Dollar Masuk, Tapi Kekayaan Alam Indonesia Keluar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Aula Madya, UINJKT Online – Menurut dosen STIE HAMFARA Yogyakarta Ir Dwi Condro Triono Amerika Serikat merupakan negara adikuasa yang mempunyai nilai mata uang dollar sebagai alat tukar atas kekayaan suatu negara. Ini diberlakukan di seluruh negara yang memiliki kekayaan alam.

“Dollar hanya bisa masuk oleh kekayaan alam dan bahkan jatuh bangunnya nilai rupiah, ditentukan dengan keluar masuknya dollar,” ujar dosen STIE HAMFARA Yogyjakarta Ir Dwi Condro Triono dalam kajian ekonomi Islam bulanan dengan tema Peran Dinar dan Dirham untuk Mengatasi Krisis Ekonomi yang digelar BEMJ Konsentrasi Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di Aula Madya, Kamis (14/5).

Menurutnya, uang kertas dollar AS adalah alat untuk menjajah dunia. Hal ini ditunjukkan dengan mudahnya pemberian modal oleh IMF dan Bank Dunia sebagai spekulasi Amerika pada negara-negara berkembang. Tapi akibatnya, alat penukar tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan ekologi, seperti degradasi lahan, polusi yang meluas, pemusnahan hutan, penjarahan sumber daya alam dan rusaknya struktur sosial masyarakat tradisional.

Dia menjelaskan, untuk biaya produksi percetakan satu dollar AS setara dengan empat sen. Artinya, jika satu dollar AS nilainya Rp 10.000, maka nilai empat sen dollar kira-kira Rp 400 sehingga seigniorage-nya (kebalikan cost of carry) Rp 9.600, dan seigniorage ini dibebankan pada konsumen dollar AS.

“Maka yang terjadi saat pemerintahan SBY- JK, utang Indonesia mencapai 2.3 miliar dollar AS. Bahkan kalau utang tersebut jika ditimbun dengan lembaran seratus ribuan rupiah, maka uang itu akan terus menumpuk sampai ke bulan terus ke bumi dan ke bulan lagi,” kilahnya dengan nada gemas.

Sehingga uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia kini memakai istilah kurangi anggaran biaya pendidikan, kesehatan atau pembangunan, untuk menutupi utang pemerintah yang makin membekak.

“Ke depan, agar rakyat sejahtera pemerintah harus membuat sistem ekonomi Islam, dengan alat tukar emas atau  perak serta pengelolaan SDA. Pajak diubah dengan zakat dan infaq,” tutur mahasiswa yang sedang meraih gelar doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia.*

 

 

Dollar Masuk, Tapi Kekayaan Alam Indonesia Keluar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Aula Madya, UINJKT Online – Menurut dosen STIE HAMFARA Yogyakarta Ir Dwi Condro Triono Amerika Serikat merupakan negara adikuasa yang mempunyai nilai mata uang dollar sebagai alat tukar atas kekayaan suatu negara. Ini diberlakukan di seluruh negara yang memiliki kekayaan alam.

“Dollar hanya bisa masuk oleh kekayaan alam dan bahkan jatuh bangunnya nilai rupiah, ditentukan dengan keluar masuknya dollar,” ujar dosen STIE HAMFARA Yogyjakarta Ir Dwi Condro Triono dalam kajian ekonomi Islam bulanan dengan tema Peran Dinar dan Dirham untuk Mengatasi Krisis Ekonomi yang digelar BEMJ Konsentrasi Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di Aula Madya, Kamis (14/5).

Menurutnya, uang kertas dollar AS adalah alat untuk menjajah dunia. Hal ini ditunjukkan dengan mudahnya pemberian modal oleh IMF dan Bank Dunia sebagai spekulasi Amerika pada negara-negara berkembang. Tapi akibatnya, alat penukar tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan ekologi, seperti degradasi lahan, polusi yang meluas, pemusnahan hutan, penjarahan sumber daya alam dan rusaknya struktur sosial masyarakat tradisional.

Dia menjelaskan, untuk biaya produksi percetakan satu dollar AS setara dengan empat sen. Artinya, jika satu dollar AS nilainya Rp 10.000, maka nilai empat sen dollar kira-kira Rp 400 sehingga seigniorage-nya (kebalikan cost of carry) Rp 9.600, dan seigniorage ini dibebankan pada konsumen dollar AS.

“Maka yang terjadi saat pemerintahan SBY- JK, utang Indonesia mencapai 2.3 miliar dollar AS. Bahkan kalau utang tersebut jika ditimbun dengan lembaran seratus ribuan rupiah, maka uang itu akan terus menumpuk sampai ke bulan terus ke bumi dan ke bulan lagi,” kilahnya dengan nada gemas.

Sehingga uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia kini memakai istilah kurangi anggaran biaya pendidikan, kesehatan atau pembangunan, untuk menutupi utang pemerintah yang makin membekak.

“Ke depan, agar rakyat sejahtera pemerintah harus membuat sistem ekonomi Islam, dengan alat tukar emas atau  perak serta pengelolaan SDA. Pajak diubah dengan zakat dan infaq,” tutur mahasiswa yang sedang meraih gelar doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia.*