Dr Usman Syihab MA, Sebulan Mengajar di Afrika Selatan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Kantor FDI, BERITA UIN Online-Untuk kedua kalinya, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) Dr Usman Syihab MA mendapatkan kesempatan langka, yaitu mengajar dan meneliti tulisan batu nisan di Afrika Selatan selama sebulan.  Kegiatan tersebut berlangsung dari 11  Juli- 9   Agustus 2013.

“Tidak seperti tahun yang lalu, kedatangan saya ke Afrika Selatan pada tahun ini, selain bertugas sebagai narasumber dalam kegiatan Safari Ramadlan, saya juga mendapat tugas membaca dan menterjemahkan tulisan pada beberapa batu nisan di kuburan tua di dua kota kecil; Port Elizabeth dan Uitenhage, propinsi Eastern Cape,” ujar Usman di ruang kerjanya Kantor FDI, Senin (26/8/2013).

Seperti pada tahun yang lalu, dalam ini doktor bidang Pemikiran Islam jebolan Malaya University, ini memberikan ceramah di berbagai masjid, radio dan di berbagai institusi pendidikan di tingkat sekolah dasar, menengah dan perguran tinggi.

“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan budaya lslam Indonesia kepada masyarakat setempat, utamanya para keturunan Indonesia yang dikenal sebagai Cape Malay Community. Selain itu kegiatan dakwah juga dilakukan di Konsulat RI, kediaman masyarkat Indonesia dan di palabuhan dengan tujuan untuk memberikan pembinaan masyarakat Rl di yang berada di wilayah kerja KJRI di Cape Town, termasuk para TKI yang bekerja pada kapal-kapal penangkap ikan sebagai Anak Buah Kapal (ABK).

Kegiatan dakwah di masjid, radio dan madrasah sasarannya adalah masyarakat setempat  dengan pengantar bahasa Inggris. Yang menarik adalah khutbah jumat; sebelum khutbah “resmi” dimulai, ia harus melakukan “pra-khutbah” selama kurang lebih setengah jam, untuk menerangkan secara detail dalam bahasa Inggris apa yang akan disampaikan dalam khutbah yang resmi.

“Setelah itu bilal membaca salawat dan memberikan tongkat ke saya, sebagai khatib, saya duduk dan bilal adzan, kemudaian saya mmenyampaikan khutbah yang resmi dalam bahasa Arab,” imbuhnya.

Menurut Usman, mayoritas jamaah yang hadir di masjid-masjid adalah para keturunan Indonesia yang dikenal sebagai Cape Malay Community.”Saya melihat mereka sangat antusias untuk mendengarkan cerita-cerita tentang Islam dan orang-orang Islam di Indonesia, mereka berusaha mengungkapkan beberapa kata yang masih mereka ingat dari leluhur mereka sepeti “jamban” “pisang” “terima kasih”,” papar Usman, yang dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini.

Sambutan mereka atas kehadiran muslim Indonesia sangart luar biasa dan mengharukan. “Setiap selesai ceramah saya dirangkul dan dicium sambil mengucapkan “thanks my dear old brother.”  Jadi timbul hubungan emosiaonal, rasa akrab dan kehangatan,” tutur ayah enam anak ini.

Dijelaskannya, diantara persoalan utama masyarakat muslim di Afrika Selatan adalah kurang adanya persatuan dan kerjasama di antara berbagai komunitas muslim yang berasal dari keturunan yang berbeda, yaitu India, Melayu-Indonesia, Pakistan, dan Turki.

Ia menambahkan, selain itu mereka juga belum banyak memiliki lembanga-lembaga dakwah dan pendidikan yang mendukung. “Hal-hal ini yang mereka ungkapkan ketika sesi tanya-jawab setelah saya menyampaikan kuliah umum tentang peranan ormas Islam dalam dakwah di Indonesia, di International Peace College of South Africa,” tandasnya.

Kunjungan Usman ke Afsel yang kedua ini, selain mengajar dan ceramah di berbagai tempat, ia juga meneliti puluhan batu nisan. “Alhamdulillah selain dapat menyelesaikan tugas Safari Ramadlan, saya juga berhasil membaca dan menyalin sebanyak 67 batu nisan di kuburan tua Jubilee Park Cemetery Uitenhage dan South End Valley Cemetery Port Elizabeth, kemudian mentransliterasikan teks tersebut dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dan memberikan keterangand an analisis,” katanya.

Kegiatan tersebut terselenggara atas undangan Ketua Eastern Cape Malayo Curtural Society Mr. Yusuf Aghardeen dan Sugie Harijadi, Konsul Jenderal RI di Cape Town. ( D antariksa/ Saifudin)