Dirjen Kesbangpol: “Kehidupan Beragama Sangat Kompleks”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Gedung Kopertais, UINJKT Online – Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik (Dirjen Kesbangpol) Departemen Dalam Negeri Dr Ir Sudarsono mengatakan, kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia diakui sangat kompleks. Kompleksitas itu disebabkan oleh sedikitnya dua faktor.

Pertama, pemahaman di antara anggota masyarakat tentang makna hakiki “kebebasan beragama dan menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing” sangat beragam. Kedua, dalam UUD 1945 sendiri terdapat pembatasan atas pelaksanaan hak dan kebebasan yang ditetapkan dengan undang-undang yang tidak selalu dipahami dan disikapi secara sama di antara warga negara. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan perbedaan persepsi yang seringkali tajam di tengah masyarakat atas suatu permasalahan tertentu.

“Tak jarang kita menyaksikan dinamika yang sangat tinggi, yang apabila tidak kita sikapi secara proporsional justru akan bersifat kontraproduktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” papar Sudarsono saat menjadi keynote speech yang dibacakan Direktur Fasilitasi Organisasi dan Politik Kemasyarakatan Depdagri Dr Suhatmansyah IS pada dialog interaktif tentang kerukunan hidup dalam konsepsi pemuda lintas agama dan etnis di Gedung Kopertais Kampus UIN Jakarta, Selasa (29/7).

Padahal, menurut dia, wujud dari empat kebangaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, antara lain adalah kerukunan nasional, yang salah satunya adalah kerukunan kehidupan umat beragama, baik kerukunan intern maupun antarumat beragama. “Kokohnya kerukunan kehidupan umat beragama ini pada gilirannya akan menyumbang pada terwujudnya ketentraman dan ketertiban masyarakat,” katanya.

Oleh sebab itu, imbuhnya, menghadapi berbagai persoalan yang kompleks di tengah masyarakat diperlukan sikap arif dan bijaksana dari semua pihak. Karena pada dasarnya kearifan ini adalah bagian integral watak bangsa, termasuk dalam aspek wawasan kebangsaan dan cinta tanah air.

Dialog interaktif tentang kerukunan yang digelar Pusat Kajian Kepemimpinan, Kependidikan, dan Kepemudaan (PK3) UIN Jakarta ini menghadirkan pembicara dari berbagai tokoh agama dan perwakilan etnis. Antara Pendeta Sukanto Limbong (PGI), Wayan Suwira Satrua (PHDI), Xs Buanadjaja (MATAKIN), dan Dr Amin Nurdin (UIN Jakarta). Sedangkan dari unsur etnis di antaranya Prof Dr Ihsan Tanggok (Dayak, Kalbar), Humaidi Ahmad (Madura), Husni Mubarok (Betawi), dan Dra Raudhah MPd (Melayu). (ns)

Dirjen Kesbangpol: “Kehidupan Beragama Sangat Kompleks”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Gedung Kopertais, UINJKT Online – Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik (Dirjen Kesbangpol) Departemen Dalam Negeri Dr Ir Sudarsono mengatakan, kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia diakui sangat kompleks. Kompleksitas itu disebabkan oleh sedikitnya dua faktor.

Pertama, pemahaman di antara anggota masyarakat tentang makna hakiki “kebebasan beragama dan menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing” sangat beragam. Kedua, dalam UUD 1945 sendiri terdapat pembatasan atas pelaksanaan hak dan kebebasan yang ditetapkan dengan undang-undang yang tidak selalu dipahami dan disikapi secara sama di antara warga negara. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan perbedaan persepsi yang seringkali tajam di tengah masyarakat atas suatu permasalahan tertentu.

“Tak jarang kita menyaksikan dinamika yang sangat tinggi, yang apabila tidak kita sikapi secara proporsional justru akan bersifat kontraproduktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” papar Sudarsono saat menjadi keynote speech yang dibacakan Direktur Fasilitasi Organisasi dan Politik Kemasyarakatan Depdagri Dr Suhatmansyah IS pada dialog interaktif tentang kerukunan hidup dalam konsepsi pemuda lintas agama dan etnis di Gedung Kopertais Kampus UIN Jakarta, Selasa (29/7).

Padahal, menurut dia, wujud dari empat kebangaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, antara lain adalah kerukunan nasional, yang salah satunya adalah kerukunan kehidupan umat beragama, baik kerukunan intern maupun antarumat beragama. “Kokohnya kerukunan kehidupan umat beragama ini pada gilirannya akan menyumbang pada terwujudnya ketentraman dan ketertiban masyarakat,” katanya.

Oleh sebab itu, imbuhnya, menghadapi berbagai persoalan yang kompleks di tengah masyarakat diperlukan sikap arif dan bijaksana dari semua pihak. Karena pada dasarnya kearifan ini adalah bagian integral watak bangsa, termasuk dalam aspek wawasan kebangsaan dan cinta tanah air.

Dialog interaktif tentang kerukunan yang digelar Pusat Kajian Kepemimpinan, Kependidikan, dan Kepemudaan (PK3) UIN Jakarta ini menghadirkan pembicara dari berbagai tokoh agama dan perwakilan etnis. Antara Pendeta Sukanto Limbong (PGI), Wayan Suwira Satrua (PHDI), Xs Buanadjaja (MATAKIN), dan Dr Amin Nurdin (UIN Jakarta). Sedangkan dari unsur etnis di antaranya Prof Dr Ihsan Tanggok (Dayak, Kalbar), Humaidi Ahmad (Madura), Husni Mubarok (Betawi), dan Dra Raudhah MPd (Melayu). (ns)