Dr Oman Fathurahman, Visiting Professor di ILCAA Tokyo University of Foreign Studies

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung Rektorat, BERITA UIN Online–Dr Oman Fathurahman, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, mendapat kehormatan sebagai Visiting Professor pada semester akademik 2012/2013 lalu untuk melakukan riset di Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa (ILCAA), Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) atas undangan dari Prof Dr Koji Miyazaki, Executive Director, Trustee of TUFS.

Memanfaatkan kesempatan tersebut, Oman, yang juga dosen Sekolah Pascasarjana ini, melakukan penelitian tentang “Shattariyah Silsilah in Aceh, Java, and Mindanao”. “Sesuai bidang keilmuan saya di bidang filologi, saya memanfaatkan manuskrip-manuskrip Islam Nusantara berbahasa Arab, Melayu, dan Jawa sebagai basis utama penelitian tersebut,” ujar Oman kepada BERITA UIN Online, Rabu (4/9/2013)

Dalam proses penelitiannya, Oman membaca dan menyisir sekira 648 manuskrip koleksi Museum Aceh, 277 manuskrip koleksi-koleksi Cirebon, 43 manuskrip koleksi Tuan Muhammad Said, dan 11 manuskrip koleksi Shiek Ahmad Basher, keduanya di Marawi City of Mindanao, yang telah didigitalkan, serta beberapa koleksi manuskrip di the British Library dan Leiden University Library.

Menurut Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) ini, buku hasil penelitiannya tersebut akan segera diterbitkan oleh ILCAA TUFS dalam waktu dekat.

Selama ‘bertapa’ di Negeri Sakura tersebut, Kang Oman,- demikan sapaan akrab peneliti Pusat Pengkajian Islam  dan Masyarakat (PPIM) itu-, juga menyelesaikan penyusunan buku bersama sejarawan Jepang ahli Filipina, Prof Dr Kawashima Midori, yang juga akan terbit akhir tahun ini di Sophia University dengan judul “The Library of an Islamic Scholar of Mindanao: The Shaykh Muhammad Said Collection at the Al-Imam As-Sadiq (AS) Library, Marawi City, Philippines: An Annotated Catalogue with Essays”.

Selain kedua buku tersebut, Oman juga memberikan kontribusi penulisan artikel berjudul “New Textual Evidence for Intellectual and Religious Connections between the Ottomans and Aceh”, yang diedit oleh Andrew Peacock dan Annabel Teh Gallop, serta akan segera diterbitkan dalam serial Ottoman-SE Asian links oleh Oxford University Press.

Dengan beragam pengalaman riset internasional itu, Oman mengajak para dosen untuk melakukan hal serupa. Hal tersebut, tak saja menjadikan dosen yang bersangkutan kaya pengalaman intelektual, tapi juga mendapatkan jaringan internasional.

“Sudah seyogyanya dosen-dosen muda UIN Jakarta mencari kesempatan untuk melakukan riset serius dan menjalin kolaborasi akademik dengan berbagai sarjana dan lembaga penelitian di luar negeri, sesuai bidang keilmuan masing-masing, demi penguatan kelembagaan fakultas dan kampus UIN Jakarta, serta untuk peningkatan mutu akademik dosen bersangkutan sendiri,” harap dia.

Secara kelembagaan, UIN Jakarta pun dapat terus membuka akses dan memfasilitasi kesempatan-kesempatan kerjasama riset bagi dosen dengan lembaga-lembaga di luar negeri yang memiliki minat di bidang pengembangan Indonesian Studies.

Apalagi, sejak Januari 2013 lalu, seorang sarjana asal Belanda di bidang kajian Melayu, Jan van der Putten, telah diangkat sebagai Professor di Department of Languages and Literatures of Southeast Asia di University of Hamburg, Jerman, melengkapi keberadaan Professor Edwin P Wieringa di Malailogi Insitut, University of Cologne, yang kini menjadi research host bagi dosen muda Fakultas Ushuluddin UIN Dr Media Zainul Bahri.

Sejak 2006, Oman sendiri telah mendapatkan berbagai kesempatan fellowship dari The Alexander von Humboldt-Stiftung Jerman (2006-2008), Oxford Center for Islamic Studies (OXCIS) of Oxford University Inggris (September-November 2010), dan terakhir di ILCAA-TUFS, Tokyo. (D Antariksa/Saifudin)