Dunia Pasca-Amerika

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak artikel dan buku tentang ‘kemunduran’ Amerika Serikat, yang terutama dikontraskan dengan ‘kebangkitan Asia’. Apa yang dimaksud dengan ‘kebangkitan Asia’ itu tidak lain adalah bangkitnya Cina dan India sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru, yang dipersepsikan banyak kalangan Amerika sebagai ancaman bagi dominasi dan hegemoni negara ini. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang politik.

Menurut majalah The Economist edisi 26 Juli-1 Agustus 2008, gejala ‘kemunduran Amerika’ itu mengakibatkan meluasnya perasaan tidak bahagia di banyak kalangan Amerika. Kebanyakan rakyat Amerika menganggap bahwa negeri mereka tengah mengalami resesi yang parah. Dalam kenangan bersama mereka, situasi Amerika sekarang ini tidak banyak berbeda dengan great depression 1930-an yang juga melanda negara ini.

Tidak hanya itu, beban yang diciptakan pemerintah Presiden Bush di luar negeri melalui kebijakan unilateralismenya, yang tak jelas tujuan dan manfaatnya bagi masyarakat Amerika sendiri ataupun bagi dunia, kelihatan kian sulit terselesaikan. Khususnya, menyangkut kegagalan misi militer di Afghanistan dan Irak. Sampai sekarang, ini tidak jelas cara keluar terbaik tanpa kehilangan muka dari kedua negara tersebut.

Hasilnya, dalam sebuah poling April lalu, 81 persen warga Amerika percaya bahwa negara mereka berada pada ‘jalur yang salah’. Inilah jawaban paling negatif selama 25 tahun terakhir. Rasa pesimistis sangat kuat karena berbagai perkembangan domestik dan internasional tidak menguntungkan hal-hal yang terkait Amerika.

Menghadapi berbagai masalah internal dan eksternal itu, banyak kalangan Amerika senang mencari ‘kambing hitam’ atas masalah yang mereka hadapi. ‘Kambing hitam’ yang paling empuk adalah negara Asia, khususnya Cina dan India yang pertumbuhan ekonominya sangat fenomenal, seolah tidak terpengaruh ‘resesi’ yang dirasakan Amerika. Pertumbuhan ekonomi kedua negara ini dipandang banyak kalangan Amerika sebagai sumber dari kemerosotan ekonomi negara mereka.

Di tengah merosotnya dominasi dan hegemoni Amerika, dunia terlihat kembali multipolar. Uni-Eropa atau negara-negara tertentu di Eropa, seperti Prancis khususnya, kembali mengambil inisiatif untuk penyelesaian konflik, misalnya Palestina dan Israel. Rusia dan Cina sering pula bersekutu menghadapi langkah Amerika pada tingkat internasional, misalnya saja dalam kasus nuklir Iran.

Berbagai perkembangan yang dihadapi Amerika, baik secara internal maupun eksternal, itu disebut oleh Fareed Zakaria dalam buku terbarunya sebagai ‘dunia pasca-Amerika’, The Post-American World (London: Allen Lane Penguin Books, 2008). Tetapi, dalam buku ini, Fareed tidak menerima anggapan bahwa Amerika mengalami kemunduran. Yang terjadi, menurut dia, adalah ‘kebangkitan negara-negara lain’, seperti meningkatnya ekonomi Cina, India, Brasil, Rusia, bahkan Afrika Selatan dan Kenya. Pada 2006-2007, sekitar 124 negara mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari 4 persen, sedangkan Indonesia mencapai 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi diikuti kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan lainnya. Di tengah kemajuan negara-negara lain ini, Amerika jika tidak mengalami kemunduran, setidaknya terlihat hanya jalan di tempat.

Meski demikian, Fareed melihat anggapan banyak kalangan masyarakat Amerika sendiri bahwa negara mereka tengah mengalami kemunduran tidak sepenuhnya benar. Amerika tetap masih merupakan kekuatan ekonomi dan politik terbesar di dunia. Yang sebenarnya terjadi adalah meningkatnya kemajuan banyak negara lain, sementara Amerika masih cenderung bersikap ‘provinsialisme’, khususnya dalam kebijakan luar negeri yang hanya melihat berbagai masalah internasional dari sudut sempit kepentingan sendiri. Itulah yang disebut sebagai dunia ‘pasca-Amerika’, sebuah dunia yang tidak lagi sepenuhnya dalam dominasi dan hegemoni Amerika.

Berefleksi setelah membaca karya Fareed ini, saya meyakini Indonesia memiliki potensi besar untuk memainkan peran yang kian signifikan dalam dunia ‘pasca-Amerika’, dunia yang lebih multipolar, di mana proses globalisasi membuka berbagai peluang. Salah satu prasyarat bagi Indonesia untuk meningkatkan peran itu adalah dengan lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi bersamaan dengan peningkatan pemerataan dan kesejahteraan masyarakatnya. Dan, tak kurang pentingnya adalah dengan memberikan prioritas khusus pada peningkatan kualitas pendidikan.

Peningkatan dalam bidang-bidang tersebut niscaya memerlukan kondisi politik yang lebih stabil dan pemerintahan yang lebih efektif dalam menjalankan tugasnya. Kita berharap, Pemilu 2009 nanti dapat memenuhi harapan tersebut, tidak hanya sekadar hura-hura politik.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 31 Juli 2008.

Dunia Pasca-Amerika

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak artikel dan buku tentang ‘kemunduran’ Amerika Serikat, yang terutama dikontraskan dengan ‘kebangkitan Asia’. Apa yang dimaksud dengan ‘kebangkitan Asia’ itu tidak lain adalah bangkitnya Cina dan India sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru, yang dipersepsikan banyak kalangan Amerika sebagai ancaman bagi dominasi dan hegemoni negara ini. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang politik.

Menurut majalah The Economist edisi 26 Juli-1 Agustus 2008, gejala ‘kemunduran Amerika’ itu mengakibatkan meluasnya perasaan tidak bahagia di banyak kalangan Amerika. Kebanyakan rakyat Amerika menganggap bahwa negeri mereka tengah mengalami resesi yang parah. Dalam kenangan bersama mereka, situasi Amerika sekarang ini tidak banyak berbeda dengan great depression 1930-an yang juga melanda negara ini.

Tidak hanya itu, beban yang diciptakan pemerintah Presiden Bush di luar negeri melalui kebijakan unilateralismenya, yang tak jelas tujuan dan manfaatnya bagi masyarakat Amerika sendiri ataupun bagi dunia, kelihatan kian sulit terselesaikan. Khususnya, menyangkut kegagalan misi militer di Afghanistan dan Irak. Sampai sekarang, ini tidak jelas cara keluar terbaik tanpa kehilangan muka dari kedua negara tersebut.

Hasilnya, dalam sebuah poling April lalu, 81 persen warga Amerika percaya bahwa negara mereka berada pada ‘jalur yang salah’. Inilah jawaban paling negatif selama 25 tahun terakhir. Rasa pesimistis sangat kuat karena berbagai perkembangan domestik dan internasional tidak menguntungkan hal-hal yang terkait Amerika.

Menghadapi berbagai masalah internal dan eksternal itu, banyak kalangan Amerika senang mencari ‘kambing hitam’ atas masalah yang mereka hadapi. ‘Kambing hitam’ yang paling empuk adalah negara Asia, khususnya Cina dan India yang pertumbuhan ekonominya sangat fenomenal, seolah tidak terpengaruh ‘resesi’ yang dirasakan Amerika. Pertumbuhan ekonomi kedua negara ini dipandang banyak kalangan Amerika sebagai sumber dari kemerosotan ekonomi negara mereka.

Di tengah merosotnya dominasi dan hegemoni Amerika, dunia terlihat kembali multipolar. Uni-Eropa atau negara-negara tertentu di Eropa, seperti Prancis khususnya, kembali mengambil inisiatif untuk penyelesaian konflik, misalnya Palestina dan Israel. Rusia dan Cina sering pula bersekutu menghadapi langkah Amerika pada tingkat internasional, misalnya saja dalam kasus nuklir Iran.

Berbagai perkembangan yang dihadapi Amerika, baik secara internal maupun eksternal, itu disebut oleh Fareed Zakaria dalam buku terbarunya sebagai ‘dunia pasca-Amerika’, The Post-American World (London: Allen Lane Penguin Books, 2008). Tetapi, dalam buku ini, Fareed tidak menerima anggapan bahwa Amerika mengalami kemunduran. Yang terjadi, menurut dia, adalah ‘kebangkitan negara-negara lain’, seperti meningkatnya ekonomi Cina, India, Brasil, Rusia, bahkan Afrika Selatan dan Kenya. Pada 2006-2007, sekitar 124 negara mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari 4 persen, sedangkan Indonesia mencapai 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi diikuti kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan lainnya. Di tengah kemajuan negara-negara lain ini, Amerika jika tidak mengalami kemunduran, setidaknya terlihat hanya jalan di tempat.

Meski demikian, Fareed melihat anggapan banyak kalangan masyarakat Amerika sendiri bahwa negara mereka tengah mengalami kemunduran tidak sepenuhnya benar. Amerika tetap masih merupakan kekuatan ekonomi dan politik terbesar di dunia. Yang sebenarnya terjadi adalah meningkatnya kemajuan banyak negara lain, sementara Amerika masih cenderung bersikap ‘provinsialisme’, khususnya dalam kebijakan luar negeri yang hanya melihat berbagai masalah internasional dari sudut sempit kepentingan sendiri. Itulah yang disebut sebagai dunia ‘pasca-Amerika’, sebuah dunia yang tidak lagi sepenuhnya dalam dominasi dan hegemoni Amerika.

Berefleksi setelah membaca karya Fareed ini, saya meyakini Indonesia memiliki potensi besar untuk memainkan peran yang kian signifikan dalam dunia ‘pasca-Amerika’, dunia yang lebih multipolar, di mana proses globalisasi membuka berbagai peluang. Salah satu prasyarat bagi Indonesia untuk meningkatkan peran itu adalah dengan lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi bersamaan dengan peningkatan pemerataan dan kesejahteraan masyarakatnya. Dan, tak kurang pentingnya adalah dengan memberikan prioritas khusus pada peningkatan kualitas pendidikan.

Peningkatan dalam bidang-bidang tersebut niscaya memerlukan kondisi politik yang lebih stabil dan pemerintahan yang lebih efektif dalam menjalankan tugasnya. Kita berharap, Pemilu 2009 nanti dapat memenuhi harapan tersebut, tidak hanya sekadar hura-hura politik.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 31 Juli 2008.