Internet telah mengubah pola konsumsi generasi milenial terhadap informasi agama. Mereka dulu biasanya mendapatkannya melalui media cetak, seperti buku, majalah, dan jurnal, serta pengajian-pengajian dari ustad maupun mubalig. Kini mereka bermigrasi ke media-media konvergensi yang lebih instan dan kerap menyajikan konten secara parsial. Internet menjadi alat pencarian informasi agama secara sporadis.

Fenomena ini sejatinya penanda bahwa ada pola interaksi sosial dan pembicaraan agama lewat kanal-kanal baru, yang menyampaikan pesan, propaganda, serta penyebaran paham-paham radikal dan ekstrem agama. Ruang baru tersebut bukan sekadar alat, melainkan keniscayaan bagi generasi milenial.

Radikalisme dalam situs dan media sosial menjadi persoalan pelik karena tiga sebab. Pertama, media itu saluran komunikasi baru. Kedua, jangkauannya sangat luas dan melewati batas-batas negara. Ketiga, ia mampu mempengaruhi seseorang dengan sangat efektif.

Penelitian Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menemukan bahwa situs organisasi Islam arus utama (NU Online dan Suara Muhammadiyah) kerap memproduksi narasi-narasi yang menekankan pentingnya integrasi umat, pesan yang menyejukkan, dan membawa pesan Islam yang rahmat bagi semua.

Adapun situs organisasi Islam kontemporer (Hidayatullah.com dan Suara Islam) menarasikan persoalan kelompok dan cenderung diam pada fenomena radikalisme agama. Sedangkan situs organisasi Islam non-afiliasi (Eramuslim.com dan VOA-Islam.com) kerap memproduksi narasi-narasi yang mendukung sikap serta tindakan radikal (PSBPS & PPIM, 2017).

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa situs-situs organisasi Islam non-afiliasi itulah yang paling populer di kalangan warganet Indonesia. Ini bisa kita lihat dari persentase jumlah pengunjung selama Juli-September 2017. Misalnya, total pengunjung Eramuslim.com sekitar 9,5 juta lebih, Islam.id 8,3 juta lebih, dan VOA-Islam.com 5 juta lebih. Bandingkan dengan pengunjung NU Online yang 6,5 juta lebih dan Suara Muhammadiyah sekitar 388 ribu lebih.

Eramuslim dan VOA-Islam kerap menulis judul yang mengajak sikap intoleransi dan ujaran kebencian. Mereka menulis judul seperti “Media Kufar Bakal Juluki Al-Mahdi Teroris”, “Indonesia Butuh Diktator yang Beriman”, “Yahudi Zionis, Biang Kerusakan Dunia”, “Muslim Lemah Dibantai di Rohingnya, Masih Tak Mau Jihad?”, “Kewajiban Mempersiapkan Fisik untuk Berjihad”. Mereka juga mengelola situsnya dengan sangat serius untuk menyampaikan pesan-pesan ideologisnya kepada pembaca.

Meminjam teori jarum hipodermik David K. Berlo, hal itu digambarkan sebagai sebuah peluru yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Artinya, situs-situs radikal diibaratkan sebagai obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah warganet kemudian warganet akan beraksi seperti yang diharapkan.

Hal tersebut terbukti dengan, misalnya, bagaimana terpidana terorisme Aman Abdurrahman menuliskan narasi-narasi Islam melalui blog Millahibrahim.com dari balik jeruji penjara. Dari tulisan tersebut, Aman sangat dikagumi banyak pengikutnya, bahkan ada yang terinspirasi setelah membaca blognya.

Kasus serupa terjadi di Irak. Tokoh Al-Qaidah, Abu Musab Al-Zarqawi, sangat mahir dalam menggunakan Internet. Dia mengunggah rekaman bom di pinggir jalan, pemenggalan kepala sandera, serta rekaman diplomat Mesir dan Aljazair yang telah mereka culik sebelum dieksekusi.

Sebagian besar proses radikalisasi terhadap anak muda milenial dalam jaringan online ini berlangsung sangat efektif dan cepat. Charlie Winter mengungkapkan bahwa Internet dan media sosial bagaikan “masjid radikal” tempat teroris menyebarkan narasi untuk mencari simpatisan serta merekrut pengguna Internet dan media sosial.

Berdasarkan hal tersebut, pemerintah harus memperhatikan pentingnya pengutamaan Islam sebagai agama kemanusiaan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Literasi media di tingkat sekolah, baik oleh guru maupun siswa, harus diperkuat. Pemerintah juga harus mendorong dan memfasilitasi situs-situs Islam moderat dalam memproduksi konten-konten moderat dengan memberi dana hibah maupun pelatihan jurnalistik. Dengan begitu, dakwah-dakwah Islam di Internet maupun media sosial akan lebih menyejukkan.

Dirga Maulana 

Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Artikel ini telah dimuat pada kolom Pendapat harian Tempo edisi Kamis, 15 Maret 2018

Share This