Maizan Khairun Nissa, dokter muda (co-assistant/coas) Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), UIN Jakarta meluncurkan novel Mimpi. Asa. Cinta di Auditorium FKIK, Senin (02/10). Novel ‘kedokteran’

Maizan Khairun Nissa, dokter muda (co-assistant/coas) Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), UIN Jakarta meluncurkan novel Mimpi. Asa. Cinta di Auditorium FKIK, Senin (02/11). Novel ‘kedokteran’

Gd. FKIK, BERITA UIN Online— Maizan Khairun Nissa, dokter muda (co-assistant/coas) Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), UIN Jakarta meluncurkan novel Mimpi. Asa. Cinta di Auditorium FKIK, Senin (02/10). Novel ‘kedokteran’ setebal 228 halaman ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, sejak Oktober lalu.

Dalam peluncurannya, dokter muda di RSUP Fatmawati ini mengungkapkan, novelnya merupakan konstruksi atas catatan-catatan kecilnya selama menjalani tugas dokter muda di sebuah rumah sakit di Jakarta. Selama proses tersebut, ia menyaksikan sekaligus menjalani sendiri pergulatan seorang dokter muda menghadapi berbagai permasalahan di rumah sakit.

“Novel ini lahir dari banyak catatan kecil selama menjadi dokter muda. Banyak sisi-sisi menarik yang bisa diungkap, bagaimana seorang dokter muda mengawali ‘dunianya’,” tuturnya.

Alur cerita novel ini mengisahkan dua dokter muda, dr Andra dan dr Zanis, yang tumbuh bersama sejak masih duduk di bangku kuliah hingga bersama-sama menjalani prosescoasdi sebuah rumah sakit. Dan, melalui dua tokohnya ini, Maizan ingin menampilkan satu per satu masalah yang dihadapi seorang dokter muda.

Salahsatunya, jam kerja 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Pola kerja demikian menjadi ironis. Sebab di satu sisi mereka berkutat memulihkan kesehatan pasien, namun di saat yang sama sumpah profesi mengharuskan mereka ‘mengorbankan’ kesehatan sendiri.

“Tanpa menafikan profesi lain di luar bidang kedokteran, seperti tanpa jeda, dokter bekerja 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu,” ungkapnya.

Masalah lain, para dokter muda juga ‘wajib’ bersikap baik dan memberikan pelayanan semaksimal mungkin bagi para pasien dengan karakter yang beragam. Padahal sebagai dokter muda, mereka masih butuh jam terbang tinggi dalam menangani pasien. Bahkan sebagai manusia, seorang dokter juga tetap tidak bisa lepas dari batas-batas kemanusiannya seperti kesedihan, kesepian, dan keinginan berada di dekat orang-orang tercinta.

“Dalam kondisi apapun, kita dituntut berinteraksi baik dengan pasien dan keluarga pasien dengan karakter yang beragam. Menekan ego untuk memberikan kerja terbaik bagi manusia sesuai sumpah profesi,” terang Maizan.

Lebih dari itu, seorang dokter juga dituntut untuk lebih mengedepankan tanggungjawab kemanusiaan dibanding motif pribadi. Seorang dokter harus melupakan amarah, dendam, sesal, dan muak, termasuk kepada pasien yang pernah membuatnya sakit dan menderita batin di sepanjang hidupnya.

Namun, lepas dari seluruh masalah yang dihadapi, para dokter muda -seperti halnya juga penulis- menyadari betul bahwa profesi dokter bukanlah profesi ‘gagah-gagahan’. Bahkan pilihan kuliah kedokteran juga bukan hanya karena pintar atau harapan mendatangkan banyak materi dan penghormatan manusia. Sebaliknya, menjadi dokter merupakan amanat Tuhan untuk berbuat baik bagi sesama.

Dalam hal ini, penulis menyelipkan pesan dalam ungkapan tokoh Andra: “Menjadi dokter itu bukan hanya kepintaran, tapi sebuah kesempatan dari Tuhan. Bersyukurlah, dengan begitu, kamu bisa ikhlas menjabat erat tangan takdir-Nya.”

Bagi keyboardist sekaligus penulis lagu The Doctor’s Project ini, novel Mimpi. Asa. Cinta merupakan novel awal yang ditulisnya sendiri. Perempuan kelahiran Cilegon, 24 Mei 1992 ini bertekad ingin melahirkan banyak karya sastra lainnya. “Bagi saya, menulis adalah hak. Hak yang harus dipenuhi sesegera mungkin,” pungkasnya. (ZM)

Share This