Dr Mujar Ibnu Syarif: Puasa Membentuk Kesalehan Sosial

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Bulan suci Ramadhan yang dinanti-nanti umat muslim sedunia kembali hadir. Berbagai doa dipanjatkan, harapan ditautkan, dzikir dilafadzkan, sajadah dihamparkan, dan Al-Qur’an dilantunkan. Umat muslim meramaikan Ramadhan dengan suka cita seolah-olah Ramadhan ialah tamu agung yang siap dijamu dengan berbagai puja dan puji menyertainya. Menurut Pembantu Dekan Akademik Fakultas Syariah dan Hukum Dr Mujar Ibnu Syarif saat ditemui Luthfi Destianto dari UIN Online  di ruang kerjanya mengatakan, puasa merupakan suatu ibadah yang membentuk kesalehan sosial manusia. Untuk mengetahui lebih lanjut pemikiran Mujar tentang makna puasa, berikut petikan wawancaranya.

 

 

 

Apa makna dan hakekat puasa menurut Anda?

 

 

Puasa dilihat dari definisinya, dimaknai sebagai menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Tapi, ada substansi lebih dari itu, sejatinya menahan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Diluar puasa, orang terdidik misalnya PNS, dia menahan dirinya untuk korupsi meskipun kesempatan untuk itu banyak. Kalau hanya menahan lapar dan dahaga kurang bermakna.
Dalam kaitan terorisme, menahan diri dari memusuhi orang yang berbeda agama. Jangan melihat orang beda agama terus ingin menghancurkan orang-orang yang berbeda dengan mereka. Orang yang puasa itu santun, baik, jujur, santun, toleran. Sejatinya, orang yang berpuasa dapat hidup dalam lingkungannya secara lebih bermakna dan membuat suasana menjadi nyaman bila didekatnya.

 

Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga namun juga menjaga hawa nafsu kelima panca indera kita, hati kita, pikiran kita semua harus dikondisikan baik dan bermanfaat bagi kehidupan banyak orang.

 

Menurut Nabi, Puasa itu ibarat perang, perang yang paling dahsyat ialah menahan hawa nafsu yang sudah ada di dalam diri kita sendiri.

 

 

Menarik membahas hawa nafsu, kadangkala seseorang dapat menahan hawa nafsu pada bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan kembali ke sifat “aslinya”. Bagaimana kiat agar kita dapat menahan hawa nafsu?

 

 

Karena orang merasa dia beribadah hanya terbatas pada Ramadhan. Ketika dia puasa dia tahan marah ketika ia selesai puasa, emosinya tidak terkontrol kembali. Bukan itu intinya. Puasa justru mendidik orang ingin menguji ketika ia mampu menahan emosi ketika puasa, semestinya ia mampu menahannya ketika selesai Ramadhan. Sehingga ketika selesai puasa, ia dapat menekan semaksimal mungkin hawa nafsunya.

 

Orang harus paham bahwa sesungguhnya efek dari manfaat puasa sesungguhnya setelah puasa. Ibaratnya, dalam puasa orang dilarang marah, maka jika orang tersebut mampu menahan marah itu biasa. Masalahnya, ketika setelah puasa tidak dilarang untuk marah. Jika seseorang mampu menahan marah itu luar biasa. Hal ini dapat diartikan, jika sebelas bulan setelah puasa ia tetap marah maka pertanda puasanya tidak berhasil mendidik orang untuk tidak emosional.

 

Sabda Nabi Muhammad SAW, orang kuat bukan yang menang dalam pertarungan gulat. Orang kuat adalah yang mampu menahan marah dan emosi. Maka ketika marah, Nabi mengajarkan untuk berwudhu. Puasa itu hakekatnya mendidik seseorang menahan hawa nafsu yang justru berasal dari dirinya sendiri.

 

 

Bagaimana menurut Anda puasa di kalangan sufi?

 

 

Kaum sufi terkenal dengan sosok yang zuhud. Jikalau zuhud, ketika mereka berpuasa itu lillah atau karena Allah semata. Kalau kita kan kadangkala berpuasa karena ada sebabnya. Misalnya, kita yang memiliki obesitas ingin langsing, atau yang biasa boros, bisa dia meredam pengeluaran. Jikalau itu niat yang kita tambatkan, saya pikir hal itu jauh dari puasanya model kaum sufi.

 

Imam Ghazali menyebut puasa dalam tiga tingkatan. Puasa yang hanya menahan lapar dan haus, puasa yang selain menahan lapar dan dahaga sekaligus menjaga panca inderanya. Misalnya; mata tidak jelalatan. Yang terakhir bukan hanya menahan lapar dan dahaga, dan panca indera belaka, tetapi hatipun berpuasa. Dia tidak ingin puasanya pamrih. Kaum sufi sudah masuk pada level terakhir. Boleh jadi, kaum sufi sudah tidak memikirkan mau buka atau sahur dengan apa. Mereka serahkan semuanya pada Allah.

 

 

Bagaimana menurut Anda mengenai puasa orang yang bekerja sangat keras (kuli bangunan, tukang ledeng), sebaliknya bagaimana puasanya orang yang sangat lemah fisiknya (fakir, berpenyakit, dll)?

 

 

Jika orang fakir puasa bagi mereka tidak masalah, mereka sudah terbiasa dalam menahan lapar dan dahaga, sedangkan seorang pekerja keras, inilah salah satu keindahan agama islam, islam tidak memberatkan. Allah tidak memberatkan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuan. Pekerja berat masuk dalam kategori orang yang mampu berpuasa namun dalam kondisi yang sangat menyulitkan dia boleh tidak berpuasa namun harus membayar fidyah. Namun kalau profesinya setiap tahun seperti itu, dia tidak ada kesempatan berpuasa. Sebaiknya orang-orang yang bekerja berat juga kalau mereka berpuasa juga tidak masalah. Tidak ada ceritanya orang mati karena puasa.

 

 

Berdasarkan pendapat salah satu ulama, dijelaskan, meskipun seseorang dapat mengganti di lain hari di luar bulan suci Ramadhan, pahala berpuasa tidak sama dengan di bulan suci. Bagaimana pandangan Anda?

 

 

Menurut hemat saya memang bukan hanya pahala saja, namun seseorang yang mengganti puasanya dibulan Ramadhan dengan sebelas bulan berikutnya, perasaan hati juga berbeda. Kenikmatannya jelas, lebih nikmat dan tenang di bulan Ramadhan. Namun, tidak boleh menuntut juga kalau dia bekerja berat dia harus berpuasa juga. Islam itu mudah namun juga jangan dimudah-mudahkan.

 

 

UIN memiliki moto yang dikenal dengan knowledge, piety dan integrity. Menurut pandangan Anda, bagaimana kaitan antara motto UIN dengan hakekat puasa? Terutama pada kata piety?

 

 

Piety itu kesalehan. Kesalehan yang dimaksud disini haruslah integratis antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Sehingga, orang jangan hanya merasa berpuasa terus berpikir dia sudah menjadi orang baik. Ketika ia berpuasa sebulan penuh namun ia tidak peduli terhadap lingkungan. Banyak orang yang hidup kekurangan namun ia tidak memperdulikan. Sivitas akademika UIN yang melaksanakan puasa seperti itu, hanya saleh secara individual namun tidak saleh secara sosial.

 

Jikalau begitu upaya kesalehan menggabungkan dua kesalehan. Saleh dimata manusia dan saleh di mata tuhan. Saleh dimata tuhan berpuasa yang benar. Namun, saleh dimata manusia dia juga peduli terhadap lingkungan sekitar. Maka dari itu, dalam rukun islam urutannya puasa dulu baru zakat. Maksudnya, agar orang kaya merasa tidak enak lapar dan dahaga, sehingga setelah merasakan, ia menyadari pentingnya zakat.

 

 

Di dalam Ramadhan ada Lailatul Qadar. Bagaimana kiat agar kita dapat mencapai Lailatul Qadar tersebut?

 

 

Ada kesalahpahaman. Lailatul Qadar disebut Nabi pada malam-malam ganjil. Saya khawatir kalau ini dilakukan, ibadahnya hanya digiatkan pada malam ganjil tersebut. Bagi saya Lailatul Qadar itu seperti yang disebut Allah dalam ayat bunyinya “Lailatul Qadrii khairun min alfi syahrin” yaitu malam kemuliaan lebih baik dari seribu bulan. Maksudnya, orang yang berpuasa itu, orang yang berpuasa itu harus memiliki potensi kesalehan. Sehingga kesalehan yang dilakukan di bulan Ramadhan itu bisa mengantar dirinya sebagai orang yang kesalehan mencapai takwa seolah-olah mendapat pahala seribu bulan. Bagi saya, orang yang menggapai Lailatul Qadar itu harus ditunggu-tunggu, dicari-cari, sehingga setelah ia mendapatkan itu tidak ada perubahan lebih positif. Kesalehan dia berimbas dengan kegiatan di luar Ramadhan. Orang mendapat Lailatul Qadar namun ia tetap kikir, enggan berzakat, serakah, dll berarti hanya mendapat namanya saja tidak mendapat substansinya.

 

 

Apa pesan Anda kepada sivitas akademika UIN dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan?

 

 

 

Jadikan puasa itu sebagai sebuah momen kebangkitan. Dalam konteks sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) berkarya dan mengabdi dengan lebih baik lagi dibanding sebelumnya. Sebab pada QS Al-Baqarah : 183 dimana disebutkan pada akhirnya orang yang beriman diwajibkan berpuasa itu tujuannya untuk menjadi orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang diinginkan Allah ada sebuah gerakan progresitivitas. Umat muslim harus bergerak maju dari belum bertakwa menjadi bertakwa. Artinya, jika pengabdiannya belum baik perlu diperbaiki. Budaya kerjanya harus diubah. Setelah puasa harus menuju karya dan pengabdian untuk bangsa dan Negara. [Luthfi Destianto]

 

Dr Mujar Ibnu Syarif: Puasa Membentuk Kesalehan Sosial

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Bulan suci Ramadhan yang dinanti-nanti umat muslim sedunia kembali hadir. Berbagai doa dipanjatkan, harapan ditautkan, dzikir dilafadzkan, sajadah dihamparkan, dan Al-Qur’an dilantunkan. Umat muslim meramaikan Ramadhan dengan suka cita seolah-olah Ramadhan ialah tamu agung yang siap dijamu dengan berbagai puja dan puji menyertainya. Menurut Pembantu Dekan Akademik Fakultas Syariah dan Hukum Dr Mujar Ibnu Syarif saat ditemui Luthfi Destianto dari UIN Online  di ruang kerjanya mengatakan, puasa merupakan suatu ibadah yang membentuk kesalehan sosial manusia. Untuk mengetahui lebih lanjut pemikiran Mujar tentang makna puasa, berikut petikan wawancaranya.

 

 

 

Apa makna dan hakekat puasa menurut Anda?

 

 

Puasa dilihat dari definisinya, dimaknai sebagai menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Tapi, ada substansi lebih dari itu, sejatinya menahan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Diluar puasa, orang terdidik misalnya PNS, dia menahan dirinya untuk korupsi meskipun kesempatan untuk itu banyak. Kalau hanya menahan lapar dan dahaga kurang bermakna.
Dalam kaitan terorisme, menahan diri dari memusuhi orang yang berbeda agama. Jangan melihat orang beda agama terus ingin menghancurkan orang-orang yang berbeda dengan mereka. Orang yang puasa itu santun, baik, jujur, santun, toleran. Sejatinya, orang yang berpuasa dapat hidup dalam lingkungannya secara lebih bermakna dan membuat suasana menjadi nyaman bila didekatnya.

 

Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga namun juga menjaga hawa nafsu kelima panca indera kita, hati kita, pikiran kita semua harus dikondisikan baik dan bermanfaat bagi kehidupan banyak orang.

 

Menurut Nabi, Puasa itu ibarat perang, perang yang paling dahsyat ialah menahan hawa nafsu yang sudah ada di dalam diri kita sendiri.

 

 

Menarik membahas hawa nafsu, kadangkala seseorang dapat menahan hawa nafsu pada bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan kembali ke sifat “aslinya”. Bagaimana kiat agar kita dapat menahan hawa nafsu?

 

 

Karena orang merasa dia beribadah hanya terbatas pada Ramadhan. Ketika dia puasa dia tahan marah ketika ia selesai puasa, emosinya tidak terkontrol kembali. Bukan itu intinya. Puasa justru mendidik orang ingin menguji ketika ia mampu menahan emosi ketika puasa, semestinya ia mampu menahannya ketika selesai Ramadhan. Sehingga ketika selesai puasa, ia dapat menekan semaksimal mungkin hawa nafsunya.

 

Orang harus paham bahwa sesungguhnya efek dari manfaat puasa sesungguhnya setelah puasa. Ibaratnya, dalam puasa orang dilarang marah, maka jika orang tersebut mampu menahan marah itu biasa. Masalahnya, ketika setelah puasa tidak dilarang untuk marah. Jika seseorang mampu menahan marah itu luar biasa. Hal ini dapat diartikan, jika sebelas bulan setelah puasa ia tetap marah maka pertanda puasanya tidak berhasil mendidik orang untuk tidak emosional.

 

Sabda Nabi Muhammad SAW, orang kuat bukan yang menang dalam pertarungan gulat. Orang kuat adalah yang mampu menahan marah dan emosi. Maka ketika marah, Nabi mengajarkan untuk berwudhu. Puasa itu hakekatnya mendidik seseorang menahan hawa nafsu yang justru berasal dari dirinya sendiri.

 

 

Bagaimana menurut Anda puasa di kalangan sufi?

 

 

Kaum sufi terkenal dengan sosok yang zuhud. Jikalau zuhud, ketika mereka berpuasa itu lillah atau karena Allah semata. Kalau kita kan kadangkala berpuasa karena ada sebabnya. Misalnya, kita yang memiliki obesitas ingin langsing, atau yang biasa boros, bisa dia meredam pengeluaran. Jikalau itu niat yang kita tambatkan, saya pikir hal itu jauh dari puasanya model kaum sufi.

 

Imam Ghazali menyebut puasa dalam tiga tingkatan. Puasa yang hanya menahan lapar dan haus, puasa yang selain menahan lapar dan dahaga sekaligus menjaga panca inderanya. Misalnya; mata tidak jelalatan. Yang terakhir bukan hanya menahan lapar dan dahaga, dan panca indera belaka, tetapi hatipun berpuasa. Dia tidak ingin puasanya pamrih. Kaum sufi sudah masuk pada level terakhir. Boleh jadi, kaum sufi sudah tidak memikirkan mau buka atau sahur dengan apa. Mereka serahkan semuanya pada Allah.

 

 

Bagaimana menurut Anda mengenai puasa orang yang bekerja sangat keras (kuli bangunan, tukang ledeng), sebaliknya bagaimana puasanya orang yang sangat lemah fisiknya (fakir, berpenyakit, dll)?

 

 

Jika orang fakir puasa bagi mereka tidak masalah, mereka sudah terbiasa dalam menahan lapar dan dahaga, sedangkan seorang pekerja keras, inilah salah satu keindahan agama islam, islam tidak memberatkan. Allah tidak memberatkan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuan. Pekerja berat masuk dalam kategori orang yang mampu berpuasa namun dalam kondisi yang sangat menyulitkan dia boleh tidak berpuasa namun harus membayar fidyah. Namun kalau profesinya setiap tahun seperti itu, dia tidak ada kesempatan berpuasa. Sebaiknya orang-orang yang bekerja berat juga kalau mereka berpuasa juga tidak masalah. Tidak ada ceritanya orang mati karena puasa.

 

 

Berdasarkan pendapat salah satu ulama, dijelaskan, meskipun seseorang dapat mengganti di lain hari di luar bulan suci Ramadhan, pahala berpuasa tidak sama dengan di bulan suci. Bagaimana pandangan Anda?

 

 

Menurut hemat saya memang bukan hanya pahala saja, namun seseorang yang mengganti puasanya dibulan Ramadhan dengan sebelas bulan berikutnya, perasaan hati juga berbeda. Kenikmatannya jelas, lebih nikmat dan tenang di bulan Ramadhan. Namun, tidak boleh menuntut juga kalau dia bekerja berat dia harus berpuasa juga. Islam itu mudah namun juga jangan dimudah-mudahkan.

 

 

UIN memiliki moto yang dikenal dengan knowledge, piety dan integrity. Menurut pandangan Anda, bagaimana kaitan antara motto UIN dengan hakekat puasa? Terutama pada kata piety?

 

 

Piety itu kesalehan. Kesalehan yang dimaksud disini haruslah integratis antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Sehingga, orang jangan hanya merasa berpuasa terus berpikir dia sudah menjadi orang baik. Ketika ia berpuasa sebulan penuh namun ia tidak peduli terhadap lingkungan. Banyak orang yang hidup kekurangan namun ia tidak memperdulikan. Sivitas akademika UIN yang melaksanakan puasa seperti itu, hanya saleh secara individual namun tidak saleh secara sosial.

 

Jikalau begitu upaya kesalehan menggabungkan dua kesalehan. Saleh dimata manusia dan saleh di mata tuhan. Saleh dimata tuhan berpuasa yang benar. Namun, saleh dimata manusia dia juga peduli terhadap lingkungan sekitar. Maka dari itu, dalam rukun islam urutannya puasa dulu baru zakat. Maksudnya, agar orang kaya merasa tidak enak lapar dan dahaga, sehingga setelah merasakan, ia menyadari pentingnya zakat.

 

 

Di dalam Ramadhan ada Lailatul Qadar. Bagaimana kiat agar kita dapat mencapai Lailatul Qadar tersebut?

 

 

Ada kesalahpahaman. Lailatul Qadar disebut Nabi pada malam-malam ganjil. Saya khawatir kalau ini dilakukan, ibadahnya hanya digiatkan pada malam ganjil tersebut. Bagi saya Lailatul Qadar itu seperti yang disebut Allah dalam ayat bunyinya “Lailatul Qadrii khairun min alfi syahrin” yaitu malam kemuliaan lebih baik dari seribu bulan. Maksudnya, orang yang berpuasa itu, orang yang berpuasa itu harus memiliki potensi kesalehan. Sehingga kesalehan yang dilakukan di bulan Ramadhan itu bisa mengantar dirinya sebagai orang yang kesalehan mencapai takwa seolah-olah mendapat pahala seribu bulan. Bagi saya, orang yang menggapai Lailatul Qadar itu harus ditunggu-tunggu, dicari-cari, sehingga setelah ia mendapatkan itu tidak ada perubahan lebih positif. Kesalehan dia berimbas dengan kegiatan di luar Ramadhan. Orang mendapat Lailatul Qadar namun ia tetap kikir, enggan berzakat, serakah, dll berarti hanya mendapat namanya saja tidak mendapat substansinya.

 

 

Apa pesan Anda kepada sivitas akademika UIN dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan?

 

 

 

Jadikan puasa itu sebagai sebuah momen kebangkitan. Dalam konteks sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) berkarya dan mengabdi dengan lebih baik lagi dibanding sebelumnya. Sebab pada QS Al-Baqarah : 183 dimana disebutkan pada akhirnya orang yang beriman diwajibkan berpuasa itu tujuannya untuk menjadi orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang diinginkan Allah ada sebuah gerakan progresitivitas. Umat muslim harus bergerak maju dari belum bertakwa menjadi bertakwa. Artinya, jika pengabdiannya belum baik perlu diperbaiki. Budaya kerjanya harus diubah. Setelah puasa harus menuju karya dan pengabdian untuk bangsa dan Negara. [Luthfi Destianto]