. Selain itu juga dapat meningkatkan hasil secara berkala serta dapat mengembangkan bisnis yang menguntungkan bagi produsen yang mampu mengimplementasikan etika produksi.

“Oleh karena itu, prinsip-prinsip etika produksi yang implementatif yang terkandung dalam prinsip tauhid, keadilan, kebajikan, kemanusiaan, serta kebebasan dan tanggung jawab perlu dirumuskan,” ujar Fahrudin Sukarno dalam sidang promosi doktor dengan judul disertasi Etika Produksi dalam Perspektif Ekonomi Islam di Sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (12/7).

“Implementasi prinsip etika produksi ini akan memengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan keadilan distributif, kelestarian lingkungan hidup, serta tanggung jawab sosial produsen,” lanjutnya.

Untuk mengupayakan prinsip etika yang implementatif, kata Fahruddin, diperlukan pengujian epistemologi dari aksioma (dalil) moral dalam al-Qur’an, seperti dalil Yusuf Qardhawi dalam Daurul Qiyam wa al-Akhlaq fi al-Iqtishad al-Islami. Karena itu pemikir Islam perlu memiliki landasan moral dalam kegiatan produksi. Hal ini dikarenakan kegiatan produksi tidak hanya bergerak pada ranah ekomoni saja tapi juga pada ranah sosial.

“Selain itu, kegiatan produksi juga merupakan tanggung jawab sosial untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta manifestasi keterhubungan manusia dengan Tuhan,” ujar dia.

Fahruddin menegaskan, agar suatu produksi memiliki etika perlu adanya paradigma etika Islam tentang produksi yang berawal dari konsep ibadah kepada Allah SWT dan menjadi kewajiban kolektif manusia (fardh al-kifayah). Selanjutnya mampu memahami perumusan aksioma etika produksi secara epistemologis, yaitu pertama, memetakan (mapping) nilai-nilai etika dalam al-Qur’an untuk mengidentifikasi sejauh mana kitab tersebut memberikan pedoman etis bagi manusia dalam kegiatan produksi. Kedua, menginjeksi (inserting) nilai-nilai Islam pada standar etika produksi melalui upaya kombinasi rasionalitas produksi dengan religiusitas pandangan al-Qur’an. Dan yang ketiga, membentuk (creating) aksioma etika produksi sebagai standar umum perilaku manusia dalam kegiatan produksi.

“Segera setelah itu lakukan implementasi guna menjalankan mekanisme produksi secara positif; menghindari diri dari gharar, maisir, dan ribawi serta memproduksi barang-jasa yang sesuai dengan kebutuhan seraya menyeimbangkan profit-benefit,” kata dosen Universitas Ibnu Khaldun (UIK) Bogor ini.