Dinamika Dunia Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Meminjam istilah Mahmud Jabiry, ada tiga ideologi yang menjadi sumber dinamika sejarah Islam, yaitu kabilah, ganimah, dan akidah.

Sejak masa pra-Islam hingga kini, semangat, ideologi, dan identitas kabilah, suku, dan etnis masih kental dan memiliki peran signifikan dalam dinamika sosial dunia Islam. Jika ada pandangan kehadiran Islam seharusnya menghilangkan ideologi kabilahisme dan semua umat Islam menjadi suatu komunitas seiman yang disebut ummah, pertanyaannya, mengapa kabilahisme-dinastiisme masih kuat?

Bukankah nama kerajaan Arab Saudi, misalnya, adalah bukti negara itu milik keluarga Ibnu Saud? Juga negara tetangganya, seperti Jordania, Maroko, atau negara teluk, semua membenarkan, kabilahisme tidak hilang meski Islam lahir dan berkembang di kawasan Timur Tengah.

Demi harga diri dan solidaritas kabilahnya, masyarakat Arab pra-Islam siap berperang sebelum kedua pihak imbang korbannya atau berdamai dengan tebusan unta yang banyak. Jadi, di Timur Tengah, hingga hari ini selalu terlibat peperangan, jangan segera ditafsirkan perang membela agama. Siapa tahu, yang menonjol adalah semangat kabilahisme.

Adapun arti harfiah ganimah adalah harta rampasan, keuntungan dari peperangan. Dalam sejarah Islam, mereka yang ikut berperang tidak semuanya dimotivasi agama, tetapi menginginkan harta rampasan. Bahkan, godaan untuk mengumpulkan ganimah ini pernah terjadi semasa Rasulullah dalam perang Uhud sehingga tentara Islam kalah perang karena beberapa pos strategis untuk menghadang musuh ditinggalkan, karena ingin berebut harta rampasan.

Perpaduan spirit membela kabilah dan mengejar ganimah, dibalut dengan misi keagamaan (akidah), juga secara nyata ditunjukkan oleh imperialisme dan kapitalisme Barat pada abad lalu yang memperluas daerah koloni sambil menyebarkan agama. Namun, yang kini cukup menonjol adalah motivasi ganimah dan samar-samar didukung sentimen nasionalisme (neo-kabilah) dan keyakinan agama (akidah).

Agresi Israel di Palestina mungkin merupakan contoh sempurna perpaduan militansi kabilah dan ganimah, minus akidah sebab agama Yahudi hanya dipeluk eksklusif berdasarkan keturunan darah. Begitu pun keterlibatan Amerika Serikat mungkin lebih dimotivasi kepentingan nasionalis dan ekonomi, spirit membela supremasi kabilah dan mengejar ganimah.

Radikalisme akidah

Meski jumlahnya kecil, dalam sejarah Islam ada sekelompok gerakan radikal yang dimotivasi keyakinan agama atau akidah, seperti kelompok Khawarij. Selain lahir dalam situasi konflik, mereka memahami dalil-dalil agama secara harfiah. Epistemologi agama yang mereka bangun dan pahami selalu bersifat konfliktual sehingga secara mental selalu merasa dalam bahaya dan siap mati untuk perang melawan musuh yang berbeda agama.

Dapat bayangkan, betapa militannya jika ketiga ideologi itu menyatu. Berperang membela etnis, ditopang semangat mempertahankan sumber ekonomi, disublimasi jargon jihad perang suci membela agama Tuhan, maka laskar jihad Islam sama sekali tidak gentar mati meski hanya bersenjata pedang, panah, ketepel, atau bom molotov. Bahkan dengan bom bunuh diri pun.

Namun, memasuki era baru di mana pergaulan dunia kian mengarah pada ”kekamian” dan ”kekitaan”, memahami agama secara rigid dan harfiah sulit dipertahankan. Kini kian menguat kesadaran global bahwa kita semua bersaudara, karena hidup ”bersaudara”, apa pun asal etnis dan keyakinan agamanya.

Semua harus bertanggung jawab menciptakan perdamaian, kesejahteraan, dan menjaga lingkungan sehat. Melampiaskan naluri primitif untuk saling menghancurkan hanya akan menghancurkan kita. Rumah-rumah etnis, bangsa, dan negara mutlak diperlukan sebagai tempat kita lahir, tumbuh, meneruskan regenerasi serta membangun kehidupan sosial.

Jika internal dunia Islam saja tidak mampu mengatur dan memberdayakan ideologi kabilah, ganimah, dan akidah untuk memajukan diri, sulit diharapkan peran dan kontribusinya dalam membangun peradaban pada tingkal global. Yang kemudian terjadi dinasti-dinasti dan negara-negara Muslim itu bertengkar berebut ganimah sehingga kekuatan kapitalisme Barat dengan mudah masuk ikut kenduri bahkan memperoleh bagian lebih besar.

Tengoklah, lebih dari separuh sumber minyak bumi yang diperlukan dunia ada di wilayah negara Muslim. Namun, karena mereka tidak mampu keluar dari kendala primordialisme sejarah lamanya, sulit tampil menjadi pemimpin dunia.

Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Jika desentralisasi tidak dilaksanakan hati-hati, akan memperkuat identitas kabilah dan berebut ganimah yang menggerogoti kohesi berbangsa dan bernegara. Keadaan diperparah eksklusivisme akidah, baik melalui perda-perda syariah maupun munculnya teroris yang mengaku membela Islam, tetapi justru menciptakan masalah bagi umat Islam sendiri.

Jika setiap kabupaten menerapkan perda syariah, di wilayah lain akan muncul perda-perda syariah yang berakar pada agama-agama di Indonesia. Apa jadinya bangsa ini jika semangat etnis kedaerahan (kabilah) dipadu eksklusivisme menguasai sumber ekonomi (ganimah), lalu dipagari perda syariah (akidah) yang belum tentu cocok bagi masyarakat Indonesia yang majemuk?

Secara antropologis, Islam lahir dan terbentuk pada lingkungan masyarakat padang pasir yang memiliki tradisi perang antarsuku, antara lain untuk memperebutkan sumber air, padang rumput, dan mempertahankan supremasi suku. Tradisi perang ini tidak berhenti meski berbagai agama lahir di situ, misalnya Yahudi, Nasrani, dan Islam. Karena itu, banyak ayat Al Quran yang merekam dan merespons tradisi konflik ini sehingga secara sepintas wacana Al Quran adalah menciptakan garis tegas hitam dan putih, mukmin melawan kafir. Di antara dikotomi mukmin dan kafir ini, ada komunitas abu-abu, yaitu ahlul kitab. Mereka beriman kepada Allah dan nabi sebelum Muhammad, tetapi mengingkari kenabian Muhammad. Maka, mereka disebut ahlul kitab.

Lagi-lagi, menurut Al Quran, sebagian mereka menolak kenabian Muhammad karena disebabkan eksklusivisme dan kesombongan kabilah. Ada perasaan gengsi, mengapa mereka menjadi pengikut Muhammad keturunan Hajar, seorang budak berkulit hitam, istri Nabi Ibrahim. Jadi, rupanya nalar itu tidak selalu menang dalam memperjuangkan kebenaran ketika diinterupsi oleh kepentingan kelompok dan kepentingan ekonomi.


Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, Sabtu, 17 Oktober 2009

Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Dinamika Dunia Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Meminjam istilah Mahmud Jabiry, ada tiga ideologi yang menjadi sumber dinamika sejarah Islam, yaitu kabilah, ganimah, dan akidah.

Sejak masa pra-Islam hingga kini, semangat, ideologi, dan identitas kabilah, suku, dan etnis masih kental dan memiliki peran signifikan dalam dinamika sosial dunia Islam. Jika ada pandangan kehadiran Islam seharusnya menghilangkan ideologi kabilahisme dan semua umat Islam menjadi suatu komunitas seiman yang disebut ummah, pertanyaannya, mengapa kabilahisme-dinastiisme masih kuat?

Bukankah nama kerajaan Arab Saudi, misalnya, adalah bukti negara itu milik keluarga Ibnu Saud? Juga negara tetangganya, seperti Jordania, Maroko, atau negara teluk, semua membenarkan, kabilahisme tidak hilang meski Islam lahir dan berkembang di kawasan Timur Tengah.

Demi harga diri dan solidaritas kabilahnya, masyarakat Arab pra-Islam siap berperang sebelum kedua pihak imbang korbannya atau berdamai dengan tebusan unta yang banyak. Jadi, di Timur Tengah, hingga hari ini selalu terlibat peperangan, jangan segera ditafsirkan perang membela agama. Siapa tahu, yang menonjol adalah semangat kabilahisme.

Adapun arti harfiah ganimah adalah harta rampasan, keuntungan dari peperangan. Dalam sejarah Islam, mereka yang ikut berperang tidak semuanya dimotivasi agama, tetapi menginginkan harta rampasan. Bahkan, godaan untuk mengumpulkan ganimah ini pernah terjadi semasa Rasulullah dalam perang Uhud sehingga tentara Islam kalah perang karena beberapa pos strategis untuk menghadang musuh ditinggalkan, karena ingin berebut harta rampasan.

Perpaduan spirit membela kabilah dan mengejar ganimah, dibalut dengan misi keagamaan (akidah), juga secara nyata ditunjukkan oleh imperialisme dan kapitalisme Barat pada abad lalu yang memperluas daerah koloni sambil menyebarkan agama. Namun, yang kini cukup menonjol adalah motivasi ganimah dan samar-samar didukung sentimen nasionalisme (neo-kabilah) dan keyakinan agama (akidah).

Agresi Israel di Palestina mungkin merupakan contoh sempurna perpaduan militansi kabilah dan ganimah, minus akidah sebab agama Yahudi hanya dipeluk eksklusif berdasarkan keturunan darah. Begitu pun keterlibatan Amerika Serikat mungkin lebih dimotivasi kepentingan nasionalis dan ekonomi, spirit membela supremasi kabilah dan mengejar ganimah.

Radikalisme akidah

Meski jumlahnya kecil, dalam sejarah Islam ada sekelompok gerakan radikal yang dimotivasi keyakinan agama atau akidah, seperti kelompok Khawarij. Selain lahir dalam situasi konflik, mereka memahami dalil-dalil agama secara harfiah. Epistemologi agama yang mereka bangun dan pahami selalu bersifat konfliktual sehingga secara mental selalu merasa dalam bahaya dan siap mati untuk perang melawan musuh yang berbeda agama.

Dapat bayangkan, betapa militannya jika ketiga ideologi itu menyatu. Berperang membela etnis, ditopang semangat mempertahankan sumber ekonomi, disublimasi jargon jihad perang suci membela agama Tuhan, maka laskar jihad Islam sama sekali tidak gentar mati meski hanya bersenjata pedang, panah, ketepel, atau bom molotov. Bahkan dengan bom bunuh diri pun.

Namun, memasuki era baru di mana pergaulan dunia kian mengarah pada ”kekamian” dan ”kekitaan”, memahami agama secara rigid dan harfiah sulit dipertahankan. Kini kian menguat kesadaran global bahwa kita semua bersaudara, karena hidup ”bersaudara”, apa pun asal etnis dan keyakinan agamanya.

Semua harus bertanggung jawab menciptakan perdamaian, kesejahteraan, dan menjaga lingkungan sehat. Melampiaskan naluri primitif untuk saling menghancurkan hanya akan menghancurkan kita. Rumah-rumah etnis, bangsa, dan negara mutlak diperlukan sebagai tempat kita lahir, tumbuh, meneruskan regenerasi serta membangun kehidupan sosial.

Jika internal dunia Islam saja tidak mampu mengatur dan memberdayakan ideologi kabilah, ganimah, dan akidah untuk memajukan diri, sulit diharapkan peran dan kontribusinya dalam membangun peradaban pada tingkal global. Yang kemudian terjadi dinasti-dinasti dan negara-negara Muslim itu bertengkar berebut ganimah sehingga kekuatan kapitalisme Barat dengan mudah masuk ikut kenduri bahkan memperoleh bagian lebih besar.

Tengoklah, lebih dari separuh sumber minyak bumi yang diperlukan dunia ada di wilayah negara Muslim. Namun, karena mereka tidak mampu keluar dari kendala primordialisme sejarah lamanya, sulit tampil menjadi pemimpin dunia.

Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Jika desentralisasi tidak dilaksanakan hati-hati, akan memperkuat identitas kabilah dan berebut ganimah yang menggerogoti kohesi berbangsa dan bernegara. Keadaan diperparah eksklusivisme akidah, baik melalui perda-perda syariah maupun munculnya teroris yang mengaku membela Islam, tetapi justru menciptakan masalah bagi umat Islam sendiri.

Jika setiap kabupaten menerapkan perda syariah, di wilayah lain akan muncul perda-perda syariah yang berakar pada agama-agama di Indonesia. Apa jadinya bangsa ini jika semangat etnis kedaerahan (kabilah) dipadu eksklusivisme menguasai sumber ekonomi (ganimah), lalu dipagari perda syariah (akidah) yang belum tentu cocok bagi masyarakat Indonesia yang majemuk?

Secara antropologis, Islam lahir dan terbentuk pada lingkungan masyarakat padang pasir yang memiliki tradisi perang antarsuku, antara lain untuk memperebutkan sumber air, padang rumput, dan mempertahankan supremasi suku. Tradisi perang ini tidak berhenti meski berbagai agama lahir di situ, misalnya Yahudi, Nasrani, dan Islam. Karena itu, banyak ayat Al Quran yang merekam dan merespons tradisi konflik ini sehingga secara sepintas wacana Al Quran adalah menciptakan garis tegas hitam dan putih, mukmin melawan kafir. Di antara dikotomi mukmin dan kafir ini, ada komunitas abu-abu, yaitu ahlul kitab. Mereka beriman kepada Allah dan nabi sebelum Muhammad, tetapi mengingkari kenabian Muhammad. Maka, mereka disebut ahlul kitab.

Lagi-lagi, menurut Al Quran, sebagian mereka menolak kenabian Muhammad karena disebabkan eksklusivisme dan kesombongan kabilah. Ada perasaan gengsi, mengapa mereka menjadi pengikut Muhammad keturunan Hajar, seorang budak berkulit hitam, istri Nabi Ibrahim. Jadi, rupanya nalar itu tidak selalu menang dalam memperjuangkan kebenaran ketika diinterupsi oleh kepentingan kelompok dan kepentingan ekonomi.


Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, Sabtu, 17 Oktober 2009

Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta