Esposito: Masa Depan Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

MASA depan Islam. Subjek yang sedikitnya dalam tiga dasawarsa menjadi pembicaraan hangat di kalangan kaum Muslim maupun Barat. Tiga puluh dua tahun lalu, ketika abad ke-15 Hijriah bermula, terdapat kalangan Muslim di berbagai wilayah dunia Islam yang sangat optimistis dengan masa depan Islam. Mereka berpendapat abad 15 Hijriah adalah era ‘kebangkitan Islam’. Kini, setelah 32 tahun berlalu, optimisme dan harapan itu agaknya perlu dilihat kembali.

Sementara itu, kalangan Barat juga tak luput berbicara tentang masa depan Islam, khususnya sejak dunia memasuki abad ke-21 Masehi. Pembicaraan tentang subjek ini kian menemukan momentum sejak peristiwa 11 September 2001, pengeboman WTC di New York dan Pentagon di Washington DC. Sejak saat itu, Islam dan Muslim yang sering diasosiasikan dengan kekerasan dan terorisme tidak hanya menjadi pusat kecurigaan dan antipati di kalangan masyarakat Barat, tetapi juga dianggap sebagai ‘ancaman’ bagi masa depan dunia Barat.

John L Esposito adalah salah satu figur terkemuka yang juga mencoba mengkaji masa depan Islam. Esposito, guru besar dan direktur Centre for Muslim-Christian Understanding pada Georgetown University, Washington DC, dikenal sebagai pakar yang melihat Islam dan Muslim secara lebih objektif dan empati. Karena itu, ia sering menjadi sasaran kemarahan kalangan Barat yang fobia terhadap Islam dan Muslim. Padahal, dengan pendekatan seperti itu, Esposito tidak kehilangan kritisisme terhadap Islam dan kaum Muslimin, baik dalam konteks negara Muslim tertentu maupun dalam hubungan antara dunia Muslim dan Barat.

Esposito berkesempatan membicarakan masa depan Islam dalam ceramah di Syahida Inn, Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat pekan lalu (7/1). Subjek ini juga merupakan judul buku terbarunya, The Future of Islam (Oxford: OUP, 2010). Berbagai realitas dan kecenderungan pokok, baik intra-Islam dan Muslim maupun dalam hubungan dengan masyarakat Barat, menjadi subjek pembicaraan Esposito terkait masa depan Islam.

Sebagiannya sudah sering mengemuka dalam pembicaraan publik sejak dari hal; Apakah dunia Muslim bakal terkunci dalam perbenturan peradaban; Apakah Islam kompatibel dengan demokrasi dan HAM; Apakah ‘fundamentalisme’ menghambat pembangunan masyarakat modern di dunia Islam; Apakah Islam ‘menenggelamkan’ masyarakat Barat karena kian meningkatnya jumlah kaum Muslim di Barat; Atau apakah Eropa bakal menjadi ‘Eurabia’ atau sebaliknya terasimilasi ke dalam masyarakat Eropa.

Dalam pandangan Esposito, Islam dan Muslim memiliki banyak wajah, yang tidak selalu menggembirakan. Terjadi gejala peningkatan kekerasan di banyak wilayah dunia Muslim. Hubungan intra-Muslim sering ditandai pelarangan aliran dan kelompok Muslim tertentu karena dipandang mayoritas Muslim sebagai sesat dan menyimpang. Esposito mengambil contoh Malaysia yang melarang aliran Islam seperti Syiah; dan juga Indonesia yang menghadapi persoalan Ahmadiyah.

Esposito juga melihat Islam dan dunia Muslim menghadapi berbagai kecenderungan yang tidak menjanjikan untuk masa depan. Pertama, meningkatnya ultrakonservatisme Islam, yang terutama diwakili Wahabisme. Meski gerakan Wahabiyah sekarang tidak selalu menampilkan kekerasan, ia membuat Islam hadir sebagai agama yang segala tidak boleh: ‘ini tidak boleh, itu tidak boleh’. Kedua, meningkatnya berbagai kesulitan yang dihadapi para penganjur pembaruan dan reformasi di dalam Islam juga masyarakat Muslim.

Menurut Esposito, pembaruan dalam Islam kini bahkan menjadi medan pertarungan yang kian sulit terselesaikan. Ketika pemikiran dan gerakan pembaruan mulai dilancarkan, pada saat yang sama perdebatannya juga meningkat tentang ‘Islam siapa’ atau ‘Islam yang mana’. Hal ini mencerminkan kenyataan kian meningkatnya perbedaan-perbedaan tajam di kalangan kaum Muslimin menyangkut pemahaman dan penafsiran Islam yang mapan dalam bentuk berbagai aliran pemikiran dan mazhab.

Gambaran yang diberikan Esposito tentang Islam dan dunia Muslim terlihat pesimistis. Dalam tanggapan saya kepada Esposito, gambaran demikian muncul tidak lain karena penekanan pengamatan yang terpusat pada politik domestik dunia Islam dan khilafiyah di kalangan umat yang sejak awal masa pasca-Nabi Muhammad tidak pernah terselesaikan. Saya menganjurkan agar juga melihat dinamika Islam kultural, khususnya di Indonesia, yang lebih menjanjikan. Ini terlihat dalam pertumbuhan kaum terdidik dan kelas menengah Muslim; ormas dan civil society yang dinamis, dan seterusnya.

Meski demikian, Esposito membukakan berbagai ‘PR’ yang mesti dilakukan kaum Muslim jika Islam dapat memiliki masa depan lebih menjanjikan. Kaum Muslim mesti segera membereskan rumahnya sehingga dapat berperan lebih kontributif pada hari ini dan ke depan.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 13 Januari 2011
Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta