Dokter Muslim Harus Siap Layani Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah Suntani

Auditorium FKIK, UIN Online – Seorang dokter muslim merupakan bagian dari masyarakat Islam dan harus siap melayani seluruh masyarakat. Sebab, kedokteran islami bukan “islami” karena dilakukan seorang muslim, tetapi karena mencerminkan pandangan yang Islami dalam menjalankan praktek kedokteran. Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof Dr dr M K Tadjudin dalam Talk Show Dokter Muslim bertema Profil Ideal Dokter Muslim dan Implementasi dalam Etika Kedokteran yang diselenggarakan FKIK di Ruang Auditorium FKIK, Sabtu  (12/6).

Tadjudin menegaskan, hal yang perlu diingat seorang dokter muslim adalah selalu menanamkan nilai-nilai tauhid dan moralitas (kemanusiaan) sehingga dalam prakteknya  tidak hanya mengedepankan pengetahuan kedokteran, tapi juga menanamkan pengetahuan agama, sehingga dapat memberikan kenyamanan dan kepercayaan terhadap pasien. Hal itu juga bisa menjadi ladang dakwah.

“Hakikatnya kesehatan berasal dari Allah. Kita, dan kalian (peserta) sebagai calon dokter harus sadar bahwa keberadaan kita di bawah pengamatan Allah. Karena itu, sebagai dokter muslim hendaknya menjaga etika, moral, profesionalitas, serta menjaga keselamatan pasien,” tegasnya.

Agar menjadi dokter muslim yang ideal, lanjut Tajudin, semua alumni FKIK UIN Jakarta harus mengamalkan ilmu padi. Dalam hal ini, kata Tadjudin, I berarti Iman dan Integritas yakni, percaya kepada Allah dan menyatakan bahwa yang haram adalah haram dan sebaliknya. L berarti Loyalitas terhadap visi, misi FKIK serta terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan sebagai bukti ketauhidan dengan tetap memprioritaskan pada kesalehan sosial. M berarti mandiri yakni, atas kemampuan sendiri serta tidak melepaskan tanggungjawab. U berarti unggul yakni, meningkatkan kualitas kompetensi pada Iptek yang berlandaskan iman dan taqwa.

Sedangkan, padi, P berarti profesional yakni, bekerja secara profesional, efektif, efisien, dan optimal untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. A berarti amanah yakni, bekerja dengan kejujuran dan dapat dipercaya untuk mewujudkan kesehatan lahir dan batin. D berarti disiplin yakni, tepat waktu dan istiqomah (konsisten). I berarti ikhlas yakni, bekerja tanpa pamrih, tulus, tidak takabur, tidak merendahkan pihak lain dan tetap rido serta sabar dalam menerima hasil sebagai ketetapan yang terbaik dari Allah.

Direktur Rumah Sakit al-Islam Specialist Hospital dr Hanny Ronosulistyo Sp OG MM menyatakan, seorang dokter muslim harus berupaya secara maksimal untuk menjadikan al-Quran dan al-Hadis sebagai pedoman serta meneladani sifat Rasulullah SAW dalam menjalankan tugas profesinya. Sebab, Islam mengatur semua aspek kehidupan, termasuk akhlak dan kedokteran. tinggal bagaimana mengaplikasikan tata aturan (Islam) itu dalam wilayah profesi. Dengan demikian dokter muslim tidak hanya untuk orang muslim namun melingkupi seluruh masyarakat (non muslim).

“Jika kita ingin menjadi seorang dokter muslim, maka figur yang tepat untuk kita teladani adalah Nabi, karena etika dokter muslim adalah etika Rosulullah saw,” tegas pria yang kelahiran Belanda itu. []

Dokter Muslim Harus Siap Layani Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah Suntani

Auditorium FKIK, UIN Online – Seorang dokter muslim merupakan bagian dari masyarakat Islam dan harus siap melayani seluruh masyarakat. Sebab, kedokteran islami bukan “islami” karena dilakukan seorang muslim, tetapi karena mencerminkan pandangan yang Islami dalam menjalankan praktek kedokteran. Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof Dr dr M K Tadjudin dalam Talk Show Dokter Muslim bertema Profil Ideal Dokter Muslim dan Implementasi dalam Etika Kedokteran yang diselenggarakan FKIK di Ruang Auditorium FKIK, Sabtu  (12/6).

Tadjudin menegaskan, hal yang perlu diingat seorang dokter muslim adalah selalu menanamkan nilai-nilai tauhid dan moralitas (kemanusiaan) sehingga dalam prakteknya  tidak hanya mengedepankan pengetahuan kedokteran, tapi juga menanamkan pengetahuan agama, sehingga dapat memberikan kenyamanan dan kepercayaan terhadap pasien. Hal itu juga bisa menjadi ladang dakwah.

“Hakikatnya kesehatan berasal dari Allah. Kita, dan kalian (peserta) sebagai calon dokter harus sadar bahwa keberadaan kita di bawah pengamatan Allah. Karena itu, sebagai dokter muslim hendaknya menjaga etika, moral, profesionalitas, serta menjaga keselamatan pasien,” tegasnya.

Agar menjadi dokter muslim yang ideal, lanjut Tajudin, semua alumni FKIK UIN Jakarta harus mengamalkan ilmu padi. Dalam hal ini, kata Tadjudin, I berarti Iman dan Integritas yakni, percaya kepada Allah dan menyatakan bahwa yang haram adalah haram dan sebaliknya. L berarti Loyalitas terhadap visi, misi FKIK serta terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan sebagai bukti ketauhidan dengan tetap memprioritaskan pada kesalehan sosial. M berarti mandiri yakni, atas kemampuan sendiri serta tidak melepaskan tanggungjawab. U berarti unggul yakni, meningkatkan kualitas kompetensi pada Iptek yang berlandaskan iman dan taqwa.

Sedangkan, padi, P berarti profesional yakni, bekerja secara profesional, efektif, efisien, dan optimal untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. A berarti amanah yakni, bekerja dengan kejujuran dan dapat dipercaya untuk mewujudkan kesehatan lahir dan batin. D berarti disiplin yakni, tepat waktu dan istiqomah (konsisten). I berarti ikhlas yakni, bekerja tanpa pamrih, tulus, tidak takabur, tidak merendahkan pihak lain dan tetap rido serta sabar dalam menerima hasil sebagai ketetapan yang terbaik dari Allah.

Direktur Rumah Sakit al-Islam Specialist Hospital dr Hanny Ronosulistyo Sp OG MM menyatakan, seorang dokter muslim harus berupaya secara maksimal untuk menjadikan al-Quran dan al-Hadis sebagai pedoman serta meneladani sifat Rasulullah SAW dalam menjalankan tugas profesinya. Sebab, Islam mengatur semua aspek kehidupan, termasuk akhlak dan kedokteran. tinggal bagaimana mengaplikasikan tata aturan (Islam) itu dalam wilayah profesi. Dengan demikian dokter muslim tidak hanya untuk orang muslim namun melingkupi seluruh masyarakat (non muslim).

“Jika kita ingin menjadi seorang dokter muslim, maka figur yang tepat untuk kita teladani adalah Nabi, karena etika dokter muslim adalah etika Rosulullah saw,” tegas pria yang kelahiran Belanda itu. []