Dosen UIN Jakarta Jadi Juru Bicara Islam-Indonesia di Afrika Selatan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FDI, BERITA UIN Online–Tak banyak orang yang bisa dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru bicara Islam-Indonesia di luar negeri. Selain harus fasih berbahasa Arab dan Inggris, ia juga harus ahli dalam menjelaskan Islam baik secara normatif, sosiologis, dan sebagainya.

Di antara orang yang beruntung meraih kesempatan langka itu adalah Dr Usman Syihab. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) ini sejak 26 Juli sampai 25 Agustus  menjadi dai, guru, dan sekaligus menjadi juru bicara Pemerintah Indonesia di Afrika Selatan.

“Program ini diselengarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan, bekerjasama dengan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,”ujar Dr Usman kepada BERITA UIN di ruang kerjanya Gedung FDI, Selasa (4/9).

Selama di Afrika Selatan, Dr Usman memberikan ceramah tentang Islam, sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia. “Di sana kita berdakwah dan mempromosikan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, mengenalkan Indonesia dan sejarah Islam di Indonesia,” katanya.

Bahkan untuk mengenalkan Islam-Indonesia secara luas, pada kesempatan itu, Dr Usman juga didapuk  menjadi pembicara atau narasumber dialog interaktif di sejumlah stasiun radio setempat. “Lima kali wawancara dan siaran di empat stasiun radio dengan bahasa Inggris. Mereka sangat semangat mengenal Islam-Indonesia,’tuturnya.

Selama hampir sebulan itu, ayah dari lima anak ini, juga memberikan pengajaran di beberapa sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Tugas peraih master bidang Pemikiran Islam dari International Islamic University (IIU) Malaysia dan doktor pada bidang yang sama dari University Malaya, Malaysia, ini tidak hanya berkutat pada ceramah, mengajar, dan berdialog dengan warga muslim Afrika Selatan dan warga Indonesia saja.

Pada kesempatan itu, ia juga mengemban tugas membaca batu nisan, mentranskrip, dan menerjemahkan teks-teks batu nisan di dua kuburan tua Muslim di kota Port Elizabeth dan Uitenhage.”Teks-teks batu nisan tersebut menggunakan bahasa Arab dan/ atau bahasa Indonesia yang tertulis dalam huruf Arab,”imbuhnya. (d antariksa/ Saifudin)