Ekologi Berwawasan Gender Bersifat Humanis-Teosentris

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Humaidi

Auditorium SPs, BERITA UIN Online – Ekologi berwawasan gender dalam al-Quran bersifat ekohumanis-teosentris. Kesimpulan tersebut didapatkan berdasarkan pada deskripsi al-Quran mengenai interkoneksi dan interaksi harmonis antara manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam raya, tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Hal itu diungkapkan Nur Arfiah Febriani saat mempertahankan disertasi doktoralnya pada sidang promosi doktor di Auditorium Sekolah Pascarjanara (SPs), Senin (26/9). Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penelitian disertasinya yang berjudul “Ekologi Berwawasan Gender dalam Perspektif al-Quran.”

Hadir sebagai penguji dan sekaligus promotor Direktur SPs UIN Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra dan guru besar Politik Islam UIN, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Ali Kodra, Prof Dr. Suwito, Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, MA, dan Dr. Agus Salim.

Menurut Provendus yang ke-837 ini, perspektif al-Quran mengenai ekologi berwawasan gender diisyaratkan dalam tiga identitas gender yaitu, keberpasangan secara biologis, keberpasangan dari segi karakter atau kualitas feminin dan maskulin, dan adanya kata ganti yang menunjuk kepada jenis kelamin laki-laki (mudhakkar majazi) dan jenis kelamin perempuan (mu’annath majazi).

“Dari tiga identitas tersebut telah berpengaruh terhadap munculnya keseimbangan dalam setiap individu manusia yang mengindikasikan potensi intelektual dan emosional serta peran yang sama dalam interaksi sosial dan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Hal lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah dalam al-Quran masing-masing karakter feminin dan maskulin dalam diri manusia digambarkan memiliki sisi atau nilai positif dan negatif. “Karakter feminin dan maskulin yang memiliki sisi/nilai negatif inilah, yang selama ini menjadi perdebatan akademis mengenai sterotip bagi laki-laki dan perempuan yang berimbas pada peran sosialnya,” ungkapnya.

Disertasi ini membantah anggapan atau pendapat tokoh feminis yang menganggap kerusakan lingkungan memiliki korelasi dengan sikap dominatif laki-laki terhadap perempuan. “Sebaliknya, dalam al-Quran, manusia secara umum dideskripsikan memiliki potensi yang sama dalam merusak sekaligus melakukan upaya konservasi lingkungan,” jelasnya.

Dalam promosi doktoralnya ini, propendus yang lahir di Bekasi 30 tahun yang lalu, mendapatkan nilai rata-rata 96 dengan indeks prestasi 3,65 atau kumlaude.