Enigma Jalur persorangan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Dr. Gun Gun Heryanto

Dr. Gun Gun Heryanto

Oleh: Gun Gun Heryanto

Semula langkah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lebih terang akan melaju dari jalur perseorangan di pemilihan Gubernur DKI mendatang. Belakangan pernyataan Ahok dan kelompok relawan yang bergabung di Teman Ahok mulai menimbulkan enigma ke mana langkah pencalonannya akan ditentukan

Dilema datang di saat tersedia dua jalur yang sama-sama memungkinkan mengusung Ahok: partai ataupun perseorangan. Kerja berjejaring Teman Ahok mencapai target pengumpulan dukungan lebih dari 1juta KTP (19/6/2016) meski masih harus diverifikasi administratif dan faktual. Di saat bersamaanada tiga partai yang siap mendukungdan mengusung: Golkar, Nasdem, dan Hanura dengan kumulasi 24 kursi di DPRD DKI. Keadaan ini dimaknai sebagai sumber daya politik Ahok sekaligus ujian terberat dalam menunjukkan wajah autentiknya sebagai politisi.

Pita Mobius

Tak dimungkiri, Ahok menjadi titik pusaran kontestasi elektoral Pilkada DKI. Bukan semata-mata karena dia petahana, melainkan realitasnya Ahok sanggup memunculkan atmosfer baru dalam mencari dukungan politik di luar mesin partai. Sekelompok orang yang mengatasnamakan Teman Ahok mengaku tergerak mendukung dan menyediakan jalur alternatif di tengah corak partai yang feodal, oligarkis, dan transaksional dalammenetapkan kandidat.

Sikap relawan Teman Ahok cukup menyentak publik kala itu, yakni ingin mengusung Ahok dari jalur perseorangan. Karena itu, mereka membentuk gugus kerja pengumpulan KTP warga DKI agar melampaui syarat minimum: 532.000 KTP.

Dalam perjalanannya, apresiasi pun mengalir deras di tengah pandangan sebagian pihak yangnyinyir dan mempertanyakan kemurnian gerakan politik kerelawanan ala Teman Ahok ini. Ada dua faktor menarik dari model gerakan Teman Ahok sehingga memperoleh “tempat” di sebagian warga DKI.

Pertama, menjadi model gerakan literasi politik karena melibatkan partisipasi masyarakat. Bernard Crick dalam Essays on Citizenship (2000) mencatat literasi politik sebagai senyawa pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Crick menegaskan literasi politikbukan sekadar pengetahuan politik, melainkan cara membuat warga efektif dalam kehidupan publik dan dorongan menjadi aktif dan partisipatif baik resmi maupun di arena publik yang sifatnya sukarela.Kemasan politik kerelawanan inilah yang jadi stimulan ampuh bagi sebagian warga DKI memberi dukungan pada inisiatif kerja Teman Ahok.

Kedua, gerakan ini diangkat media dan kerap didiskursuskan sebagai kritik keras padapola pencalonan kandidat oleh partai. Singkat kata, gerakan Teman Ahok beresonansi dan jadi katalisator bagi pihak yang ingin mengusung ulang Ahok ke periode kedua jabatannya.

Di level wacana, ia sempat diasosiasikan sebagai gerakan deparpolisasi meski perkembangannya terbantahkan karena Teman Ahok mau berbagi peran dengan partai yang juga merapat mendukung Ahok.

Masalah substansial justru terjadi usai Teman Ahok mencapai target 1 juta KTP. Gerakan kerelawanan Teman Ahok ibarat berjalan menyusuri pita Mobius. Meminjam istilah matematikawan Jerman, August Ferdinand Mobius,pita Mobius merupakan obyek topologis yang hanya memiliki satu sisi atau permukaan dan satu komponen perbatasan. Mobius terbentuk saat ujung pita disambung menyerupai lingkaran. Sebelum direkatkan, salah satu ujungnya diputar terlebih dahulu sehingga saat menyatu akan menyerupai angka delapan yang ditidurkan.

Pita dengan karakter non-orientable objectini membuat kita bergerak dari satu sisi dan tak akan pernah berakhir di satu tepian pembatas, tetapi bergerak ke sisi dari permukaan yang sama. Secara politik, mengikuti alur Mobius membuat kita tak memiliki orientasi akhir yangmenjadi sisi pembatas tujuan gerakan ini apa. Bahkan, secara politik kita bisa saja seolah-olah bergerak menyusuri jalannya sendiri, padahal realitasnya menyusuri skenario pihak lain yang secara sengaja menjadikan obyek permainan politiknya melingkar bak pita Mobius.

Permainan ala pita Mobius ini pernah mengilhami film Perancis, Mobius,besutan sutradara Eric Rochart yangbercerita tentang seorang agen badan intelijen Rusia, Grgory Lioubov(Jean Dujardin), yang dikirim ke Monako untuk mengawasiRostovski (Tim Roth), seorang bankir berpengaruh di Rusia.Singkat cerita,ternyata Lioubovdan koleganya bergerak justru atas kehendak dan skenario intelijen Amerika. Sangat mungkinada pihak ketiga yang jadi penunggang bebas di setiap gerakan politik kerelawanan. Karena itu, gerakan seperti Teman Ahok harus tegas dan fokus dengan niat awalnya.

Marwah gerakan

Sebagai sebuah model gerakan,meski ada beberapa kemiripan carakerja dengan Political Action Committee (PAC) di AS, Teman Ahok beda dengan PAC ataupun Super PAC. Salah satu pembeda utamanya, Teman Ahok harus mengumpulkan KTP, yang di AS disebutsignatures, untuk meloloskan kandidat yang didukung.

Untuk apa Teman Ahok berjibaku mengumpulkan KTP hingga lebih dari 1 juta? Berulang kali disebutkan oleh juru bicara Teman Ahok, mereka ingin menyediakan jalur alternatif di luar partai dan itu adalah jalur perseorangan. Marwah gerakan ini sesungguhnya adalah kepercayaan publik yang membesar menjadi bola salju dukungan.

Ada situasi disonansi kognitifterkait peran dan fungsi partai dalam setiap helatan demokrasi elektoral. Dalam pandangan Leon Festinger (dalam Shaw and Constanzo, 1982), disonansi kognitif dipahami sebagai ketidakcocokan hubungan antarelemen kognisi karena sering kali realitas yang dihadirkan partai berjarak dengan cita-cita dan harapan publik. Konteks itulah yang sesungguhnya memberi “tempat” pada gerakan semacam Teman Ahok.

Konsistensi atas niat awal menjadi penting sehingga memberi warnadan menjadi role model kuatnya kandidat jalur perseorangan. UU mengakui baik jalur partai maupunjalur perseorangan. Hanya, dalam praktiknya, jalur perseorangan kerap hanya menjadi pelengkap penderita di panggung pilkada. Meskipun terjal dan berliku, prospekmemenangkan Ahok dari jalur perseorangan masih terbuka lebar. Pasti banyak risiko yang dihadapi Ahok karena menjadi sasarantembak banyak pihak.

Jauh di atas itu, penting menghargai dukungan yang sudah dikumpulkan dan bersama-sama membangun tradisi baru berupa pelibatan partisipasi masyarakat sebagai salah satu ciri politik modern. Jangan rendahkan marwah gerakan politik kerelawanan menjadi jebakan politik enigmatik. Politik yang sekadar menimbulkan teka-teki, prasangka, absurditas, disorientasi, dan tanpa navigasi karena dinamikanya sengaja dibuat tidak jelas.

GUN GUN HERYANTO

DIREKTUR EKSEKUTIF THE POLITICAL LITERACY INSTITUTE DAN DOSEN KOMUNIKASI POLITIK DI UIN JAKARTA

Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini Harian Kompas edisi Senin, 25 Juli 2016.