Eksistensi Jiwa Insani

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Jiwa insani (human soul) berposisi di atas jiwa nabati dan jiwa hewani yang ketiganya melekat pada diri seseorang. Pada dimensi dan kualitas inilah semakin tampak keunggulan manusia dari dunia flora dan fauna.

Ikon jiwa insani terletak pada kehebatan daya intelektualitasnya yang bertumpu pada otak. Dengan kekuatan berpikirnya, jiwa dan daya hewani digerakkan dan diarahkan untuk membantu mewujudkan karya-karya kemanusiaan. Berat otak pria rata-rata 1,5 kg, sedangkan perempuan 1,3 kg. Tapi ukuran berat otak seseorang tidak menjamin siapa yang lebih pintar. Einstein yang jenius berat otaknya 1,23 kg. Adapun otak gajah sampai 6 kg.

Kepintaran manusia tergantung dari jumlah informasi yang dikumpulkan dan kecepatan proses pengiriman sinyal melalui jaringan sel-sel otak. Jumlah sel-sel saraf dalam otak manusia yang menampung dan memproses informasi lebih dari 100 miliar neuron dan setiap neuron bisa memiliki 10.000 sinapsis, yaitu contact point untuk sinyal antarneuron sehingga total sinapsis bisa mencapai 1.000 triliun.

Dari perkiraan data jejaring neuron ini sudah terbayangkan, betapa sesungguhnya manusia menyimpan potensi inovasi intelektual yang amat sangat mengagumkan. Kita tidak bisa membayangkan kreasi dan inovasi teknologi apa lagi yang akan dihasilkan oleh akal pikiran manusia 100 tahun ke depan. Jejaring sel-sel saraf dalam otak itu akan merekam semua informasi yang pernah dilihat, didengar, diraba, dan dirasa, bahkan rekaman imajinasi.

Semua tak ada yang hilang karena kinerja otak tidak kenal korupsi. Paling banter lupa, namun semuanya terekam utuh dalam bawah sadarnya. Diperkirakan setiap harinya manusia memproses rata-rata 50.000 sampai 60.000 pikiran. Jadi betapa sibuk dan padatnya lalu lintas informasi yang lalu lalang dalam jejaring selsel saraf otak kita. Kepadatan jumlah kendaraan di Jakarta tak sebanding dengan volume informasi dalam otak kita.

Anehnya, otak tidak pernah merasa penuh sebagaimana yang terjadi pada perut yang volumenya terbatas ketika diisi makanan dan minuman. Berapa pun informasi yang direkam tidak akan membuat kepala menjadi berat. Sebaliknya, semakin pintar seseorang malah meringankan beban hidupnya. Dengan bantuan daya insani inilah manusia berkembang jauh melewati dunia hewan. Kecepatan lari seekor kijang telah dikalahkan oleh “Mobil Kijang”.

Dengan teknologi telepon ciptaan nalar manusia, kehebatan pendengaran hewan yang mampu menangkap suara ratusan kilometer sudah dikalahkan oleh pesawat telepon. Kehebatan burung elang jauh tertinggal kemampuannya dalam menjelajahi luasnya langit dibandingkan pesawat terbang bikinan manusia. Begitu pun ikan-ikan paus sudah kalah dibandingkan kapal selam dalam menelusuri kedalaman lautan.

Prestasi manusia itu dimungkinkan karena dalam dirinya terdapat jiwa insani yang ditandai dengan kreativitasnya dalam mencipta peralatan teknis sehingga manusia juga disebut sebagai homo faber, makhluk yang kreatif. Dalam masyarakat modern ini pun prestasi yang paling menonjol adalah kreasi teknologi, dengan implikasi positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat. Karakter lain dari jiwa insani adalah memiliki kesadaran estetika, humor, dan kalkulasi untung-rugi (calculated risk) yang lebih tinggi ketimbang hewan.

Keindahan yang ditampilkan tumbuh-tumbuhan dan hewan semata berdasarkan sifat alami dan insting, bukan hasil refleksi dan kreasi. Sadar akan akibat yang ditimbulkan kalau seseorang berbuat jahat kepada orang lain, maka manusia lalu bersepakat membuat etika dan hukum sosial untuk menciptakan kedamaian dan ketertiban sosial yang kemudian disebut konvensi dan kontrak sosial.

Menyadari jika berbisnis yang jujur akan lebih menguntungkan, maka curang dalam bertransaksi sebisa mungkin dihindari. Jadi, nalar kritis-kalkulatif dan reflektif yang dimiliki jiwa insani telah mampu menciptakan peradaban manusia yang berkembang pesat dari waktu ke waktu, sebuah perubahan dan perkembangan yang tidak mampu dilakukan oleh penghuni lain di atas Planet Bumi ini.

Baik jumlah populasi maupun kreasinya terus berkembang. Banyak sekali kreasi teknologi yang mampu menjadi pendukung dan perpanjangan kinerja otak sampai––sampai muncul istilah artificial intelligence. Ditemukannya mesin cetak, komputer, fotokopi dan internet telah memungkinkan terjadinya transmisi informasi dan ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi. Di ruang kerja yang sempit, dengan bantuan internet, seseorang bisa rekreasi berselancar di lautan informasi yang tidak diketahui di mana terminal akhirnya.

Demikianlah, saking hebatnya kekuatan otak yang menjadi ikon jiwa insani, maka tidak mengherankan kalau banyak orang lalu merasa tidak percaya dan tidak memerlukan lagi campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Semua persoalan hidup bisa dijelaskan dan diselesaikan secara ilmiah dan dengan bantuan teknologi hasil ciptaannya.

Kalaupun mereka percaya pada Tuhan, posisinya sudah “pensiun” karena mereka memandang jagat semesta ini bagaikan jam raksasa supercanggih yang bekerja secara otomatis mengikuti hukum-hukumnya, yang sudah lepas dari penciptanya.Namun, ada pula yang justru dengan kepintarannya lalu mengagumi dan bertanya, siapa Sang Pencipta Agung yang maha cerdas ini?