Ekspresi Islam Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Dalam peta sejarah penyebaran Islam, kehadiran dan pertumbuhan Islam di wilayah Nusantara merupakan perkecualian, karena tidak melalui jalan peperangan dan penaklukan militer.

Ini berbeda sekali dengan sejarah penyebaran Islam di sekitar Timur Tengah dan Eropa, yang sampai sekarang masih menyisakan kenangan pahit akibat terjadi pertumpahan darah. Di balik kemegahan warisan monumen Islam di Spanyol dan keindahan Gereja Aya Sophia di Istanbul, sejarah mencatat drama peperangan antara umat Islam dan Kristen yang sangat berdarah-darah.

Para sejarawan berbeda pendapat, kapan persisnya Islam masuk ke Nusantara. Ada yang menyebutkan bahwa sejak abad ke-8 Islam telah masuk ke Sumatera. Namun,pada umumnya mereka bersepakat bahwa penyebaran Islam secara masif dan merata baru terjadi pada akhir abad ke-12.Genealogi historis penyebaran Islam ini akan sangat memengaruhi watak atau karakter Islam Indonesia sampai hari ini.

Islam yang Ramah dan Inklusif

Islam berkembang di wilayah Nusantara dibawa oleh para pedagang.Sifat pedagang selalu terbuka,senang memelihara persahabatan, dan memperbanyak kawan baru untuk mengembangkan bisnisnya.

Pedagang yang senang konflik tentu tak akan mendukung usahanya. Sifat pedagang ini rupanya sejalan dengan semangat dakwah yang juga selalu ingin menawarkan dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah baru.

Dua karakter dan agenda ini saling mengisi sehingga kota-kota pantai di Nusantara ini adalah pusat perdagangan yang juga pusat penyebaran Islam. Lihat saja kota-kota pantai seperti Cirebon, Semarang, Gresik, Makassar, Maluku, dan beberapa kota pantai.Semua itu merupakan pusat perdagangan dan pusat penyebaran Islam.

Yang juga menarik diperhatikan, menurut catatan sejarah, muatan Islam yang dikembangkan pada masa-masa awal lebih banyak bermuatan tasawuf. Ini mungkin berkaitan dengan situasi dunia Islam di Timur Tengah yang secara politik tengah mengalami kemunduran lalu berkembang paham tasawuf.

Atau bisa juga Islam yang datang ke Indonesia yang melewati Persia dan India telah dipengaruhi oleh tradisi esoterisme (tasawuf dan filsafat) sehingga ekspresi dan artikulasinya lebih inklusif, esoterik, dan ramah.

Genealogi historis di atas mungkin bisa menjelaskan mengapa Islam yang berkembang di Nusantara bersifat inklusif dan ramah, sehingga Nusantara yang tadinya menjadi kantong dan pusat Hindu-Buddha secara dramatis berubah menjadi kantong umat Islam terbesar di dunia.

Warisan Candi Borobudur, Prambanan, dan puing-puing bekas kerajaan Hindu-Buddha yang tersebar di berbagai kepulauan Indonesia telah cukup sebagai bukti betapa wilayah ini dulunya menjadi pusat kedua agama itu, di samping kepercayaan atau agama lokal yang sebagian masih bertahan sampai sekarang.

Secara geografis dan demografis, sungguh logis Indonesia (Indos-nesos) yang berada di bawah benua India ini menjadi pusat Hindu-Buddha. Seakan menjadi anomali sejarah, mengapa wilayah Nusantara yang jauh dari Mekkah-Madinah yang dihalangi benua India menjadi kantong umat Islam? Jawabnya antara lain telah disebutkan di atas.

Yaitu bertemunya etos pedagang dan pendakwah yang senang melakukan pengembaraan berburu rempah-rempah,ditambah lagi dengan pendekatan tasawuf, sehingga mampu meredam dan menghindari konflik serta peperangan sebagaimana yang terjadi ketika Islam menyebar di belahan dunia lain.

Genealogi historis-teologis masuknya Islam ke Nusantara ini telah memberi karakter ekspresi keislaman di Indonesia sampai hari ini. Sebuah gerakan Islam kultural yang sangat apresiatif dan akomodatif terhadap tradisi lokal, tanpa kehilangan militansi dan substansi beragama. Berbagai kajian di atas menjelaskan pada kita tentang banyak hal.

Antara lain ajaran dasar Islam itu memiliki keluasan dan keluwesan, sehingga mudah beradaptasi dengan kultur lokal tanpa kehilangan substansinya, terutama tauhid dan prinsip-prinsip ritualnya.

Kedua, ketika Islam keluar dan berkembang dari tempat kelahirannya, yaitu Mekkah-Madinah, mau tidak mau mesti terjadi proses adaptasi, akulturasi, dan kreasi kultural agar mudah diterima, bahkan terjadi pengayaan kultural dan intelektual yang tidak terbayangkan sebelumnya. Lihat saja, pusat- pusat peradaban Islam justru berkembang pesat di luar wilayah Arab Saudi hari ini.

Sekarang bahkan terjadi gerakan Muslim diaspora yang sangat mengesankan di belahan Barat. Hampir semua universitas bergengsi di Barat saat ini memiliki pusat kajian Islam. Ketiga, perkembangan Islam akan mudah diterima pada masyarakat yang semakin plural dan memberikan pencerahan moral, spiritual, dan intelektual ketika tampil tidak dengan jargon dan kendaraan politis ideologis.

Bahwa ideologisasi agama itu memang suatu kenyataan yang sulit dielakkan sepanjang sejarahnya. Perlu ditegaskan, Islam bukan produk ideologi, Islam adalah ajaran wahyu, namun melahirkan ideologi sosial keagamaan. Dan ideologi keislaman itu akan mengeras ketika bersinergi dengan identitas etnis, sehingga muncul istilah etno-religion.

Berbagai gerakan radikalisme keagamaan selalu berkelindan dengan semangat membela etnis atau bangsa, seperti perjuangan rakyat Palestina yang telah menjadi beban dan agenda sejarah kemanusiaan dan dunia. Contoh paling mutakhir adalah serangan paling brutal oleh Anders Behring Breivik pekan lalu yang menewaskan 92 orang di kota Oslo, Norwegia.

Breivik adalah seorang penganut fundamentalisme Kristen yang marah melihat bangsa dan negaranya berkembang semakin plural dari segi agama dan ideologi ,termasuk berkembangnya Islam di sana. Adaptasi Islam di Indonesia yang paling fenomenal dan dampak politis-kulturalnya sangat besar adalah tradisi libur kerja atau tutup kantor pada hari Minggu, bukan hari Jumat seperti yang berlaku di Arab.

Bayangkan, apa dampak kulturalnya andaikan liburan jatuh pada hari Jumat? Yang pasti tak akan bermunculan acara salat Jumat di perkantoran dan lembaga-lembaga pendidikan. Ada rumor, ada beberapa pejabat tinggi negara yang semula jarang salat, setiap salat Jumat menjadi rajin ke masjid.

Hanya saja, kualitas dan orientasi khotbah Jumatnya di berbagai tempat perlu dievaluasi. Di antaranya selalu menyebarkan provokasi radikalisme. Nusantara yang terdiri atas ribuan pulau, tradisi, dan bahasa telah ikut pula memperkaya wajah keberagamaan umat Islam Indonesia.

Sekarang ini Islam Indonesia dipandang sebagai trend setter busana muslimah dunia. Masyarakat Barat selalu memersepsikan wanita muslimah dengan merujuk pada dunia Timur Tengah yang pakaiannya serba hitam, tanpa sentuhan mode.

Sementara busana muslimah di Indonesia sangat kreatif dan warna-warni sehingga perkembangan ini telah menarik perhatian kalangan muslimah dari berbagai negara. Coba saja perhatikan, betapa modis dan trendi pakaian wanita Indonesia yang dikenakan para selebritas dan kelas menengah kota.

Ekspresi Islam Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ekspresi Islam Indonesia dalam dasawarsa terakhir menarik minat banyak peneliti, baik di dalam maupun luar negeri. Itu tidak lain karena munculnya berbagai gejala dan fenomena Islam Indonesia yang dalam hal-hal tertentu berbeda dengan perkembangan dan dinamika Islam pada masa-masa sebelumnya. Bahkan, di antara kecenderungan itu, bagi kalangan luar khususnya, sedikit mencemaskan.

Hal ini, misalnya, terlihat dalam pembahasan buku Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (Singapore: ISEAS, 2008) yang diluncurkan bersama oleh CSIS dan Universitas Paramadina pada 26 Agustus 2008. Berasal dari Konferensi Tahunan ke-25 Indonesian Update yang diselenggarakan The Australia National University (ANU), Canberra, buku ini memuat 15 artikel panjang dari berbagai penulis–baik ahli Indonesia maupun asing–mencakup tiga tema besar: ”Ekspresi Kesalehan Personal”, ”Ekspresi Politik, Sosial, dan Hukum”, dan ”Ekonomi Islam”. Meski perspektif masing-masing boleh jadi berbeda satu sama lain dalam melihat kecenderungan perkembangan dan dinamika Islam Indonesia dalam masa 10 tahun terakhir, buku ini menampilkan pembahasan yang cukup komprehensif.

Tetapi, sekali lagi, dari perspektif luar, kecenderungan perkembangan Islam Indonesia dalam hal-hal tertentu mencemaskan. Greg Fealy dan Sally White, Indonesianis asal Australia, penyunting buku ini, dalam pengantarnya, misalnya, menulis, ”Persepsi-persepsi Barat tentang karakter dan peranan Islam di Indonesia telah bergeser secara dramatis dalam dasawarsa terakhir.” Pergeseran itu adalah dari pandangan yang sebelumnya favorable sampai akhir 1990-an menjadi pandangan lebih skeptis dan pesimistis tentang masa depan Islam Indonesia. Banyak pengamat asing–dan juga ahli dalam negeri–yang mencemaskan apa yang mereka pandang sebagai bangkit dan meningkatnya tendensi radikalisme dalam Islam Indonesia.

Gejala meningkatnya radikalisme di kalangan Islam Indonesia itu, menurut Fealy dan White, terlihat dalam meletupnya kerusuhan-kerusuhan komunal di Ambon, Halmahera, dan Poso yang melibatkan Lasykar Jihad dan Lasykar Jundullah, misalnya. Dan juga, dengan meningkatnya postur Front Pembela Islam. Salah satu puncak dari peningkatan radikalisme itu adalah pengeboman di Bali pada Oktober 2003 yang diikuti tiga pengeboman lainnya di Indonesia. Karena itu, kalangan asing dan pengamat luar sering melihat Islam Indonesia juga dalam prisma radikalisme dan terorisme seperti juga mereka melihat dunia Islam secara keseluruhan.

Pandangan-pandangan seperti ini tidak mengejutkan. Saya juga sering menemukan persepsi dan pandangan serupa dari pengamat asing ketika mereka bertemu atau mewawancarai saya. Persepsi mereka secara tipikal dapat dikatakan cenderung memakai ”kacamata kuda” dan sepihak. Persepsi dan pandangan semacam itu sering tidak disertai pertimbangan seimbang, baik dalam kasus-kasus tertentu maupun kaitan-kaitan di antara berbagai perkembangan dan dinamika Islam Indonesia secara keseluruhan.

Misalnya, kekerasan komunal yang terjadi di Ambon, Halmahera, dan Poso–yang tentu saja telah berakhir beberapa tahun lalu. Konflik dan kekerasan komunal di tempat-tempat ini merupakan <I>interplay<I> di antara berbagai faktor yang berujung pada munculnya radikalisme, tidak hanya di kalangan Muslim Indonesia, tetapi juga di kalangan Kristen. Kemunculan kelompok-kelompok radikal kedua belah pihak–yang  mengatasnamakan pembelaan terhadap agama masing-masing–mestilah juga dilihat dari kontes dan pertarungan untuk menguasai sumber-sumber ekonomi dan politik, di mana agama datang kemudian sebagai legitimizing force belaka.

Lagi pula, radikalisasi yang berujung pada kekerasan komunal juga banyak terkait dengan kegagalan aparat keamanan, tidak hanya dalam melerai pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan tidak berpihak. Dalam situasi yang nyaris vakum, penegakan hukum menjadi gejala sosiologis yang tak bisa dielakkan jika kemudian muncul kelompok radikal yang menjalankan hukumnya sendiri. Dan, sekali gejala ini seolah dibiarkan, maka selanjutnya kian sulit dikontrol.

Karena itu, peran pemerintah dan penegak hukum menjadi sangat krusial sebagai pencegah terjadinya radikalisasi di kalangan umat beragama. Negara semestinya tidak tunduk kepada kekuatan-kekuatan radikal seperti itu sehingga ekspresi keagamaan tetap sesuai dengan ajaran agama yang menekankan toleransi, kerukunan, dan kedamaian.

Walhasil, jika negara bisa menegakkan otoritasnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan sebagian kecil ekspresi Islam Indonesia yang keras itu. Dalam pengamatan saya, Islam Indonesia tetaplah Islam ”jalan tengah” (washatiyyah). Jika ada gejala radikalisme, itu bukanlah representasi Islam Indonesia secara keseluruhan. Karena itu, orang harus menghindari diri dari membangun persepsi–apalagi mengambil kesimpulan–yang tidak sesuai dengan karakter dan distingsi Islam Indonesia yang telah terbentuk selama berabad-abad dan tetap bertahan di tengah berbagai gejolak perubahan yang tidak selalu kondusif dan bisa mencemaskan.

Ekspresi Islam Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ekspresi Islam Indonesia dalam dasawarsa terakhir menarik minat banyak peneliti, baik di dalam maupun luar negeri. Itu tidak lain karena munculnya berbagai gejala dan fenomena Islam Indonesia yang dalam hal-hal tertentu berbeda dengan perkembangan dan dinamika Islam pada masa-masa sebelumnya. Bahkan, di antara kecenderungan itu, bagi kalangan luar khususnya, sedikit mencemaskan.

Hal ini, misalnya, terlihat dalam pembahasan buku Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (Singapore: ISEAS, 2008) yang diluncurkan bersama oleh CSIS dan Universitas Paramadina pada 26 Agustus 2008. Berasal dari Konferensi Tahunan ke-25 Indonesian Update yang diselenggarakan The Australia National University (ANU), Canberra, buku ini memuat 15 artikel panjang dari berbagai penulis–baik ahli Indonesia maupun asing–mencakup tiga tema besar: ”Ekspresi Kesalehan Personal”, ”Ekspresi Politik, Sosial, dan Hukum”, dan ”Ekonomi Islam”. Meski perspektif masing-masing boleh jadi berbeda satu sama lain dalam melihat kecenderungan perkembangan dan dinamika Islam Indonesia dalam masa 10 tahun terakhir, buku ini menampilkan pembahasan yang cukup komprehensif.

Tetapi, sekali lagi, dari perspektif luar, kecenderungan perkembangan Islam Indonesia dalam hal-hal tertentu mencemaskan. Greg Fealy dan Sally White, Indonesianis asal Australia, penyunting buku ini, dalam pengantarnya, misalnya, menulis, ”Persepsi-persepsi Barat tentang karakter dan peranan Islam di Indonesia telah bergeser secara dramatis dalam dasawarsa terakhir.” Pergeseran itu adalah dari pandangan yang sebelumnya favorable sampai akhir 1990-an menjadi pandangan lebih skeptis dan pesimistis tentang masa depan Islam Indonesia. Banyak pengamat asing–dan juga ahli dalam negeri–yang mencemaskan apa yang mereka pandang sebagai bangkit dan meningkatnya tendensi radikalisme dalam Islam Indonesia.

Gejala meningkatnya radikalisme di kalangan Islam Indonesia itu, menurut Fealy dan White, terlihat dalam meletupnya kerusuhan-kerusuhan komunal di Ambon, Halmahera, dan Poso yang melibatkan Lasykar Jihad dan Lasykar Jundullah, misalnya. Dan juga, dengan meningkatnya postur Front Pembela Islam. Salah satu puncak dari peningkatan radikalisme itu adalah pengeboman di Bali pada Oktober 2003 yang diikuti tiga pengeboman lainnya di Indonesia. Karena itu, kalangan asing dan pengamat luar sering melihat Islam Indonesia juga dalam prisma radikalisme dan terorisme seperti juga mereka melihat dunia Islam secara keseluruhan.

Pandangan-pandangan seperti ini tidak mengejutkan. Saya juga sering menemukan persepsi dan pandangan serupa dari pengamat asing ketika mereka bertemu atau mewawancarai saya. Persepsi mereka secara tipikal dapat dikatakan cenderung memakai ”kacamata kuda” dan sepihak. Persepsi dan pandangan semacam itu sering tidak disertai pertimbangan seimbang, baik dalam kasus-kasus tertentu maupun kaitan-kaitan di antara berbagai perkembangan dan dinamika Islam Indonesia secara keseluruhan.

Misalnya, kekerasan komunal yang terjadi di Ambon, Halmahera, dan Poso–yang tentu saja telah berakhir beberapa tahun lalu. Konflik dan kekerasan komunal di tempat-tempat ini merupakan <I>interplay<I> di antara berbagai faktor yang berujung pada munculnya radikalisme, tidak hanya di kalangan Muslim Indonesia, tetapi juga di kalangan Kristen. Kemunculan kelompok-kelompok radikal kedua belah pihak–yang  mengatasnamakan pembelaan terhadap agama masing-masing–mestilah juga dilihat dari kontes dan pertarungan untuk menguasai sumber-sumber ekonomi dan politik, di mana agama datang kemudian sebagai legitimizing force belaka.

Lagi pula, radikalisasi yang berujung pada kekerasan komunal juga banyak terkait dengan kegagalan aparat keamanan, tidak hanya dalam melerai pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan tidak berpihak. Dalam situasi yang nyaris vakum, penegakan hukum menjadi gejala sosiologis yang tak bisa dielakkan jika kemudian muncul kelompok radikal yang menjalankan hukumnya sendiri. Dan, sekali gejala ini seolah dibiarkan, maka selanjutnya kian sulit dikontrol.

Karena itu, peran pemerintah dan penegak hukum menjadi sangat krusial sebagai pencegah terjadinya radikalisasi di kalangan umat beragama. Negara semestinya tidak tunduk kepada kekuatan-kekuatan radikal seperti itu sehingga ekspresi keagamaan tetap sesuai dengan ajaran agama yang menekankan toleransi, kerukunan, dan kedamaian.

Walhasil, jika negara bisa menegakkan otoritasnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan sebagian kecil ekspresi Islam Indonesia yang keras itu. Dalam pengamatan saya, Islam Indonesia tetaplah Islam ”jalan tengah” (washatiyyah). Jika ada gejala radikalisme, itu bukanlah representasi Islam Indonesia secara keseluruhan. Karena itu, orang harus menghindari diri dari membangun persepsi–apalagi mengambil kesimpulan–yang tidak sesuai dengan karakter dan distingsi Islam Indonesia yang telah terbentuk selama berabad-abad dan tetap bertahan di tengah berbagai gejolak perubahan yang tidak selalu kondusif dan bisa mencemaskan.