Muhbib Abdul Wahab  

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Demikian salah satu petikan penting pidato Presiden pertama RI Ir Soekarno yang disampaikan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1961.
Sebagai refleksi, menarik didiskusikan, bagaimana bangsa ini menghargai jasa pahlawannya agar generasi muda dapat meneladani mereka sehingga bangsa ini menjadi besar, berdaulat, bermartabat, berkesejahteraan, berkeadilan, dan berkemajuan? Nilai-nilai kepahlawanan apa yang dapat dijadikan sebagai “nutrisi bergizi” bagi pendidikan warga bangsa?
Sesuai dengan makna dasarnya, pahlawan adalah orang yang membuat pahala, bukan berbuat dosa. Karena itu pahlawan adalah orang yang menanggalkan ego pribadi untuk mengabdi, berkontribusi, memberi manfaat dan maslahat bagi umat dan bangsa. Pahlawan senantiasa rela berjuang dan berkorban jiwa dan raga, nyawa dan harta, dengan penuh ketulusan demi Tuhan,  kemanusiaan, dan kebangsaan. Karakter luhur dan mulia pahlawan itu idealnya menjadi elan vital edukasi nilai, termasuk pendidikan karakter, bagi generasi muda bangsa.

Spirit Heroisme  
Sejatinya para pahlawan itu adalah aset dan kekayaan nilai bagi bangsa. Karena mereka telah mendedikasikan jiwa raganya demi meraih, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Dari mereka, darah nasionalisme mengaliri dan memberi spirit perjuangan bangsa menuju masa depan yang lebih prospektif. Dengan kata lain, spirit heroisme sangat penting diwarisi dan menjadi motivasi bagi para pemimpin dan generasi penerus bangsa.
Tony R Shancez dalam Heroes, Values, and Tancending Time  (1998) menyatakan bahwa spirit kepahlawanan (spirit of heroism) itu sangat penting diinternalisasi dalam membentuk karakter bangsa melalui pendidikan nilai dan dalam mempromosikan nilai-nilai kewarganegaraan yang positif dan efektif (effective  citizenship ). Nilai-nilai kepahlawanan seperti religiositas, keberanian, ketekunan (perseverance ), kejuangan, kerelaan berkorban dan mengambil risiko demi memberi manfaat bagi orang lain, altruisme, serta loyalitas nasionalisme hanya mungkin ditransmisikan melalui proses edukasi nilai.
Spirit kepahlawanan adalah jiwa altruisme dan nasionalisme yang menggerakkan semangat memiliki, merawat, dan memajukan bangsa, bukan menjual, melelang, dan menggadaikan kekayaan dan kepentingan nasional untuk asing dan aseng. Spirit kepahlawanan mutlak harus dimiliki para pemimpin bangsa agar kiblat bangsa tidak salah arah dan belok kepada bukan kepentingan rakyat dan negara.
Pemimpin yang berjiwa kepahlawanan pasti tidak akan korupsi karena mereka berjiwa kaya hati dan budi, tidak berwatak serakah, rakus, dan kemaruk. Kepemimpinan berbasis spirit kepahlawanan akan diaktualisasi dengan melayani, mengayomi, menyayangi, dan menginspirasi rakyatnya sepenuh hati.
Oleh sebab itu pemimpin agama, umat, dan bangsa idealnya menjadi teladan terdepan dalam aktualisasi nilai-nilai kepahlawanan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Para pemimpin yang mencintai negeri ini harus memberi contoh yang baik (uswah  hasanah) dalam membangun dan mengembangkan budaya antikorupsi, antimiras, antinarkoba, antiprostitusi serta aneka kemaksiatan politik dan sosial lainnya.

Edukasi Nilai  
Mengapa keteladanan yang baik dari pemimpin yang berjiwa kepahlawanan itu sangat penting bagi masyarakat bangsa? Menurut Albert Bandura, warga bangsa itu belajar berperilaku dengan meniru model (panutan) yang dapat dilihat dan diamati, terutama para pemimpin sebagai figur publik. Sebagai contoh, seorang anak itu menjadi perokok pada umumnya bukan karena kemauan hatinya, tetapi karena meniru orang dewasa atau teman sebayanya yang juga perokok. Akibatnya anak menjadi ketagihan dan sulit melepaskan diri dari kecanduan rokok. Demikian pula, meskipun sudah ada KPK, perilaku korup terus ditiru tanpa ada rasa jera  karena politisi dan sebagian pemimpin di negeri ini terus memberi contoh korupsi tanpa henti.
Edukasi nilai kepahlawanan akan berfungsi transformasi mental spiritual secara efektif bagi peserta didik dan warga bangsa apabila semua pihak memberi apresiasi dengan memetik pelajaran moral bagi pembangunan bangsa. Melalui edukasi nilai kepahlawanan, warga bangsa diajak untuk memiliki kesadaran historis bahwa bangsa ini merdeka karena berkat rahmat Allah SWT dan perjuangan para pahlawan bangsa.
Mayoritas pahlawan memang pejuang kemanusiaan dan kebangsaan. Dalam konteks kekinian, edukasi nilai kepahlawanan harus bersifat inklusif, terbuka, dan multidimensional. Pahlawan bukan hanya pejuang yang gugur di medan perang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga pejuang sejati yang tulus tanpa pamrih dan pencitraan, membela kaum lemah dan tidak berdaya, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan peradaban umat manusia. Para ulama, ilmuwan, saintis, sastrawan, seniman, dan sebagainya layak dijadikan sebagai figur teladan dalam edukasi nilai-nilai kepahlawanan.
Sedat Yazici dan Mecnun Aslan dalam Heroes as a Role Models in Values Education (2011) menegaskan bahwa figur pahlawan merupakan role model (model panutan) yang paling efektif untuk edukasi nilai. Oleh karena itu, pemodelan (modelling) dalam  pendidikan karakter atau edukasi nilai dengan menghadirkan figur Nabi Muhammad SAW, para sahabat nabi, para ulama, ilmuwan, tokoh agama, tokoh kebudayaan, pejuang kemerdekaan, dan sebagainya menjadi sangat penting diintegrasikan dalam substansi kurikulum dan proses pembelajaran, baik dalam kelas maupun di luar kelas.

Kontekstualisasi spirit dan nilai kepahlawanan melalui proses pendidikan berbasis keteladanan dari para pemimpin politik dan agama, tokoh, pendidik, pejuang, artis, aktivis, buruh dan sebagainya merupakan sebuah keniscayaan. Dengan demikian, edukasi nilai-nilai kepahlawanan sangat signifikan untuk menumbuhkembangkan budaya dan karakter positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Krisis jiwa kepahlawanan yang hingga kini masih mendera bangsa ini harus segera diakhiri dengan edukasi nilai kepahlawanan. Model edukasi ini sungguh merindukan sosok pemimpin yang adil dan layak diteladani integritas moralnya serta penegak hukum yang jujur dan membela yang benar, bukan membela yang bayar. Edukasi nilai juga mendambakan pengusaha yang jujur, derwawan, dan tidak suka menyuap pejabat; polisi yang mengayomi dan melindungi masyarakat, tidak menakuti dan dibenci rakyat; politisi yang jujur, berkarakter mulia, dan tidak menghalalkan segala cara.

Jika edukasi nilai-nilai kepahlawanan dapat ditampilkan oleh semua pihak melalui media massa, surat kabar maupun televisi yang jujur, netral, dan berimbang, niscaya kiblat pembangunan peradaban bangsa ini akan berada dalam jalannya yang lurus dan benar sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945. (Farah Nh/zm)

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ. Tulisan dimuat Koran Sindo, Jumat 10 November 2017.  

Share This