Dosen Ilmu-ilmu Adab se-Indonesia Dirikan Asosiasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Radio Dalam, UINJKT Online – Sejumlah dosen ilmu-ilmu Adab dari Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia bersepakat untuk mendirikan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA). Deklarasi dan peluncuran ADIA itu dilakukan dalam sebuah pertemuan nasional yang berlangsung di Gedung Diklat Departemen Sosial, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Jumat (7/8) malam.

 

Peluncuran ADIA dilakukan Pembantu Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta Dr Jamhari yang dihadiri Ketua Umum ADIA terpilih Prof Dr Misri A Muchsin, Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Drs Tati Hartimah MA dan para Dekan Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia. Seusai peluncuran acara dilanjutkan dengan lokakarya dan seminar serta perumusan program kerja organisasi dan AD/ART yang akan berlangsung hingga Minggu besok.

 

Menurut Ketua Umum ADIA Misri A Muchsin, pembentukan ADIA diawali dari pertemuan pimpinan dan dosen Fakultas Adab se-Indonesia di Aceh pada November tahun lalu. Dalam pertemuan itu, forum sepakat bahwa untuk menampung aspirasi antardosen ilmu-ilmu Adab diperlukan suatu wadah asosiasi bernama Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab atau disingkat ADIA. ”Malam (Jumat, 7/8) ini ADIA kita luncurkan dengan harapan kelak dapat membantu dalam peningkatan kualitas dosen ilmu-ilmu Adab dan fakultas adab di UIN/IAIN itu sendiri,” ujarnya.

 

Pembantu Rektor Bidang Akademik Jamhari sempat mengusulkan agar penyebutan nama ”dosen” dalam ADIA diubah menjadi ”sarjana”. Sebab, jika masih nama ”dosen” yang dipakai maka sarjana ahli ilmu-ilmu Adab lain yang tidak beraktivitas di dunia akademik tidak memiliki akses masuk menjadi anggota. ”Organiasi ini tentu menjadi sangat ekseklusif dan kurang menguntungkan bagi pengembangan ADIA ke depan,” katanya.

 

Ia mencontohkan seperti ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) atau AAI (Asosiasi Advokat Indonesia). Dalam wadah ini, kata dia, siapa pun yang menjadi sarjana ekonomi atau menjadi advokat bisa bergabung dengan wadah tersebut. ”Jadi penggunaan nama dosen itu saya kira perlu dipertimbangkan kembali,” sarannya.

 

Pertemuan nasional dosen ilmu-ilmu Adab hari kedua (Sabtu, 8/8) ini diisi dengan diskusi dari para pakar dan sidang komisi. Rencananya, pertemuan ditutup besok dengan perumusan hasil sidang komisi. (ns)

 

Dosen Ilmu-ilmu Adab se-Indonesia Dirikan Asosiasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Radio Dalam, UINJKT Online – Sejumlah dosen ilmu-ilmu Adab dari Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia bersepakat untuk mendirikan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA). Deklarasi dan peluncuran ADIA itu dilakukan dalam sebuah pertemuan nasional yang berlangsung di Gedung Diklat Departemen Sosial, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Jumat (7/8) malam.

 

Peluncuran ADIA dilakukan Pembantu Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta Dr Jamhari yang dihadiri Ketua Umum ADIA terpilih Prof Dr Misri A Muchsin, Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Drs Tati Hartimah MA dan para Dekan Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia. Seusai peluncuran acara dilanjutkan dengan lokakarya dan seminar serta perumusan program kerja organisasi dan AD/ART yang akan berlangsung hingga Minggu besok.

 

Menurut Ketua Umum ADIA Misri A Muchsin, pembentukan ADIA diawali dari pertemuan pimpinan dan dosen Fakultas Adab se-Indonesia di Aceh pada November tahun lalu. Dalam pertemuan itu, forum sepakat bahwa untuk menampung aspirasi antardosen ilmu-ilmu Adab diperlukan suatu wadah asosiasi bernama Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab atau disingkat ADIA. ”Malam (Jumat, 7/8) ini ADIA kita luncurkan dengan harapan kelak dapat membantu dalam peningkatan kualitas dosen ilmu-ilmu Adab dan fakultas adab di UIN/IAIN itu sendiri,” ujarnya.

 

Pembantu Rektor Bidang Akademik Jamhari sempat mengusulkan agar penyebutan nama ”dosen” dalam ADIA diubah menjadi ”sarjana”. Sebab, jika masih nama ”dosen” yang dipakai maka sarjana ahli ilmu-ilmu Adab lain yang tidak beraktivitas di dunia akademik tidak memiliki akses masuk menjadi anggota. ”Organiasi ini tentu menjadi sangat ekseklusif dan kurang menguntungkan bagi pengembangan ADIA ke depan,” katanya.

 

Ia mencontohkan seperti ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) atau AAI (Asosiasi Advokat Indonesia). Dalam wadah ini, kata dia, siapa pun yang menjadi sarjana ekonomi atau menjadi advokat bisa bergabung dengan wadah tersebut. ”Jadi penggunaan nama dosen itu saya kira perlu dipertimbangkan kembali,” sarannya.

 

Pertemuan nasional dosen ilmu-ilmu Adab hari kedua (Sabtu, 8/8) ini diisi dengan diskusi dari para pakar dan sidang komisi. Rencananya, pertemuan ditutup besok dengan perumusan hasil sidang komisi. (ns)